Sinergi Pemprov Jatim dan Australia Buka Peluang Ekspor Produk Kulit ke Timur Tengah

Reporter : Arlana Chandra Wijaya

SurabayaPagi, Surabaya – Pemerintah Indonesia dan Australia terus memperkuat kerja sama di sektor industri kulit dan peternakan sapi melalui kegiatan Indonesia-Australia Leather Industry Roadshow yang digelar di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Selasa (31/3/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri Duta Besar RI untuk Canberra, Siswo Pramono, pelaku bisnis Australia, serta Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Jawa Timur.

Baca juga: Pertamina Imbau Warga Jatim Tak Panic Buying, Pasokan BBM dan LPG Dipastikan Aman

Dalam kesempatan tersebut, Siswo Pramono menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat industri kulit, baik untuk kebutuhan sepatu, tas, maupun produk olahan lainnya, termasuk sektor pangan berbasis sapi.

Menurutnya, kerja sama perdagangan sapi antara Indonesia dan Australia selama ini sudah berjalan signifikan. Indonesia mengimpor sekitar 500 ribu ekor sapi dari Australia Utara dengan bobot awal sekitar 300 kilogram, yang kemudian digemukkan di Indonesia hingga mencapai 600 kilogram.

“Artinya, sekitar 50 persen produksi sapi berasal dari Australia dan 50 persen lainnya dari Indonesia,” ujarnya.

Ia juga mendorong pelaku industri penyamakan kulit dari Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk mengunjungi Australia guna mempelajari pengolahan sapi berbasis standar halal.

Australia sendiri dikenal sebagai salah satu pemasok utama daging halal untuk kawasan Timur Tengah.

“Jika proses penyembelihan dilakukan secara halal, maka kulitnya juga halal dan aman dimanfaatkan, baik untuk industri makanan seperti kerupuk rambak maupun produk kulit seperti sepatu yang berpotensi masuk pasar Timur Tengah,” jelasnya.

Roadshow ini merupakan bagian dari upaya mempertemukan pelaku usaha kedua negara. Sebelumnya, delegasi Indonesia telah lebih dulu berkunjung ke Australia, dan kini giliran pelaku usaha Australia yang melihat langsung potensi industri di Indonesia.

Baca juga: Jatim Teken Kerja Sama PSEL, Sampah Diolah Jadi Energi di Surabaya Raya dan Malang Raya

Siswo berharap kolaborasi ini dapat menciptakan skema saling menguntungkan, di mana Indonesia dapat mengimpor bahan baku kulit dari Australia, sementara investor Australia menanamkan modal di industri pengolahan kulit di Indonesia.

“Sudah banyak investasi Australia di Indonesia, dan kami berharap hal serupa juga terjadi di Jawa Timur karena ini akan berdampak positif bagi perekonomian kedua negara,” katanya.

Dalam lima tahun terakhir, nilai perdagangan Indonesia-Australia meningkat signifikan dari 13 miliar dolar Australia menjadi sekitar 34 miliar dolar Australia. Kenaikan ini turut mendorong peningkatan ekspor Indonesia hingga 98 persen.

Selain itu, kedua negara juga mulai mengembangkan integrasi sektor sapi dan perkebunan sawit, di mana sapi digemukkan di area perkebunan dengan memanfaatkan limbah sawit sebagai pakan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Emil Dardak menyampaikan bahwa Jawa Timur memiliki banyak pelaku usaha yang tangguh di sektor industri kulit. Namun, ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan karena sebagian besar masih harus diimpor.

Baca juga: Satukan Kenangan Bangun Masa Depan, Reuni Akbar FH Unair 2026 Perkuat Ikatan Alumni dan Almamater

“Melalui kolaborasi ini, kami berharap kebutuhan bahan baku dapat terpenuhi sekaligus meningkatkan daya saing produk kulit Jawa Timur di pasar global,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Jawa Timur merupakan penyumbang lebih dari 60 persen produksi susu sapi nasional, yang menunjukkan besarnya potensi sektor peternakan di daerah tersebut.

Emil berharap kerja sama ini dapat memperluas pasar industri sapi dan produk turunannya, sekaligus membuka peluang ekspor ke Timur Tengah.

“Dengan peningkatan produktivitas dan perluasan pasar, para pengrajin kita akan semakin percaya diri menembus pasar internasional,” pungkasnya.

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru