SURABAYAPAGI.com, Jombang - Para petani melon premium di Desa Wuluh Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang mulai sumringah kebanjiran cuan. Pasalnya melon premium tersebut menjadi buah primadona yang banyak dicari dan disukai konsumen.
Saifur (34), salah satu petani setempat menggunakan metode green house atau rumah tanam. Dirinya pun menyortir buah melon yang baru saja dipetik. Ukurannya besar, warnanya menawan, rasanya menyegarkan.
Baca juga: Serangan Kasus Hama Kresek Naik di Awal Musim Tanam, Petani di Jombang Ketar-ketir
Sedangkan pola tanam, Saifur menggunakan hidroponik dan pola pertanian modern yang minim pestisida. Lahan tersebut ditanami buah melon premium jenis inthanon, kingsho dan sweetness.
Untuk jumlah totalnya 1800 batang. Diketahui, melon premium kingsho dan sweetness umurnya 55 hari. Sedangkan inthanon umur 65 hari baru bisa dipanen.
Baca juga: Harga Kedelai Naik di Jombang, Pengelola Bisnis Tahu: Biasa Aja, Tidak Berdampak
“Perawatan mulai dari bibit, pengerjaan lahan hingga ongkos pekerja satu kali tanam menyedot biaya Rp 8 sampai Rp 10 juta,” katanya, Senin (29/07/2024).
Namun demikian, menanam melon premium bukan tanpa kendala. Salah satunya adalah hama. Karena meski memakai metode green house, hama masih bisa masuk. Jenis hama itu meliputi trip, kutu kebul dan walang sangit.
Baca juga: Mitos Situs Sendang Made Jombang, Perpaduan Wisata Sejarah dan Legenda yang Kuat
“Sekali panen pada 1800 tanaman melon premium bisa menghasilkan 2,5 ton. Harganya, kalau retail Rp 25 ribu. Sedangkan non-retail tentu harganya berbeda. Kalau ke pabrik harganya bisa lebih turun lagi karena pengambilan lebih banyak mulai 1 ton hingga 1,5 ton,” kata Saifur.
Lebih lanjut, Saifur mengungkapkan, selain Jombang, buah yang rasanya segar dan manis itu juga dipasarkan setiap satu Minggu hingga dua Minggu sekali ke Surabaya, Malang, Pasuruan, Mojokerto dan Sidoarjo. jb-01/dsy
Editor : Desy Ayu