"Miss Golf" Simpan Sekitar 80.000 Foto dan Video Seksual dan Pajang Foto-foto Pemuka Agama Thailand. Berhasil Kumpulkan 385 juta Baht Setara Rp 193,5 Miliar
Baca juga: Prabowo Pamerkan Perkembangan MBG di WEF 2026 di Davos
SURABAYAPAGI.COM, Bangkok - Terungkap skandal seks yang melibatkan biksu-biksu. Skandal ini membuat gempar warga Thailand. Total ada sembilan hingga 15 biksu senior yang terlibat dalam pusaran skandal seks dengan seorang wanita cantik dengan panggilan "Miss Golf".
Dilansir dari The Guardian, Minggu (20/7/2025), skandal tersebut berpusat pada perempuan yang dikenal dengan nama 'Miss Golf'. Ternyata, nama asli perempuan itu adalah Wilawan Emsawat.
Melansir Euro News, Wilawan Emsawat, ditangkap pada Selasa (15/7) di rumahnya di Provinsi Nonthaburi, sebelah utara ibu kota Bangkok.
Wilawan yang berusia 30 tahun itu kini menghadapi sejumlah dakwaan, termasuk pemerasan, pencucian uang, dan menerima barang hasil kejahatan.
Kejadian ini merupakan skandal terbaru yang mengguncang institusi Buddha yang sangat dihormati di Thailand. Hal ini juga sontak menyita perhatian publik.
Setidaknya ada sembilan kepala kuil dan biksu senior, yang terlibat dalam skandal seks tersebut, telah dilucuti jubahnya dan dikeluarkan dari kuil, kata Biro Investigasi Pusat Kepolisian Kerajaan Thailand.
Sika Golf” — kini jadi sorotan media dan publik setelah diduga menjalin hubungan intim dengan puluhan biksu senior dari berbagai kuil ternama di Thailand, lalu memeras mereka.
Dalam dunia kebiksuan Thailand, kata “Sika” biasanya digunakan untuk menyapa seorang perempuan yang sering datang ke kuil dan punya kedekatan dengan para biksu. Namun, julukan itu kini berubah makna sejak mencuatnya kasus yang melibatkan perempuan seksi ini.
Jejak penipuan dan rayuan "Sika Golf"
Menurut pernyataan dari Kolonel Polisi Anek Taosuparp, Wakil Komandan Divisi Penindakan Kejahatan Thailand (CSD), Sika Golf bukan hanya terlibat dalam hubungan pribadi dengan para biksu, tapi juga melakukan penipuan. Salah satu laporan datang dari seorang mantan pejabat keagamaan di Provinsi Phichit yang mengaku pernah meminjamkan uang 400.000 baht (sekitar Rp176 juta) kepada Wilawan setelah ia mengaku sakit dan menunjukkan bukti hubungan dengan seorang biksu senior.
Modusnya selalu sama: Wilawan mendekati para biksu, membangun kedekatan, lalu menggiring pembicaraan ke urusan keuangan. Setelah uang ditransfer, barulah aksi pemerasan dimulai. Salah satu kasus lainnya bahkan melibatkan mantan asisten kepala biara Wat Sothonwararam yang diduga mentransfer 8.000 baht (sekitar Rp3,5 juta) ke rekening miliknya.
Penangkapan Wilawan juga menyoroti donasi yang disumbangkan ke kuil-kuil yang dikendalikan oleh para kepala kuil. Hal ini sangat kontras dengan kehidupan sederhana dan penuh pantangan yang seharusnya mereka jalani berdasarkan ajaran Buddha.
Ditemukan 80.000 Foto dan Video Seksual
Ketika polisi menggeledah rumah Wilawan di Provinsi Nonthaburi pada Selasa lalu, mereka menemukan bukti yang sangat mengejutkan.
Polisi menemukan bukti yang sangat mengejutkan: sekitar 80.000 foto dan video seksual yang diduga melibatkan para biksu senior dari berbagai kuil terkenal di Thailand. Tak hanya itu, rumahnya juga dipenuhi foto-foto biksu yang dipajang di dinding.
Sumber kepolisian menyebut bahwa selama tiga tahun terakhir, ada aliran dana sekitar 385 juta baht (setara hampir Rp170 miliar) ke rekening Wilawan. Namun, sebagian besar uang itu disebut telah habis untuk berjudi secara online.
Dampak dari skandal ini mulai terasa. Setidaknya 15 biksu diketahui memiliki hubungan dekat dengan Wilawan, dan sepuluh di antaranya telah meninggalkan status kebhikkhuan, termasuk seorang kepala biara di Provinsi Phitsanulok yang memilih kembali menjadi warga biasa.
Dihadiahi Mobil Mercedes-Benz SLK200
Dalam wawancara dengan media Thailand yang disiarkan Rabu lalu, Wilawan mengaku memiliki hubungan dengan dua biksu dan seorang profesor agama.
Ia juga mengungkap menerima berbagai hadiah mewah seperti mobil Mercedes-Benz SLK200 serta dana dalam bentuk kartu bank dan transfer uang dengan total mencapai jutaan baht.
Polisi menyebut ada aliran dana sekitar 385 juta baht (sekitar Rp200 miliar) ke rekening Wilawan dalam tiga tahun terakhir.
Wilawan sendiri mengaku pernah memberikan sebagian uang tersebut kepada salah satu biksu yang menjadi pasangannya.
Baca juga: Pekerja WNI di Online Scam Kamboja, Kini Kocar-kacir
Paiwan Wannabud, mantan biksu yang kini dikenal sebagai influencer LGBT di Thailand.
Paiwan juga menyoroti bagaimana perempuan dalam skandal ini menjadi pusat pemberitaan, sementara para biksu justru diposisikan sebagai korban.
"Ketika kemerosotan moral para biksu terlihat jelas, yang disalahkan justru perempuannya," tulis kolumnis Bangkok Post, Sanitsuda Ekachai.
Biksu Hidup dalam Kemewahan
Ia mengkritik sistem keagamaan yang disebutnya feodal, di mana para biksu hidup dalam kemewahan dan dihormati tanpa batas.
Meski secara resmi biksu di Thailand menerima tunjangan makanan bulanan antara 2.500 hingga 34.200 baht (Rp1,1 juta-Rp15 juta) tergantung pangkat, banyak dari mereka memperoleh sumbangan dalam jumlah besar dari umat.
Bagi biksu berpangkat tinggi, sumbangan tersebut bisa mencapai puluhan ribu baht atau lebih, bahkan dalam bentuk barang mewah.
Dalam kasus terpisah baru-baru ini, seorang kepala kuil ternama di Bangkok melaporkan pencurian uang tunai dan emas batangan senilai 10 juta baht (sekitar Rp4,5 miliar) dari kamarnya sendiri.
Raja Batalkan Pengangkatan Puluhan Biksu
Menanggapi krisis ini, Perdana Menteri sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, memerintahkan review ulang terhadap undang-undang terkait biksu dan keuangan kuil.
Kantor Nasional Urusan Buddhisme juga mengusulkan untuk menghidupkan kembali rancangan undang-undang yang menetapkan sanksi pidana bagi pelaku pelanggaran yang merusak nama baik agama Buddha, termasuk melalui tindakan asusila.
Baca juga: SBY Cemas PD III, PKS Anggap Bukan Apokaliptik
Sebagai respons langsung, Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengeluarkan perintah kerajaan pada Selasa lalu, membatalkan pengangkatan gelar keagamaan terhadap puluhan biksu senior.
Sementara itu, polisi Thailand membuka saluran pelaporan khusus di Facebook untuk memfasilitasi warga melaporkan kasus serupa yang melibatkan biksu.
"Mereka telah tersesat dalam nafsu dan hasrat mereka sendiri," ujar Paiwan.
Jaroonkiat Pankaew, wakil komisaris Biro Investigasi Pusat, mengatakan penyelidikan dimulai bulan lalu setelah seorang kepala biksu dari sebuah kuil terkenal di Bangkok tiba-tiba meninggalkan kuil. Dia juga meninggalkan kehidupan kebiksuan setelah diperas oleh perempuan tersebut.
Menurut pernyataan dari Kolonel Polisi Anek Taosuparp, Wakil Komandan Divisi Penindakan Kejahatan Thailand (CSD), Sika Golf bukan hanya terlibat dalam hubungan pribadi dengan para biksu, tapi juga melakukan penipuan. Salah satu laporan datang dari seorang mantan pejabat keagamaan di Provinsi Phichit yang mengaku pernah meminjamkan uang 400.000 baht (sekitar Rp176 juta) kepada Wilawan setelah ia mengaku sakit dan menunjukkan bukti hubungan dengan seorang biksu senior.
Modusnya selalu sama: Wilawan mendekati para biksu, membangun kedekatan, lalu menggiring pembicaraan ke urusan keuangan. Setelah uang ditransfer, barulah aksi pemerasan dimulai.
Salah satu kasus lainnya bahkan melibatkan mantan asisten kepala biara Wat Sothonwararam yang diduga mentransfer 8.000 baht (sekitar Rp3,5 juta) ke rekening miliknya.
Modusnya, Wilawan meminta sejumlah uang kepada biksu-biksu itu. Jika tidak diberikan, Wilawan mengancam akan menyebarkan video seks yang dia buat bersama dengan para biksu tersebut.
Ternyata, ancaman Wilawan bukan pepesan kosong belaka. Saat polisi Thailand menggeledah rumahnya di kawasan mewah Nonthaburi, ditemukan lebih dari 80.000 file foto dan video seks yang dilakukan Wilawan dengan para biksu tadi. Ribuan foto dan video tadi digunakan untuk melakukan aksi pemerasan.
Selama tiga tahun terakhir, Wilawan berhasil mengumpulkan 385 juta Baht (setara dengan Rp 193,5 Miliar) dari memeras para biksu.
"Kami memeriksa jejak keuangannya dan menemukan bahwa hal ini melibatkan banyak kuil," kata pejabat Biro Investigasi Pusat Polisi Thailand, Jaroonkiat Pankaew, dalam konferensi pers Selasa (15/7) lalu.
Uang itu ternyata digunakan Wilawan buat main judi online. Ia bahkan pernah bertaruh sampai 500 ribu Baht (setara dengan Rp 252 jutaan) sekali main.
Dari uang ratusan juta Baht yang masuk ke rekeningnya, polisi hanya menemukan sisa sebesar 8.000 Baht (setara Rp 4 jutaan) di rekening perempuan tersebut. n bp/thg/er/rmc
Editor : Moch Ilham