SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo saat ini mulai melirik pertanian organik sebagai ketahanan pangan masa depan yang berkelanjutan, salah satunya padi. Hal itu lantaran padi organik diklaim memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Bahkan, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Dipertahankan) setempat telah menyiapkan lahan seluas 3.000 hektare untuk merealisasikan proyek ambisius tersebut.
Baca juga: Operasional Tempat Karaoke di Ponorogo Mulai Dibatasi Selama Bulan Ramadhan
Kepala Dipertahankan Ponorogo Supriyanto mengatakan, konsep pertanian organik dijalankan secara swakelola melalui pemberdayaan 120 kelompok tani di tingkat kecamatan.
“Pertanian organik ini sangat menjanjikan, nilai jualnya bisa tiga kali lipat dari gabah biasa,” ujarnya, Senin (21/04/2025).
Baca juga: Selama Bulan Ramadhan, ASN di Ponorogo Dapat Pengurangan Jam Kerja
Dimana, masing-masing kelompok ditargetkan menggarap sekitar 25 hektare sawah. Dan setiap kelompok tani akan mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp 25 juta, untuk pengadaan alat pertanian, bibit unggul, pelatihan pengolahan lahan, hingga pendampingan intensif.
“Pelatihannya tiga kali, termasuk untuk pembuatan pupuk organik secara mandiri oleh kelompok,” jelasnya.
Baca juga: Sempat Absen, Festival Reog Ponorogo Kembali Masuk Jajaran Unggul KEN 2026
Lebih lanjut, tak hanya berhenti di 3.000 hektare, program ini nantinya akan terus ditargetkan hingga mencapai 25 ribu hektare pada 2029 mendatang. Pangsa pasar padi organik pun dinilai kian terbuka, terutama di kota-kota besar yang mulai sadar akan pentingnya konsumsi sehat. pn-01/dsy
Editor : Desy Ayu