SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Menurut seorang pendeta, bangsa Israel pertama kali menaikkan pujian ketika mereka telah menyeberangi Laut Merah. Pada waktu itu, Musa bersama-sama dengan orang Israel menaikkan pujian kepada Tuhan (Kel 15:2-18).
Pujian itu merupakan ungkapan rasa syukur mereka atas penyelamatan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.
Baca juga: Toleransi Praktis Umat Kristiani Hormati Bulan Puasa
Juga pada zaman Perjanjian Baru, puji-pujian kepada Tuhan tetap dilakukan.
Setelah mengadakan perjamuan malam bersama murid-murid-Nya, Yesus menyanyikan kidung pujian (Mat 26:30). Rasul Paulus pun demikian. Ketika ia dan Silas sedang berada di dalam penjara, mereka juga menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan. Paulus mendorong kita untuk menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, bahkan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati (Kol 3:16; Ef 5:19). Kelak malaikat dan orang-orang kudus-Nya akan menyanyikan suatu nyanyian baru bagi Tuhan (Why 5:9).
Saya pahami, Gereja pun dipahami sebagai persekutuan orang percaya yang dikumpulkan oleh Kristus. Di dalam kehadirannya di dunia tidak lepas dari kebudayaan lokal yang mengelilinginya.
Gereja lokal biasanya tumbuh dan berkembang tidak lepas dari kebudayaan lokal yang ada di sekitarnya. Misalnya di Jawa yaitu budaya Jawa. Para tokoh pada waktu itu di dalam mengkabarkan Injil di Jawa Timur, misalnya juga menggunakan kebudayaan lokal. Seperti yang dilakukan oleh Coolen.
Baca juga: Orang-orang Curang
Coolen pada waktu itu di dalam menyampaikan cerita Alkitab mengunakan media wayang dengan bahasa Jawa Krama Inggil (bahasa Jawa halus). Dan dengan diiringi musik Jawa yaitu gamelan. Oleh karena itu warga jemaat sebuah gereja masih mempunyai pandangan bahwa gereja lokal seperti GKJW adalah gereja etnis Jawa yang musik dan nyanyiannya harus bernuansa Jawa.
Bahkan selektif dalam memilih iringan musik di dalam ibadah minggu. Jadi musik gerejawi menjadi benar maknanya bila dipahami berdasarkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam firman Allah.
Dengan memiliki pemahaman yang benar akan makna, tujuan, siapa, dan bagaimana serta kapan musik gerejawi itu dilakukan, adalah penyembahan kita kepada Allah melalui musik dan nyanyian. Ini akan membangun iman dan memuliakan Allah.
Baca juga: Kebenaran Sesungguhnya
Saya percaya, musik dan nyanyian gerejawi mutlak didasari oleh kehendak Allah. Musik gerejawi bukan merupakan pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap gereja sebagai respon atas karya penebusan Allah dalam hidupnya. Musik dan nyanyian gerejawi bukan dalam rangka sebagai pengantar antar unsur yang satu dengan unsur lainnya dalam sebuah susunan acara liturgi. Juga bukan pula dalam rangka suatu aktivitas kegiatan bersama yang menyenangkan untuk menyanyikan lagu-lagu kesayangan.
Perjumpaan dengan Allah melalui karya pemeliharaan-Nya pada setiap waktu, itulah yang menjadi motor yang menggerakkan musik dan nyanyian pujian kepada Allah. Puji Tuhan. (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham