SURABAYAPAGI.com, Bondosowo - Melihat fenomena nilai rupiah terhadap dolar yang melemah, ternyata turut berdampak pada kenaikan harga sejumlah obat di apotek dalam beberapa bulan terakhir di Bondowoso. Kondisi ini semakin terasa ketika biaya produksi bahan baku impor juga turut mengalami peningkatan.
Meski tidak terlalu drastis, kenaikan yang berkisar antara 3 hingga 10 persen tersebut mulai mempengaruhi daya beli masyarakat dan aktivitas usaha apotek. Informasi kenaikan harga dari distributor maupun produsen umumnya telah disampaikan lebih dahulu kepada apotek. “Biasanya pemberitahuan sudah diberikan sebulan sebelumnya dan tidak semua item naik bersamaan. Kenaikannya bertahap,” ujar PIK PRB dan Keuangan Apotek Safari Bondowoso, Toni Suprayitno, Selasa (16/06/2026).
Baca juga: Warga Bondowoso Pilih Beralih ke Sepeda Kayuh, Tekan Biaya Operasional
Menurutnya, rata-rata kenaikan harga obat berada pada kisaran 5 hingga 10 persen. Beberapa produk bahkan mengalami penyesuaian di bawah angka tersebut, tergantung kebijakan masing-masing produsen. Salah satu contoh yang terjadi pada produk Micoral Tablet. Harga netto apotek (HNA) beserta PPN yang sebelumnya berada di angka Rp249.750 pada Mei 2026, kini naik menjadi Rp260.000 pada Juni 2026.
Baca juga: Anggaran BBM Terbatas, Pengiriman Air ke Daerah Kekeringan di Bondowoso Ikut Terkendala
“Kenaikannya bervariasi dan tidak sama untuk semua produk. Jadi tergantung dari pabrikannya,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dibenarkan Ketua Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Bondowoso, Putu Setia Pratama. Menurutnya, kenaikan harga obat sudah mulai terjadi sejak Maret 2026 dan pada beberapa produk bahkan berlangsung lebih dari satu kali. Sedangkan untuk kenaikan harga paling banyak terjadi pada produk vitamin, obat batuk, dan obat flu. Meski rata-rata hanya berkisar 3 hingga 5 persen, kondisi tersebut tetap memberikan pengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat. “Ada produk yang naik pada Maret, kemudian kembali mengalami kenaikan pada Mei,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: Imbas Rupiah Melemah, Harga Sejumlah Bapok di Pasar Bojonegoro Melonjak
Disatu sisi, sektor farmasi menjadi salah satu bidang yang sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah karena sebagian besar bahan baku obat masih didatangkan dari luar negeri. “Kalau nilai dolar terus menguat, bukan tidak mungkin akan ada penyesuaian harga lagi ke depan. Ini menjadi kekhawatiran seluruh pelaku usaha apotek,” jelasnya. bd-01/dsy
Editor : Redaksi