SURABAYAPAGI.COM, Bandung - Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung melaporkan telah menangani 10 pasien yang mengalami gejala Influenza A H3N2 subclade K atau yang populer dijuluki 'super flu'. Satu orang dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan.
Setelah kasusnya dilaporkan ada di Indonesia, beragam konten bermunculan di media sosial dengan narasi yang menyebut superflu sebagai virus baru.
Baca juga: Khofifah, Minta Masyarakat tak Panik Virus "Superflu"
Sebuah unggahan di TikTok menuliskan, "Sangat waspada, super flu virus baru sudah masuk ke 8 provinsi Indonesia, bisa menyebabkan meninggal.”
Konten tersebut mendapat setidaknya 11 ribu likes, 1.449 komentar, dan dibagikan lebih dari 9.000 kali. Di platform lain, muncul unggahan serupa yang menyebut superflu lebih berbahaya dari COVID-19. Unggahan-unggahan ini memicu respons luas dari warganet, dengan banyak yang mempertanyakan keganasan virus tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa virus influenza A(H3N2) telah lama beredar dan beberapa kali memicu peningkatan kasus influenza.
"Paling tidak, H3N2 sudah ada sejak 1968. Jadi sudah beberapa kali ada peningkatan kasus influenza gara-gara H3N2. Kini, virusnya bermutasi sampai 7 kali, kemudian timbullah H3N2 subclade K,” jelas Tjandra, Jumat kemarin (9/1).
Superflu bukan Penyakit Baru
Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan RI, superflu bukan nama penyakit baru atau virus baru secara resmi. Sebagai varian terbaru, virus ini tetap bagian dari keluarga virus influenza A(H3N2) yang sudah lama dikenal dan dipantau melalui sistem surveilans global, sejalan dengan pemantauan oleh World Health Organization.
Istilah "superflu” belakangan ramai diperbincangkan seiring meningkatnya kasus influenza musiman di berbagai negara. Setelah kasusnya dilaporkan ada di Indonesia, beragam konten bermunculan di media sosial dengan narasi yang menyebut superflu sebagai virus baru.
Sebuah unggahan di TikTok menuliskan, "Sangat waspada, super flu virus baru sudah masuk ke 8 provinsi Indonesia, bisa menyebabkan meninggal.”
Konten tersebut mendapat setidaknya 11 ribu likes, 1.449 komentar, dan dibagikan lebih dari 9.000 kali. Di platform lain, muncul unggahan serupa yang menyebut superflu lebih berbahaya dari COVID-19. Unggahan-unggahan ini memicu respons luas dari warganet, dengan banyak yang mempertanyakan keganasan virus tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan.
Klaim: "Sangat waspada, super flu virus baru".
subklade K, varian terbaru dari virus influenza. Istilah superflu bukan istilah medis resmi, melainkan sebutan populer untuk menggambarkan lonjakan penularan influenza yang lebih tinggi dibandingkan musim-musim sebelumnya.
Tingkat Penularan di bawah Pandemi
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, menyatakan bahwa virus influenza A(H3N2) yang selama ini beredar mengalami mutasi berulang hingga membentuk subklade K. Ia juga membenarkan bahwa peningkatan kasus influenza tahun ini memang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan kondisi itulah yang kemudian mendorong munculnya istilah superflu di masyarakat.
Baca juga: Pemkot Surabaya Lakukan Skrining Kesehatan sebagai Langkah Antisipasi Super Flu
Ia menjelaskan bahwa kondisi ini tidak bisa dibandingkan dengan COVID-19. Sebab, meski terjadi peningkatan kasus sejak Agustus 2025, tidak ada kriteria yang menunjukkan mengarah pada situasi pandemi. Tingkat penularan dan keparahan kasusnya tetap berada di bawah kategori pandemi.
Penilaian ini sejalan dengan temuan Medical Science Division, University of Oxford, yang menegaskan bahwa meski musim flu dimulai lebih awal di sejumlah negara, tingkat keparahan penyakit masih berada dalam kisaran normal influenza musiman.
Terkait tingkat gejala dan risiko, Tjandra menyatakan bahwa semua penyakit pasti memiliki risiko. Namun, kasus berat lebih sering terjadi pada kelompok risiko tinggi, dan pola ini sama untuk influenza pada umumnya, tidak hanya pada H3N2 subklade K.
"Untuk influenza, umumnya faktor risiko tinggi sama seperti yang selama ini sudah kita kenal, yaitu mereka yang lanjut usia (lansia), komorbid, anak-anak, dan wanita hamil," sebut Tjandra.
Dengan demikian, superflu merujuk pada lonjakan kasus influenza musiman akibat influenza A(H3N2) subklade K, dan bukan sebagai virus baru. Hingga kini, tidak ada keterangan ilmiah yang menyatakan bahwa varian ini lebih parah dari COVID-19, influenza musiman lain maupun mengarah pada terjadinya pandemi.
Belum Dipastikan 'super flu'
Dari hasil review, 10 kasus itu menimpa pasien dengan usia beragam. Dua bayi usia 9 bulan dan 1 tahun, pasien umur 11 tahun hingga mayoritas pasien usia 20-60 tahun.
Terkait kasus meninggal dunia, Tim Penyakit Infeksi Emerging dan Re-emerging (Pinere) RSHS Bandung belum bisa memastikan apakah orang tersebut wafat karena 'super flu' atau tidak, lantaran punya riwayat penyakit bawaan yang begitu berat.
Baca juga: Antisipasi Kasus ‘Super Flu’, Dinkes Madiun Perketat Protokol Kesehatan
"Kalau kita lihat dari data yang ada, itu ada dua yang berat. Satu masuk ke ruang high cap dan satu masuk ke ruang intensif. Dan satu yang masuk ke ruang intensif memang terus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid yang lain," kata Ketua Pinere, dr Yovita Hartantri, di Bandung, Kamis (8/1/2025).
"Ada stroke, ada gagal jantung dan terakhir karena ada infeksi dan ada gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan oleh virus? Kita tidak bisa menyatakan karena memang dia mungkin komorbid yang banyak," sambungnya.
Influenza Musiman
Senada, Direktur Medik dan Keperawatan RSHS dr Iwan Abdul Rachman menambahkan, secara garis besar, 'super flu' sebetulnya menurut dia tidak jauh berbeda dengan kondisi influenza musiman seperti biasa.
Hanya saja, 'super flu' berada dalam tingkat penyakit yang lebih berat dan penyebarannya yang lebih cepat.
"Yang yang kami lakukan di Rumah Sakit Hasan Sadikin tentunya kami siap memberikan pelayanan pada siapapun pasien yang membutuhkan layanan tersebut," kata dr Iwan.
"Dan bila dirasakan gejala dari flu itu berat, kami persilakan untuk datang ke fasilitas kesehatan khususnya di Rumah Sakit Hasan Sadikin," tutupnya.n ec/jk/ag/rmc
Editor : Moch Ilham