SURABAYAPAGI.com, Malang - Sebagai langkah strategi dalam mengurangi volume yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Supit Urang maupun ke lokasi penampungan serta pengolahan lainnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, melakukan inovasi pembuatan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dari hasil pengolahan sampah anorganik berupa plastik dan styrofoam.
Pelaksana harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran, mengatakan, langkah tersebut menindaklanjuti volume harian sampah di Kota Malang mencapai 860 ton, dari jumlah itu sebanyak 40 persennya merupakan sampah anorganik.
Baca juga: Kasus HIV Bertambah, Pemkot Malang Mulai Optimalisasi Layanan VCT
"Kalau dulu kan ada istilah pembatasan plastik, tapi hari ini plastik dan styrofoam di Kota Malang sudah kami olah menjadi solar, sudah berproses 2026, sekitar 1 sampai 2 bulan ini," jelasnya, Kamis (30/07/2026).
Baca juga: Jelang Peringatan Kemerdekaan, Pemkot Malang Larang Aktivitas ‘Sound Horeg’
Sementara itu, untuk proses produksi BBM dari plastik dan styroafoam masih belum dilaksanakan setiap hari karena harus menyesuaikan ketersediaan bahan baku. Raymond menyebut satu kali produksi membutuhkan setidak 200 kilogram plastik maupun styrofoam, mekanisme produksi memaksimalkan empat unit mesin disel pemroses dengan kapasitas 50 kilogram per alat.
Ia menyampaikan setiap sekali produksi jumlah bahan bakar yang dihasilkan berkisar antara 120 liter sampai dengan 130 liter. Dan nantinya, untuk BBM dari hasil daur ulang sampah pemanfaatannya untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar bagi empat mesin pengolahan yang digunakan hingga digunakan menunjang operasional truk pengangkut.
Baca juga: Cegah Paparan Konten Negatif, Pemkot Minta Guru Awasi Penggunaan Gawai Pelajar
"Tapi kan prosesnya tidak bisa dilakukan setiap hari, jadi dalam satu minggu rata-rata dua kali melakukan pengolahan. Kendaraan yang biasanya kerjanya pagi sampai jam sore, rata-rata satu sampai dua jam sudah kehabisan solar, sehingga kami manfaatkan ini sebagai tambahan meskipun tidak semua truk melainkan baru satu dua unit truk," tutur dia. ml-02/dsy
Editor : Redaksi