Megawati Akui dengan Presiden Prabowo Masih Baik

surabayapagi.com
Ketum PDIP yang sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengungkap hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Terlihat, Megawati saat menjadi keynot speaker seminar internasional di peringatan ke-70 Konferensi Asia Afrika di Perpusta

Tidak Singgung Hubungannya dengan SBY dan Jokowi, di Seminar Internasional  Peringatan ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika di Blitar. Kecuali Kepahlawanan Bung Karno

 

Baca juga: Xi Jinping: Kuda Simbol Kekuatan dan Ketekunan

 

SURABAYAPAGI.COM, Blitar - Ketum PDIP yang sekaligus Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengungkap hubungannya dengan Presiden Prabowo Subianto saat ini. Megawati mengatakan ia dan Prabowo akrab.

"Loh saya kan sudah merasa jadi presiden, kekuatan itu berapa jam sih? Itu lho kok, eh jangan dipikir loh, Mas, nanti jadi ruang ini, Ibu Mega ini nggituin Pak Bowo, nggak. Saya sama Mas Bowo itu akrab, tahu ndak? Jangan Anda coba-coba," kata Megawati saat menjadi keynote speaker seminar internasional dalam rangka peringatan ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11/2025).

Ditemui seusai acara, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan hubungan Megawati dengan Prabowo masih baik. Hasto mengatakan hubungan baik itu akan terus berjalan demi kepentingan bangsa dan negara melalui dialog secara periodik.

"Hubungan baik sejarah mencatat bagaimana persahabatan antara Ibu Mega dan Presiden Prabowo. Dan kemudian juga hubungan itu terus akan berjalan dan dengan baik bagi kepentingan bangsa dan negara, sehingga antar pemimpin melakukan dialog secara periodik apalagi juga di dalam upaya membangun kepemimpinan Indonesia bagi dunia, tetapi juga upaya-upaya menyelesaikan persoalan dalam negeri. Itulah yang dilakukan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri," ujar Hasto.

 

Singgung Gelar Pahlawan Nasional

Megawati Soekarnoputri menilai gelar pahlawan nasional harus diberikan dengan hati-hati, bukan gampangan.

Mulanya Megawati menyinggung perjuangannya terkait pencabutan Tap MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 menyangkut mendiang ayahnya yang merupakan tokoh proklamator dan Presiden pertama RI, Sukarno.

TAP MPRS itu telah dicabut MPR pada awal September 2024 silam.

"Bayangkan saya tiap kali diam pergi terus ke Setneg hanya untuk menanyakan ini tap (ketetapan MPRS) itu mau diapakan, kalau Bung Karno bersalah, harusnya demi keadilan, maka dia boleh dong dimasukkan ke dalam pengadilan untuk menunjukkan apa dia bersalah atau tidak," kata Megawati saat menjadi keynote speaker seminar internasional dalam rangka peringatan ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika di Perpustakaan Bung Karno, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (1/11).

"Tapi saya terus berjuang akhirnya, pada tanggal, akhirnya MPR kan membatalkan," imbuhnya.

Megawati mengatakan Bung Karno bersikap diam terhadap ketetapan MPRS tersebut agar tak terjadi perang saudara. Bagi Megawati, sosok Bung Karno merupakan cerminan pemimpin yang luar biasa.

Lalu, pada kesempatan itu, Megawati menyinggung pemberian gelar pahlawan harus dilakukan dengan hati-hati. Dia mengaku berani tanggung jawab atas gelar pahlawan yang diberikan untuk Bung Karno.

Baca juga: Lima Konglomerat Temui Prabowo, Bahas Juga Kualitas Gizi

"Terus sekarang Republik Indonesia ini unik lho, apa? Proklamator, bapak bangsa, terus ini opo? Pahlawan. Lha kasih [anugerah pahlawan nasional] kan ya mbok hati-hati lho, kalau mau jadiin pahlawan iku lho, jangan gampang dong," kata Megawati.

"Kalau Pak Bung Karno bener pahlawan, karena saya berani bertanggung jawab, dia enggak ditahan, dia diisolasi saja," imbuhnya.

Dalam seminar internasional dalam rangka peringatan ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) ini mengangkat tema 'Bung Karno in a Global History: Commemorative Seminar of the 70th Anniversary of the 1955 Bandung Asian-African Conference'. Megawati, tidak menyinggung hubungannya dengan dua mantan presiden setelah dirinya, yaitu SBY dan Jokowi.

 

"Perang dingin” dengan SBY

Catatan Litbang Surabaya Pagi, lebih dua dekade hubungan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri dan Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) renggang. “Perang dingin” seolah terjadi di antara keduanya. Selama belasan tahun, perjumpaan Megawati dan SBY bisa dihitung jari. Keduanya hanya bertemu di acara-acara resmi, itu pun hanya berjabat tangan dan bertegur sapa sebentar sebelum akhirnya melanjutkan kegiatan masing-masing.

Kabarnya, ketegangan di antara keduanya bermula dari rivalitas politik jelang Pemilu 2004. Sebelum itu, SBY merupakan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Kabinet Gotong Royong, kabinet yang dipimpin Megawati.

Juga dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Meski ada "keretakan" hubungan dengan Megawati, ia menyebut hubungan dirinya dengan Ketua DPP PDIP, Puan Maharani berlangsung hangat pada kegiatan buka bersama (bukber) di NasDem Tower.

Baca juga: Aktor Ammar Zoni Minta Amnesti ke Prabowo

"Hubungannya (saya dengan Mbak Puan) memang hangat, betul, dengan Mbak Puan hangat," ucap Jokowi di NasDem Tower, Gondangdia, Jakarta Pusat, Jumat (21/3/2025).

Meski keduanya sempat mengobrol hangat bersama dengan Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem, Surya Paloh, namun Jokowi sempat tampak berpikir sejenak saat ditanya oleh awak media, terkait hubungannya dengan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Ia bahkan sempat bingung akan menjawab apa, saat awak media menanyakan apakah dirinya akan menemui Megawati sebagai bentuk rekonsiliasi, pasca obrolan hangat dengan Puan.

 

Delegasi Tabur Bunga

Para delegasi perwakilan berbagai negara dari benua Asia dan Afrika yang menjadi peserta seminar lebih dulu berziarah ke makam Presiden pertama RI Sukarno. Mereka berdoa dan menabur bunga di makam Bung Karno.

Kemudian, para delegasi memasuki perpustakaan Bung Karno dan melihat sejarah perjalanan Bung Karno. Mereka lalu memasuki acara seminar.

Seminar dihadiri sekitar 30 akademisi dan delegasi dari 30 negara. Kehadiran mereka menandai kembalinya semangat solidaritas Asia-Afrika dari tanah kelahiran Bung Karno. Ini menunjukkan bahwa gagasan besar Bung Karno tetap hidup. n erc/bl/jk/rmc

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru