SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saat ini di area banjir presipitasi turun, sebagian air meresap ke dalam tanah (infiltrasi). Sementara sisanya mengalir di permukaan sebagai (runoff). Proporsi antara keduanya sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.
Saya melihat alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman mengurangi kapasitas serapan air di wilayah tersebut. Sehingga saat ini perlu penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial. Ini sangat penting untuk mitigasi jangka panjang.
Baca juga: Multazam Ingatkan Gubernur Jatim: Normalisasi Sungai dan Jalan Rusak Harus Jadi Prioritas
Saya ingatkan ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.
Baca juga: Warga Probolinggo Pilih Ngungsi, 4 Desa di Lereng Bromo Terendam Banjir
Ini tak hanya dalam segi curah hujan, banjir bandang terlihat sangat parah karena diiiringi oleh menurunnya daya tampung wilayah. n rmc
Baca juga: Cegah Banjir, Pemkab Sidoarjo Genjot Normalisasi Sungai di 4 Lokasi Berbeda
*) Disampaikan dalam akun istagramnya, Senin (1/12/2025)
Editor : Moch Ilham