SURABAYAPAGI.com, Madiun - Melihat fenomena kekeringan di musim kemarau panjang, membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun, tengah fokus membangun sumur bor di 30 titik yang tersebar di 15 kecamatan untuk membantu petani menghadapi ancaman kekeringan.
Pembangunan sumur bor tersebut dilakukan setelah 71 desa di Kabupaten Madiun berpotensi terdampak kekeringan pada tahun ini dan ditentukan berdasarkan wilayah yang rawan kekeringan. Pasalnya, manajemen penggunaan air perlu diperkuat agar ketersediaannya dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien selama musim kemarau, khususnya bagi para petani.
Baca juga: Atasi Kekeringan, Bantuan Air Bersih mulai Sasar Pondok Pesantren di Pamekasan
“Penentuan lokasinya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Dengan demikian dapat dirasakan manfaatnya oleh petani secara merata,” ujar Bupati Madiun Hari Wuryanto, Kamis (06/08/2026).
Baca juga: Pemkab Bojonegoro Gelar ‘Gerakan Suka Menanam’, Atasi Kekeringan dan Perluas RTH
Lebih lanjut, Hari Wur menyebut Kabupaten Madiun memiliki potensi sumber daya air yang melimpah. Karena itu, dia menilai ancaman kekeringan lebih banyak dipengaruhi persoalan tata kelola air daripada keterbatasan sumber air.
Ia meminta sejumlah embung, seperti Embung Dawuhan, Notopuro, Saradan, dan Wates, dimaksimalkan untuk menampung air hujan. Air yang tersimpan di embung tersebut nantinya dapat dimanfaatkan petani untuk bercocok tanam saat musim kemarau.
Baca juga: Berkah Kemarau Panjang, Produksi Batu Bata Merah di Madiun Naik 2 Kali Lipat
Sehingga, Hari Wur optimistis tata kelola air yang maksimal dapat meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Madiun. Ia menargetkan produksi padi petani meningkat dari sekitar 7 ton menjadi 10 ton per hektare dengan dukungan ketersediaan air dan pupuk yang memadai. “Jangan sampai air mubazir. Harus dapat dimanfaatkan saat musim kering,” ungkap Hari Wur. md-03/dsy
Editor : Redaksi