Menkes Ingatkan para Dokter, Fungsi AI Dalam Layanan Medis

surabayapagi.com
Menkes Budi Gunadi Sadikin

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan dokter yang menolak AI justru akan tertinggal dari arus kemajuan teknologi.

Menurutnya, AI bukanlah ancaman, melainkan alat bantu untuk meningkatkan kualitas layanan medis, terutama dalam hal akurasi diagnosa dan tindakan medis seperti operasi.

Baca juga: Dirut BPJS Nyatakan Rujukan dari Puskesmas ke RS Tipe A, Bisa Kasusistis

"Dokter harus pakai AI. AI nggak mungkin tanpa dokter. Tapi dokter yang memusuhi AI justru akan terbelakang," tegas Menkes di Jakarta, Rabu (16/7/2025).

Budi melihat AI sebagai pelengkap yang akan memperkuat peran dokter, bukan menggantikannya.

Misalnya, dalam operasi bedah presisi, teknologi robotik berbasis AI dapat membantu mengurangi risiko kesalahan dan meningkatkan akurasi tindakan.

Namun, pendekatan terhadap AI tidak bisa bersifat hitam-putih.

 

Pakar Kesehatan Global Ingatkan

Baca juga: Prabowo Tugaskan Menkes Bangun 66 RS di Tiap Kabupaten/Kota Senilai Rp 417,3 Miliar

Epidemiolog sekaligus pakar kesehatan global, Dicky Budiman, mengingatkan dunia kedokteran adalah dunia etik, empati, dan kehati-hatian.

Menurutnya, penggunaan AI harus dilakukan secara bertahap, berbasis bukti, dan tetap menjunjung prinsip-prinsip etika medis.

"Kita harus siap terbuka terhadap teknologi, termasuk AI. Tapi pendekatannya tidak bisa dikotomis, antara mendukung atau memusuhi. Adaptasi terhadap AI harus dilakukan secara etis, perlahan, dan berbasis bukti," ujar Dicky, kemarin.

Dicky menyoroti berbagai manfaat nyata AI di bidang medis. Untuk apa saja?

Baca juga: Menkes akan Ubah Sistem Rujukan BPJS

AI sejauh ini sudah digunakan untuk analisis citra medis (radiologi dan patologi digital). Bahkan, akurasinya relatif sangat tinggi, mendekati atau mencapai kemampuan diagnosis rata-rata manusia.

AI juga dipakai untuk memprediksi penyakit kronis berdasarkan data rekam medis elektronik, hingga efisiensi administrasi seperti triase otomatis di IGD dan pengelolaan antrian. Belajar pada negara maju, misalnya China, teknologi bedah dengan bantuan AI sudah digunakan untuk meningkatkan presisi tindakan.

"AI, dengan segala potensinya, bukanlah pengganti manusia. Justru, ia memperluas kemampuan dokter dalam mengambil keputusan medis yang lebih tepat dan cepat. Namun, kunci keberhasilannya tetap terletak pada integrasi yang bijak, dengan tetap menempatkan dokter sebagai pengambil keputusan utama, dan etika sebagai fondasi utama dalam setiap inovasi," beber Dicky. n jk/ ec/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru