Baca juga: Trump Ajak Sekutunya Amankan Selat Hormuz, Jepang dan Australia Tolak
Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global, sekitar seperlima total pasokan minyak mentah dunia melintas setiap harinya.
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global, sekitar seperlima total pasokan minyak mentah dunia melintas setiap harinya. Beberapa pihak menyoroti dinamika dan ketidakpastian yang dihadapi oleh Selat Hormuz sebagai rute logistik internasional.
"SELAT Hormuz merupakan jalur strategis yang menentukan nasib banyak negara," Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, Minggu (12/7), mengatakan pengelolaan pelayaran di Selat Hormuz di masa mendatang harus ditentukan melalui konsultasi antara Iran dan Oman.
"Oman dan Iran sepakat untuk melanjutkan dialog di tingkat politik, hukum, dan teknis untuk mencapai pemahaman bersama mengenai jaminan keselamatan navigasi di Selat Hormuz," kata Baghaei dikutip dari Anadolu.
Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz lebih penting daripada "puluhan bom atom." Dia pun berjanji bahwa pemerintah Iran akan melindungi jalur air vital tersebut. "Jalur strategis ini lebih penting daripada puluhan bom atom, dan Republik Islam Iran akan melindunginya," kata penasihat Mojtaba Khamenei tersebut, Mohsen Rezaei seperti dikutip oleh kantor berita Iran, ISNA, dilansir Al-Arabiya dan AFP, Senin (13/7/2026).
Negara-negara Barat telah menuduh Iran berupaya menciptakan bom atom, tetapi Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya adalah untuk tujuan damai dan sipil. Sebelumnya pada hari Minggu (12/7) waktu setempat, Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan meluncurkan rudal dan drone ke negara-negara tetangganya di Teluk. Serangan ini sebagai balasan atas serangan baru Amerika Serikat, yang dilakukan setelah serangan Iran terhadap sebuah kapal dagang yang ditinggalkan dalam keadaan terbakar oleh awaknya.
Pemerintah Iran mengutuk gelombang serangan terbaru AS tersebut. Iran mengatakan bahwa serangan tersebut telah "membuat sia-sia" semua upaya diplomatik beberapa bulan terakhir. "Serangan barbar ini bukan hanya pelanggaran berat terhadap prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, tetapi juga ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Kementerian Luar Negeri Iran. Ketegangan tersebut mengancam kesepakatan sementara yang bertujuan untuk mengakhiri perang Timur Tengah, yang meletus pada akhir Februari lalu.
Masa Depan Selat Hormuz
Hambatan utama untuk mencapai kesepakatan akhir adalah tentang masa depan Selat Hormuz, yang ditutup Iran untuk pelayaran komersial selama perang dengan AS dan Israel. Selat Hormuz adalah jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Terletak di antara Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Perairan ini berbatasan dengan Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan. Berdasarkan hukum internasional, selat ini adalah perairan internasional yang bebas dilalui, meskipun Iran sering menyatakan kontrol dan pengaruh militernya di kawasan tersebut.
Selat ini merupakan urat nadi energi global, di mana sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dunia melintasinya setiap hari. Selat Hormuz sering digambarkan sebagai "pembuluh darah" ekonomi dunia. Lebar selat di titik tersempit hanya sekitar 33 km, tetapi jalur pelayaran aktif untuk masing-masing arah kapal sangat terbatas (sekitar 3 km), menjadikannya sangat rentan terhadap insiden militer atau blokade.
Gangguan atau penutupan pada jalur ini, seperti yang diantisipasi akibat ketegangan politik, dapat memicu lonjakan harga energi secara global. Lebih dari 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan melintasi selat ini setiap harinya, mencakup sekitar 20�ri konsumsi minyak bumi global. afp/rtr/alz/dna
Editor : Redaksi