SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saat ini di area banjir presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.
Saya melihat alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman mengurangi kapasitas serapan air di wilayah tersebut. Sehingga saat ini perlu penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial. Ini sangat penting untuk mitigasi jangka panjang.
Baca juga: Diterjang Banjir dan Angin Kencang, BPBD Situbondo Catat Ribuan Rumah Warga Terdampak
Saya ingatkan ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.
Baca juga: Antisipasi Banjir saat Lebaran, DPRD Minta Pemkot Audit Rumah Pompa
Ini tak hanya dalam segi curah hujan, banjir bandang terlihat sangat parah karena diiiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. n rmc
Baca juga: Masih Terendam Banjir, Aktivitas Ratusan KK di Kraksaan Probolinggo Terganggu
*) Disampaikan dalam akun istagramnya, Senin (1/12/2025)
Editor : Moch Ilham