Importir PT Agrinas Pangan Nusantara, Siap Digugat dan Dipermasalahkan
Baca juga: KPK Bahas Mitigasi Potensi Risiko Korupsi Program MBG dan Kopdes
SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Ribuan mobil pikap asal India resmi mendarat di Indonesia, hingga Rabu (25/2) masih dibongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Importir PT Agrinas Pangan Nusantara memulai realisasi impor 105.000 unit kendaraan niaga untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih.
Tahap awal, sebanyak 1.000 unit telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Pengadaan jumbo senilai Rp 24,66 triliun ini melibatkan dua produsen otomotif besar India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
Dari total unit yang diimpor, 35.000 unit merupakan Scorpio Pick-Up produksi Mahindra.
Sementara 70.000 unit lainnya dipasok Tata Motors, terdiri dari 35.000 unit Yodha Pick-Up dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.
"Apapun keputusan DPR itu adalah suara rakyat, dan wakil rakyat, saya sebagai direktur BUMN saya akan taat, loyal dan manut apapun keputusan negara, apabila itu memang kepentingan rakyat," kata Joao Angelo De Sousa Mota, saat konferensi pers di Jakarta, kemarin (24/2/2026).
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menyampaikan bahwa harga pikap hasil impor dari India tersebut sangat kompetitif.
Namun ia enggan mengungkapkan detail harga karena terikat perjanjian NDA (Non Disclosure Agreement) dengan pihak pabrikan.
Meski demikian, ia mengisyaratkan bahwa banderol kendaraan tersebut berada di bawah rata-rata harga pikap merek Jepang yang telah diproduksi di dalam negeri.
Estimasi harga yang diterima Agrinas diperkirakan berada di kisaran Rp 200 jutaan per unit.
"(Harga) semua sudah urusan mereka, sudah termasuk pajak semua. Pokoknya prinsip saya, harga yang disepakati adalah harga terima di seluruh Indonesia, termasuk di Papua, tidak ada penambahan satu sen pun," ujar Joao dalam konferensi pers di Jakarta (24/2/2026).
Ia menegaskan bahwa status kendaraan sudah On The Road (OTR) dan diterima langsung di lokasi tujuan tanpa biaya tambahan distribusi.
Kadin Himbau Presiden Prabowo
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengimbau Presiden Prabowo Subianto agar membatalkan rencana impor 105 ribu unit kendaraan niaga dari India.
Para pengusaha menilai impor utuh atau completely built up (CBU) mpor mobil dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) dinilai dapat mematikan industri otomotif di dalam negeri, tidak menggerakkan ekonomi, dan sama sekali bertentangan dengan program industrialisasi yang sedang didorong pemerintah.
"Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga," kata Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin.
Baca juga: DPRD Gresik Dorong Optimalisasi Koperasi Desa Merah Putih untuk Tingkatkan Kesejahteraan Warga
Juga Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyampaikan dirinya sudah berpesan kepada pemerintah agar menunda terlebih dahulu rencana impor 105.000 mobil dari India untuk kebutuhan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Menurut dia, rencana itu perlu ditunda karena Presiden Prabowo Subianto masih kunjungan kerja ke luar negeri. Menurut dia, Presiden pun akan membahas hal rinci terkait rencana tersebut.
Selain itu, dia menilai Presiden juga akan meminta pendapat dan mengalkulasi kesiapan dari perusahaan dalam negeri.
"Sehingga kami sudah menyampaikan pesan untuk ditunda dulu. Demikian," kata Dasco.
Lantas bagaimana dengan unit-unit yang sudah tiba di Indonesia? Joao mengaku tidak akan menggunakan mobil tersebut jika kebijakannya memang melarang penggunaan unit tersebut.
Untuk Koperasi Desa
Pick up yang diimpor dari India untuk kebutuhan Koperasi Desa Merah Putih sudah berdatangan ke Indonesia. Berikut ini wujud Pick up India berstiker Koperasi Merah Putih itu.
PT Agrinas Pangan Nusantara rupanya sudah mendistribusikan Pick up yang diimpor dari India untuk digunakan pada Koperasi Desa Merah Putih. Direktur Utama Agrinas Joao Angleo De Sousa Mota mengungkap, saat ini pickup dari India itu sudah tiba di Indonesia dan 200 unit di antaranya sudah didistribusikan.
"Sekarang sudah tiba, sudah kita distribusikan juga sebanyak 200, kemudian minggu depan akan tiba lagi 400. Dan sampai akhir bulan ini akan tiba 1.000 unit. Kita akan terus segera langsung kita distribusikan ke tempat-tempat yang sudah siap maupun ke tempat-tempat yang belum siap," kata Joao melansir CNBC Indonesia.
Baca juga: Menteri Desa Enggan Bahas Dana Desa untuk Koperasi Desa
Dia mengungkap, mobil Koperasi Merah Putih itu ditaruh di Kodim. Dengan demikian, saat koperasi sudah siap beroperasi, mobil akan didistribusikan dan selanjutnya bisa langsung digunakan. Dalam foto yang dibagikan Mahindra, Pick up India Mahindra itu memang sudah terdistribusi, salah satunya di Surabaya. Pickup berkelir putih itu juga sudah terlihat diberi stiker bertuliskan 'Koperasi Desa Merah Putih' di bagian bak belakang.
Komitmen kami lebih jauh lagi, membangun ekosistem purna jual dan suku cadang yang kuat di seluruh wilayah operasional, lewat kerja sama dengan Agrinas untuk memastikan dampak yang berkelanjutan," demikian ditulis Mahindra.
Mahindra diketahui mendapat pemesanan sebanyak 35.000 pickup Scorpio. Ini merupakan ekspor terbesar yang dilakukan oleh Mahindra.
Importir Siap Digugat
Meski unit-unit pickup India itu sudah berdatangan, Joao menegaskan tetap akan mengikuti arahan dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait dengan penggunaan maupun distribusi pickup tersebut.
"Apapun keputusan DPR itu adalah suara rakyat, dan wakil rakyat, saya sebagai direktur BUMN saya akan taat, loyal dan manut apapun keputusan negara, apabila itu memang kepentingan rakyat," kata Joao.
"Tanpa sedikitpun saya ragu-ragu kalau seandainya saya harus nanti digugat atau nanti dipermasalahkan oleh pihak supplier, itu sudah tanggung jawab saya, dan saya ambil tanggung jawab itu," tambah dia.
Saat ini PT Agrinas Pangan Nusantara diminta untuk menunda impor kendaraan niaga asal India. Namun ternyata sudah ada unit yang tiba di Indonesia. n ec/erc/rmc
Editor : Moch Ilham