Televisi Iran Mulai Diretas, Siaran Olahraga Diselipi Cuplikan Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu
Baca juga: Trump tak Singgung Reza Pahlavi
SURABAYAPAGI.COM, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan dirinya membayangkan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung selama empat pekan.
"Ini selalu merupakan proses empat minggu. Kami memperkirakan akan berlangsung sekitar empat minggu," katanya Trump kepada surat kabar Inggris Daily Mail, dilansir AFP, Senin (2/3/2026).
Trump tak perduli sekuat apapun Iran. Dia menyebut serangan akan memakan waktu empat pekan.
"Sekuat apa pun negara itu, ini adalah negara besar, akan memakan waktu empat minggu atau kurang," kata Trump.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersumpah untuk membalas dendam atas kematian pertama warga AS dalam peperangannya dengan Iran. Trump mengatakan dia merencanakan perang ini terjadi selama sekitar empat minggu.
"Saya sekali lagi mendesak Garda Revolusi, militer dan polisi Iran untuk meletakkan senjata dan menerima kekebalan penuh atau menghadapi kematian yang pasti," kata Trump dalam pidato video dari rumah di Florida dilansir AFP, Senin (2/2/2026).
"Itu akan menjadi kematian yang pasti. Itu tidak akan menyenangkan," kata Trump.
Pasukan Iran diketahui telah membalas serangan Trump usai pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia dalam serangan AS dan Israel di Iran. Pasukan Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menghantam markas AS dan Israel di seluruh Timur Tengah sehingga menyebabkan kematian di Israel dan Uni Emirat Arab, ledakan-ledakan juga menghancurkan pusat-pusat ekonomi Teluk Arab yang mewah.
3 Militer AS Tewas
Pentagon mengatakan bahwa tiga anggota militer AS tewas dalam operasi tersebut dan lima lainnya luka parah dalam operasi yang disebut "Epic Fury."
Sebelumnya, AS dan Israel memulai operasi skala besar pada Sabtu (28/2). Mereka menargetkan fasilitas komando dan kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), lokasi peluncuran rudal balistik dan drone, lapangan terbang militer, dan sistem pertahanan udara Iran.
Serangkaian ledakan keras terdengar di langit Yerusalem. Insiden itu terjadi tak lama setelah militer Israel mengumumkan telah mendeteksi peluncuran rudal dari Iran.
Ledakan di Israel
Dilansir AFP, Senin (2/3/2026) ledakan terjadi pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat. Ledakan terdengar setelah sirene peringatan berbunyi di berbagai wilayah kota.
Militer Israel dalam pernyataan resminya menyampaikan telah mengidentifikasi serangan rudal. Serangan rudal itu diluncurkan Iran ke Israel.
Sementara, tujuh orang dilaporkan terluka. Para korban telah dievakuasi untuk mendapat perawatan.
"Petugas pemadam kebakaran Distrik Yerusalem saat ini sedang menanggapi lokasi dampak yang terletak di jalan raya di wilayah Yerusalem," kata pernyataan dari dinas pemadam kebakaran nasional.
"Menurut otoritas medis, tujuh orang yang terluka dengan berbagai tingkat keparahan telah dievakuasi dari lokasi tersebut untuk menerima perawatan medis," tambahnya.
Sensor militer melarang media untuk mengungkapkan lokasi pasti dari lokasi-lokasi yang terkena dampak.
Televisi Iran Alami Peretasan
Baca juga: Turis di Bali dan Dubai Kebingungan, Ekses Serangan ke Iran
Pada hari yang sama, Stasiun televisi negara Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), dilaporkan mengalami peretasan pada Minggu (1/3/2026) waktu setempat. Selama beberapa menit, siaran reguler tergantikan oleh cuplikan pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang ditujukan langsung kepada rakyat Iran.
Menurut laporan dari Iran International, saluran satelit milik IRIB diretas dan menampilkan rekaman pidato kedua pemimpin tersebut. Dalam video yang beredar luas di media sosial, Trump dan Netanyahu terlihat berbicara kepada warga Iran, disertai pesan yang mendesak mereka untuk "merebut kendali atas nasib sendiri" dan bangkit melawan rezim yang berkuasa di Teheran.
Video warga yang merekam layar televisi mereka kemudian beredar di platform seperti Instagram dan X (sebelumnya Twitter). Reaksi publik pun beragam, mulai dari keterkejutan, dukungan terhadap pesan yang muncul, hingga sindiran terhadap pemerintah Iran.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Beberapa hari sebelumnya, dilaporkan terjadi serangan militer yang dikaitkan dengan target strategis Iran, termasuk lokasi yang disebut-sebut berhubungan dengan kantor Pemimpin Tertinggi Iran.
Iran International menyebut peretasan ini sebagai bentuk "penghinaan besar" bagi otoritas Iran. Hingga kini, pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Belum ada konfirmasi mengenai siapa pelaku peretasan. Spekulasi mengarah pada kelompok oposisi, hacktivist, maupun kemungkinan keterlibatan aktor negara asing di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Yacyber warfare (perang siber) sangat sering melakukan peretasan (hacking), bahkan peretasan adalah salah satu metode utamanya.
Cyber Warfare, Perang Siber
Peretasan dalam konteks cyber warfare dilakukan oleh negara atau kelompok yang didukung negara untuk melakukan spionase, sabotase, mencuri data rahasia, atau melumpuhkan infrastruktur kritis negara lain.
Peretasan dalam konteks cyber warfare:
Tujuannya bukan sekadar keuntungan finansial, melainkan motif politik, militer, atau ideologis untuk merusak sistem musuh
"Cyberwarfare, ini perang siber," kata M Bachtiar, dari Ciberhub, yang dihubungi Senin kemarin.
Baca juga: Pakar Ekonomi: Dampak Perang AS-Israel vs Iran, Investor akan Pilih Emas
Trump akui Amerika tetap menggunakan teknologi AI Anthropic dalam operasi serangan terhadap Iran.
Kejadian ini membuka perdebatan baru tentang bagaimana negara adidaya memanfaatkan teknologi canggih di medan perang - bahkan ketika secara resmi melarangnya.
militer Amerika Serikat tetap menggunakan model AI Claude dalam operasi terhadap Iran.
Laporan media internasional menyebutkan bahwa Komando Pusat AS (CENTCOM) memanfaatkan Claude untuk analisis intelijen, identifikasi target, serta simulasi skenario pertempuran sebelum serangan diluncurkan.
Hal ini terjadi karena kontrak antara Anthropic dan Pentagon memiliki masa transisi penghentian. Artinya, sistem Claude masih aktif di jaringan militer saat operasi berlangsung.
Fakta tersebut menunjukkan betapa dalamnya integrasi AI dalam infrastruktur pertahanan modern. Meskipun secara politik diblokir, secara teknis sistemnya masih berjalan dan berfungsi.
Situasi ini menciptakan paradoks: pemerintah menyatakan teknologi itu sebagai ancaman, tetapi tetap mengandalkannya untuk misi strategis berskala besar.
Peretasan Bukan Kali Pertama
Peretasan terhadap IRIB bukan kali pertama terjadi. Pada Januari 2026, siaran televisi negara tersebut juga sempat diretas dan menayangkan pesan dari Putra Mahkota pengasingan Iran, Reza Pahlavi, yang mendukung demonstrasi anti-pemerintah.
Insiden terbaru ini memperpanjang daftar serangan siber yang menyertai konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Sejumlah pakar keamanan siber memperkirakan potensi serangan balasan siber dari pihak Iran terhadap target di AS maupun Israel dalam waktu dekat.
Menurut World Bank, berdasarkan data ITU (International Telecommunication Union), Cyber warfare dapat diartikan sebagai perang di dalam cyberspace, namun di dalam cyber warfare terdapat penyerangan yang berbeda dengan penyerangan dalam perang konvensional atau perang fisik lainnya. Media utama yang digunakan di dalam cyber warfare adalah komputer dan internet, objek yang diserang dalam cyber warfare bukan merupakan wilayah fisik, wilayah teritorial ataupun wilayah geografis, namun objek dalam cyberspace yang dikuasai oleh suatu negara. Salah satu contoh kasus cyber warfare yaitu kasus antara Amerika Serikat dengan Iran di tahun 2008 dimana Amerika Serikat merusak sistem sentrifugal Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir milik Iran. n afp/rb/rtr/jk/rmc
Editor : Moch Ilham