SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Sabtu hari ini kita umat Islam, mulai menjalani ibadah puasa. Ritualitas puasa ini akan kita jalani sebulan penuh.
Puasa Ramadan adalah kewajiban umat Islam yang harus dilakukan setiap tahun.
Baca juga: Pimpinan BUMN Akal-akalan, Perlu Diungkap Modusnya
Ajaran ayah-kakek dan buyut, puasa dapat menjadi sarana untuk mengendalikan hawa nafsu.
Saat memulai ritualitas puasa, saya selalu diajak melakukan tafakur. Ya melakukan renungan renungan mengapa kita mesti berpuasa. Mengapa sebagai anak tidak boleh melakukan durhaka pada orung tua kita.
Saya pun sering diajak teman memikirkan, mengingat dan menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh, mengapa setiap ramadan diwajibkan berpuasa?.
Ajaran Islam mengingatkan bahwa puasa Ramadan adalah wajib bagi umat Islam. Sejak kecil, ayah-kakek-buyut saya, mengajarkan puasa diwajibkan karena merupakan rukun Islam yang ke-5 dan perintah dari Allah SWT.
Diingatkannya, puasa Ramadan bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan umat Islam kepada Allah SWT. ini yang selalu membuat saya berpikir, mengingat dan menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh arti
meningkatkan ketakwaan umat Islam kepada Allah SWT yang sesungguh sungguhnya.
***
Apa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT yang sesungguh sungguhnya itu hanya menjaga diri agar tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang Allah?. Ayah saya bilang, tidak cukup satu itu. Banyak larangan bagi umat muslim yang menjalani puasa.
Cara meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, di antaranya:
Memperbaiki salat, terutama salat lima waktu.
Menjaga kebersihan hati dan selalu merasa bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu tentang apa yang kita perbuat.
Diminta menjauhi perbuatan maksiat. Dianjurkan bergaul dengan orang orang sholeh.
Terutama nenahan hawa nafsu. Bersedekah, baik dalam waktu lapang maupun sempit.
Memaafkan orang lain. Bertaubat kepada Allah ketika hendak bermaksiat.
Lalu apa saja larangan Allah kepada kita?
Allah SWT melarang berbagai perbuatan, di antaranya:
Syirik: Menyekutukan Allah SWT dengan kekuatan lain
Durhaka: Berbuat tidak baik kepada orang tua, guru, dan orang tua lain.
Zina: Melakukan perbuatan zina, baik yang tampak maupun yang tidak tampak
Minum minuman keras: Minum minuman keras dan mabuk-mabukan
Membohongi : Berbohong, menjadi saksi palsu, atau menolak nasihat.
Bergunjing: Membicarakan keburukan orang lain atau ghibah.
Mengolok-olok: Mengolok-olok orang lain
Membuat kerusakan: Merusak pergaulan, jasmani, dan rohani orang lain.
Memutuskan silaturahim: Memutuskan hubungan silaturahim
Kikir: Pelit atau tidak berbuat baik kepada orang tua
Selain itu, Allah SWT juga melarang:
Baca juga: Berharap Eks Menag Dihukum Berat
Membantah nasihat dari orang tua dengan kata-kata kasar.
Tidak bersikap tawadhu kepada orang tua.
Lupa mendoakan orang tua yang masih hidup atau sudah meninggal.
***
Bagi saya, tasyakur adalah rasa syukur atau terima kasih kepada Allah SWT atas nikmat atau keberkahan yang saya terima. Kakek-buyut saya, setelah bertasyakur, sering melakukan tasyakuran. Ritual untuk mengungkapkan rasa syukur tersebut.
Orang melakukan tasyakur untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Juga mengakui dan menunjukkan adanya nikmat Allah ke dalam diri kita.
Kata ayah-kakek dan buyut saya, bersyukur bisa diungkapkan dengan lisan, maupun lewat hati.
***
Puasa, yang berarti "menahan" diri dari perbuatan-perbuatan yang lazim dilakukan, adalah bagian dari lakon keheningan.
Betapa tidak? keramaian selalu diisi dengan aktivitas konsumtif. Sementara makanan dan minuman adalah produk konsumtif yang paling "mendasar". Tanpa keduanya, biasanya keramaian sulit terlaksana.
Puasa saya rasakan menyajikan realitas simbolik bahwa dengan kemampuan untuk menahan diri dari mengonsumsi ihwal yang paling "mendasar" yaitu mengendalikan banyak hal soal hawa nafsu. Setiap usai menjalankan puasa sebulan penuh, saya berada dalam retret, mengendalikan keramaian sebagai dampak dari kebiasaan konsumtif, sambil mengintrospeksi diri tentang seperti apa masa depan setelah puasa akan dilalui.
Baca juga: Dunia Keuangan Indonesia Berguncang
Berkaca dari perspektif puasa, keharusan mendasar para pejabat publik yang baru ikut retret adalah memenuhi kepentingan rakyat. Mereka harus mampu meletakkan kepentingan itu di atas kebutuhan apapun yang tidak mendasar untuk dipenuhi. Mereka dituntut untuk menahan dan mengendalikan diri dari berbagai godaan konsumtif yang mencederai kepentingan rakyat.
Puasa dan retret, saya renungkan adalah sekolah kemanusiaan yang bertujuan memantik kesadaran. Karena itu, keduanya meniscayakan ruang-ruang untuk "menyendiri" dan merefleksi diri tentang hakikat dan keberadaan sebagaimana manusia dan sebagai pengemban amanah. Dengan memahami sepenuhnya tentang peran dan tanggung jawab, maka siapapun yang keluar dari kedua momen itu, akan terlahir sebagai manusia yang menyadari jati dirinya sebagai manusia yang mengemban amanah sebagai manusia sekaligus pemimpin atas sesamanya.
***
Itu renungan saya tentang pejabat publik yang baru ikut retret. Bagaimana renungan anak kepada kedua orang tua yang melahirkannya.
Sejauh ini belum ada retretnya. Ada ajaran saat mengikuti pondok Ramadan kilat dan kehidupan sehari-hari. Dalam agenda itu, saya masih ingat ajaran dari guru agama saya seorang anak beriman dilarang mendurhakai kedua orangtuanya. Mengingat durhaka kepada orang tua merupakan dosa besar yang bertentangan dengan perintah Allah. Nah pada bulan puasa ini banyak acara TV yang menjelaskan apa apa itu perintah Allah dan larangannya.
Alasan larangan durhaka kepada orang tua, dalam Islam ditanamkan bahwa durhaka kepada orang tua termasuk perbuatan keji dan dibenci Allah. Durhaka kepada orang tua merupakan kunci pembuka pintu neraka. Durhaka kepada orang tua dapat mempercepat azab di dunia. Durhaka kepada orang tua dapat menghalangi masuk surga. Durhaka kepada orang tua dapat menghapuskan segala amal perbuatan kita. Durhaka kepada orang tua dapat membuat dosa tidak diampuni. Ngeri juga ya sampai ada anak durhaka kepada kedua orang tuanya.
Orang orang berakhlak bilang ada dampak Dampak durhaka kepada orang tua. Apa saja?
Salatnya tidak diterima di sisi Allah. Dibenci oleh Allah. Hidupnya tidak berkah dan selalu mengalami berbagai macam kesulitan.
Berpotensi dijauhi oleh teman-temannya yang baik. Menjadi kesepian dan tidak memiliki teman-teman yang baik.
Saat kita puasa, dan belajar Iqro, Islam mengajarkan kepada kita untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Karenanya, agama Islam melarang kita untuk untuk durhaka kepada kedua orang tua kita.
Dari Abu Bakrah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada dosa yang pantas untuk disegerakan siksaannya bagi pelakunya di dunia dan disimpan di akhirat selain kezhaliman, durhaka kepada orang tuanya dan memutuskan tali silaturahmi."
Saya diajari ayah-kakek dan buyut, fungsi puasa adalah melatih manusia mengendalikan hawa nafsu, karena nafsu yang tidak terkendali dan tercerahkan, dapat menjerumuskan manusia ke dalam lembah kehinaan. (QS. Al-Tin: 5) Imam al-Busyiri dalam syairnya al-Burdah berkata: ”Nafsu itu seperti anak kecil yang manja. Jika engkau membiarkannya, maka ia akan terus bertambah manja. Sudah berapa banyak orang yang tewas, hanya karena tidak tahu bahwa di dalam lemak itu ada racun yang mematikan.”
Inilah perumpaan nafsu manusia yang selalu ingin dipuaskan dengan berbagai pemenuhan materi. Termasuk durhaka kepada orang tuanya. Subhanallah. (radityakhadaffi@gmail.com)
Editor : Moch Ilham