Stop Impor Beras, Tulungagung Jadi Kontributor Terbesar Sektor Pertanian Jatim

surabayapagi.com
Ilustrasi. Para petani tengah menanam komoditas padi di Tulungagung, Jawa Timur. SP/ TLG

SURABAYAPAGI.com, Tulungagung - Pj Bupati Tulungagung Heru Suseno turut bangga atas capaian para petani di wilayahnya. Pasalnya, surplus hasil panen bisa didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia. Sehingga pihaknya bakal mengerem alokasi beras impor ke Jawa Timur (Jatim).

“Tulungagung kan salah satu kantong produksi padi di Jatim, di samping Ngawi, Lamongan, dan Kediri,” ujar Pj Bupati Heru, Minggu (20/10/2024).

Baca juga: Diduga Panic Buying, Warga Ngunut Tulungagung Keluhkan Kelangkaan LPG Subsidi 3 Kg

Diketahui, produksi padi Jatim di tahun ini mencapai sekitar 9,7 juta ton atau setara dengan beras sekitar 5,75 juta ton. Itu jadi yang tertinggi di Indonesia. Jumlah ini menyumbang sekitar 17,9 persen padi di Indonesia.

“Kontribusi kita 17,9 persen tertinggi di Indonesia. Belum lagi kalau kita bicara produksi daging sapi atau telur,” imbuhnya.

Baca juga: Sebelum Lebaran 2026, Pemkab Tulungagung Targetkan Perbaikan Jalan Rusak Rampung

Dari jumlah itu, wilayah Tulungagung jadi salah satu kontributor terbesar di sektor pertanian. Sehingga, untuk menambah area tanam di wilayah Tulungagung. Beberapa di antaranya melalui penerapan bantuan pompa dan irigasi perpompaan.

“Tujuannya agar pada saat musim kemarau tetap bisa tanam,” ujar laki-laki yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jatim ini.

Baca juga: Lantik 27 Pejabat Fungsional, Bupati Gatut Ingatkan Jangan Cuma Datang Absen

Tak hanya itu, swasembada beras dalam kurun waktu tiga tahun ke depan jadi target pemerintah. Itu sebabnya, surplus beras bakal didistribusikan ke berbagai wilayah lain. Tentu hal ini bisa dilakukan usai pemprov memastikan kebutuhan pangan warga Jatim sudah terpenuhi.

“Makanya target pemerintah pusat sampai tiga tahun ke depan itu harus swasembada pangan. Supaya beras yang jadi konsumsi utama warga Indonesia itu bisa diswasembada. Jatim tidak pernah mau terima beras impor. Dari dulu begitu, karena kita sudah surplus. Surplus itu di-share ke 19 provinsi di Indonesia,” jelasnya. tl-01/dsy

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru