SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Seiring meningkatnya volume air dan lumpur di sekitar tanggul Lumpur Lapindo, Sidoarjo, yang kini hampir menyentuh bibir tanggul penahan, mulai membuat ketar-ketir dan khawatir warga sekitar. Kondisi ini memicu trauma mendalam bagi masyarakat, yang masih mengingat jelas peristiwa amblesnya tanggul pada tahun 2018.
Melihat fenomena itu, warga yang melihat pun gercep melaporkan bahwa permukaan lumpur telah melampaui bibir tanggul lama akibat terhentinya pembuangan ke Sungai Porong selama beberapa waktu. Pasalnya, aktivitas peninggian tanggul mulai intensif dilakukan di titik 71, perbatasan Kelurahan Siring dan Kelurahan Ketapang Keres.
Baca juga: Siswa SMKN 1 Sidoarjo Gelar Karya Siswa Buka Service Motor Berkeliling
Selain kenaikan volume, rembesan air sepanjang sekitar 100 meter ditemukan muncul di bawah tanggul titik 68, perbatasan Desa Glagaharum dan Desa Gempolsari, dalam sepekan terakhir. Dan ketinggian air di kolam penampungan kini hanya tersisa sekitar satu meter dari puncak tanggul.
"Kalau melihat kondisi sekarang, warga tentu khawatir. Air sudah hampir menyentuh bibir tanggul. Kami trauma dengan kejadian tahun 2018 saat tanggul ambles sepanjang kurang lebih 100 meter," jelas Ketua RT 11 RW 2 Desa Gempolsari, Sudarmawan, Kamis (11/06/2026).
Lebih lanjut, jika tanggul kembali jebol, sedikitnya 1.000 hingga 1.500 jiwa dari enam RT berada dalam ancaman langsung. Di tengah ancaman luberan lumpur, warga juga masih bergulat dengan sulitnya akses air bersih. Air di sekitar lokasi berbau tidak sedap dan memiliki kadar garam tinggi yang merusak struktur bangunan rumah.
Warga berharap pengawasan tanggul diperketat secara maksimal agar tragedi masa lalu tidak terulang. Dan merespons situasi tersebut, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) memastikan bahwa upaya mitigasi terus berjalan. PPLS mengklaim aktivitas pengaliran lumpur ke Sungai Porong masih dilakukan menggunakan kapal keruk dan pompa hingga penggunaan alat berat saat ini difokuskan untuk membuat alur agar aliran dari pusat semburan mengarah ke kolam pompa.
Baca juga: Rehabilitasi Sekolah Rusak Sedang Proses Tender
Sedangkan mengenai penggunaan material bambu dan gedek di lokasi peninggian, Fahmi menyebut hal itu diperlukan karena karakter lumpur yang tidak dapat mengikat satu sama lain sehingga butuh penahan agar alur aliran tetap bertahan. sd-01/dsy
Editor : Redaksi