SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Selain sempat viral karena menu Program MBG (Makan Bergizi Gratis) yang selalu dikritik dan viral di media sosial (medsos), kini sisa menu MBG membawa dampak berkelanjutan bagi pengelolaan lingkungan sekolah karena dapat disulap menjadi pupuk organik cair dan padat.
Sehingga, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memberikan manfaat nutrisi bagi siswa, tetapi juga berdampak bagi pengelolaan lingkungan sekolah yang berkelanjutan. Melalui pengolahan sederhana, sisa makanan dapat diubah menjadi kompos berkualitas dengan proses yang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Pasalnya, sebelumnya, proses pembuatan kompos di sekolah tersebut hanya mengandalkan serasah atau daun kering yang membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai. Sehingga, dengan adanya keberadaan sisa MBG membuat proses pengomposan di sekolah menjadi lebih efektif.
"Semenjak ada MBG, prosesnya jadi jauh lebih cepat. Kalau dulu cuma mengandalkan daun kering, sekarang ada campuran kulit buah dan sisa organik lainnya. Karena sifatnya yang basah dan kaya nutrisi, sisa MBG ini menjadi katalis alami yang mempercepat pembusukan di lubang biopori dan tong aerob," ujar Guru Informatika sekaligus Pembimbing Pangput SMPN 13 Surabaya, Windy, Senin (16/03/2026).
Diketahui, saat ini, SMPN 13 Surabaya memiliki 32 lubang biopori yang tersebar di berbagai sudut area sekolah. Lubang tersebut dimanfaatkan untuk menampung sisa makanan MBG, terutama kulit buah seperti salak dan pisang.
Satu paket sisa MBG biasanya mampu mengisi satu lubang biopori hingga penuh. Setelah material menyusut dan mulai menjadi pupuk, bahan tersebut kemudian dipindahkan ke tong aerob untuk proses pematangan akhir.
Untuk sisa yang diolah sebagian besar merupakan bagian buah yang memang tidak dikonsumsi, seperti kulit buah atau sayuran yang ukurannya terlalu besar bagi siswa. Inovasi pemanfaatan sisa MBG ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah di lingkungan sekolah dapat memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. sb-05/dsy
Editor : Redaksi