Tokoh Pebulutangkis, Nilai Pelatih Gagal Perkuat Mental Bertanding di level Beregu dan Lemah Merotas

Prestasi PBSI Babak Belur

Reporter : Raditya Mohammer Khadaffi

SURABAYAPAGI.com : PBSI, kini terus menjadi sorotan tajam publik dan pencinta bulu tangkis akibat performa timnas yang dinilai kurang memuaskan serta evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan atlet.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum M. Fadil Imran, PBSI melakukan langkah mitigasi dengan melantik 13 Pengurus Provinsi (Pengprov) dan menggelar Rapat Pleno. Langkah ini disorot sebagai upaya federasi untuk merombak tata kelola dan memperkuat pembinaan atlet sejak dari daerah agar tidak bergantung pada pelatnas saja.

Menurut seorang tokoh bulu tangkis nasional yang dihubungi Surabaya Pagi, Senin (8/6) ada beberapa poin utama yang membuat PBSI terus disorot antara lain Evaluasi Pasca-Piala Thomas & Uber 2026.

Baca juga: Nyolong Dirumah Tante, Thomas Dibui 12 Bulan

Evaluasi Sektor Pelatih
Wakil Ketua Umum I PBSI, Taufik Hidayat, memberikan evaluasi keras terhadap sektor pelatih menyusul kegagalan tim beregu putra di ajang Thomas Cup 2026. Meskipun tim Uber Indonesia berhasil membawa pulang medali perunggu, hasil tersebut masih memicu perdebatan mengenai regenerasi pemain

Ajang bergengsi Indonesia Open 2026 yang diselenggarakan di Istora Senayan .
Evaluasi keras terhadap sektor pelatih bulu tangkis nasional saat ini, kata tokoh tersebut, mencakup sorotan tajam terhadap minimnya gelar di turnamen bergengsi, ketidakmampuan membendung dominasi negara rival, dan kurangnya kemampuan adaptasi taktik modern. Kritik ini juga menyoroti brain drain pelatih Indonesia ke luar negeri dan evaluasi mental atlet beregu.

Pada evaluasi pasca-kegagalan Tim Thomas dan Uber, pelatih dinilai gagal memperkuat mental bertanding di level beregu, lemah dalam rotasi pemain, serta kurang cermat dalam mengatur waktu istirahat dan kondisi fisik atlet.

Juga diwarnai hasil minor dari sejumlah pebulu tangkis andalan. Banyak pemain unggulan, termasuk ganda putra andalan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri, yang harus gugur di babak awal.
Wakil Indonesia gagal meraih gelar juara di Indonesia Open 2026. RI pun memperpanjang puasa gelar BWF Super 1000 di kandang sendiri.

Indonesia mengirim 2 wakil dalam final Indonesia Open di Istora Senayan, Minggu (7/6/2026). Ada Jonatan Christie di nomor tunggal putra, serta Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di nomor ganda putra.

Jonatan menghadapi wakil Kanada Victor Lai di final Indonesia Open 2026. Jojo, yang menjadi unggulan kelima, secara mengejutkan kalah dua gim langsung 19-21 dan 8-21.
Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, terhenti di babak 16 besar All England 2026, Kamis (5/3/2026).

Bermain di Utilita Arena Birmingham, Inggris, Jojo kalah dari Lin Chun-Yi (Taiwan) dengan skor akhir 19-21 dan 12-21.

Selain membuatnya gagal melaju ke babak perempat final All England 2026, kekalahan yang dialami Jojo menyajikan sejumlah sorotan.

Sorotan pertama, kekalahan yang dialami Jojo atas Lin Chun-Yi bukanlah sebuah kejutan.
Pasalnya, ini bukan pertama kalinya Jojo kalah dari Lin Chun-Yi.

Bahkan di dua laga sebelumnya, Jojo kalah beruntun dari Lin Chun-Yi.
Jonatan Christie (peringkat 4 dunia) dikalahkan Lin Chun-Yi asal Taiwan (peringkat 11 dunia) dalam 16 besar All England 2026 di Utilita Arena Birmingham, Inggris, pada Kamis (5/3). Skor akhir 19-21 dan 12-21. Head to head antara dua pasangan kini menjadi 3-3.

Kekalahan Jonatan Christie
Sejumlah sorotan mewarnai kekalahan Jonatan Christie (Jojo) di babak 16 besar All England 2026
Pertama, Jojo lagi-lagi harus mengakui keunggulan wakil Taiwan, Lin Chun-Yi

Kedua, Jojo mengulang catatan kelam All England 2025

Ketiga, Jojo menambah daftar pemain unggulan yang harus pulang cepat dari All England 2026
Tunggal putra Indonesia, Jonatan Christie, terhenti di babak 16 besar All England 2026, Kamis (5/3/2026).

Bermain di Utilita Arena Birmingham, Inggris, Jojo kalah dari Lin Chun-Yi (Taiwan) dengan skor akhir 19-21 dan 12-21.

Selain membuatnya gagal melaju ke babak perempat final All England 2026, kekalahan yang dialami Jojo menyajikan sejumlah sorotan.
Sorotan pertama, kekalahan yang dialami Jojo atas Lin Chun-Yi bukanlah sebuah kejutan.

Pasalnya, ini bukan pertama kalinya Jojo kalah dari Lin Chun-Yi.
Bahkan di dua laga sebelumnya, Jojo kalah beruntun dari Lin Chun-Yi.
- Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis tunggal putra Singapura Jia Heng Jason Teh pada babak 32 besar Kapal Api Indonesia Open 2025 di Istora Senayan, Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa (3/6/2025). Sejumlah sorotan mewarnai kekalahan Jojo di babak 16 besar All England 2026.

Pertama, Jojo kalah dari Lin Chun-Yi di babak 16 besar China Masters 2025 dengan skor 21-5 dan 22-20.

Kedua, Jojo harus mengakui keunggulan Lin Chun-Yi saat bertemu di final India Open 2026 dengan skor 21-10 dan 21-18.

Meski di atas kertas Jojo lebih diunggulkan, nyatanya Lin Chun-Yi mampu memberi perlawanan sengit hingga meraih kemenangan.

Jojo yang menempati unggulan keempat kembali dibuat gigit jari oleh Lin Chun-Yi yang berstatus underdog alias tidak diunggulkan. Sorotan yang kedua adalah, Jojo mengulang catatan kelam All England 2025.

Jojo Kalah dari Wakil India
Kala itu, Jojo yang berstatus juara bertahan terhenti di babak 16 besar All England 2025.
Jojo yang merupakan juara All England 2024 kalah dari wakil India, Lakshya Sen, dengan skor 13-21 dan 10-21.

Raymond/Joaquin bersua unggulan ketujuh asal Malaysia Goh Sze Fei/Nur Izzuddin. Raymond/Joaquin sempat membuka asa dengan unggul pada gim pertama 21-13.
Goh/Nur memaksa duel lanjut ke rubber game dengan keunggulan 21-18. Jawara Indonesia Masters 2025 ini menuntaskan gim ketiga dengan kemenangan 21-10 atas Raymond/Joaquin.

Kekalahan tersebut memastikan Indonesia tanpa gelar di Indonesia Open 2026. 5 Nomor yang dipertandingan berhasil direbut negara-negara berbeda.

Nomor tunggal putra dimenangkan Victor Lai dari Kanada, sementara tunggal putri diraih An Se-young (Korea Selatan). Ganda putra dimenangkan Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, ganda putri Yuki Fukushima/Mayu Matsumoto (Jepang), ganda campuran Mathias Christiansen/Alexandra Boje (Denmark).

Indonesia kembali harus pulang tanpa gelar meski berstatus tuan rumah Indonesia Open. RI terakhir kali merebut emas yakni pada 2021 lewat ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo. n erc, jk, rmc

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru