SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Luar biasa pola gerak Pemdes Kedung Sukodani dalam menyatukan warganya dalam upaya menciptakan masyarakat guyub rukun dan gotong royong dalam melestarikan budaya asli Sidoarjo, yakni melanggengkan wayang kulit gaya Sidoarjoan yang akrab disebut 'Gagrak Porongan' yang dipentaskan di Dusun Kedung Mojo RW 04 Desa Kedung Sukodani, Balongbendo, Sabtu (4/8).
Dalam sambutanya Kades Kedung Sukodani, Ahmad Jumahadi mengucapkan banyak terima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo yang mampu bekerja sama menghadirkan pagelaran wayang kulit Gagrak Porongan di desanya.
Baca juga: Pemdes Klurak Gelar Pelantikan Jabatan Perangkat Desa Klurak
"Kami ucapkan banyak terimakasih kepada Dikbud Sidoarjo, segenap tamu hadirin dan pejabat Forkopimka Balongbendo yang hadir serta kami mengapresiasi guyub rukun masyarakat Dusun Mojo yang kompak melestarikan budaya warisan leluhur ini" tandasnya.
Baca juga: Pemdes Sumberejo Gelar Pagelaran Wayang Kulit Meriahkan Tradisi Ruwah Desa
Senada hal tersebut, Camat Balongbendo, Farhan juga menyambut baik atas kegiatan pelestarian budaya wayang gagrak porongan di Desa Kedung Sukodani," Kegiatan uri uri budaya ini sangat bagus sekali karena masyarakat bisa menghargai budaya sendiri di tengah gempuran budaya global melalui gadget yang hampir menggradasi budaya lokal" ujar Farhan.
Baca juga: Rehab Berat SDN Sepanjang 2 Taman Harus Berkualitas
Sementara itu dalam pagelaran wayang gagrak porongan yang dipandu oleh Dalang Ki Hadiyono sangat memukau masyarakat yang hadir dengan piawai memainkan lakon 'Anoman tambah umur'.Sang Kera Putih, Anoman dianugerahi umur panjang. Putra Dewi Anjani telah hidup sejak masa Prabu Rama Wijaya dalam kisah pewayangan Ramayana. Setelah menumpas angkara murka berwujud Dasamuka di Alengkadiraja bersama Prabu Rama Wijaya, anoman menjadi seorang pandhita di Pertapan Kendalisada. Di pertapaan ini, Anoman masih hidup hingga masa Mahabaratha yang terpaut ratusan tahun. Hdk/hik
Editor : Moch Ilham