SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Selama pelaksanaan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Surabaya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menekankan kepada ratusan pelajar harus memiliki karakter dan menanamkan nilai-nilai Pancasila. Mulai dari menanamkan rasa gotong royong, tolong menolong, hingga saling menghormati satu sama lain.
Menurutnya, ketika pelajar memiliki nilai-nilai tersebut, maka akan bisa menjadi seorang pemimpin besar ke depannya. Hal itu karena, sekolah ini penting bagi anak-anak yang tidak memiliki kesempatan atau sulit mendapatkan pendidikan di Kota Surabaya.
Baca juga: Kurangi Timbunan Sampah TPA Benowo, Wali Kota Instruksikan ASN Surabaya Pilah Sampah dari Rumah
“Karena Sekolah Rakyat Ini adalah untuk anak-anak kita, aset-aset bangsa yang memang tidak bisa mendapatkan pendidikan karena kondisi orang tua, karena keuangan orang tua, sehingga tidak mendapatkan pendidikan dan sulit. Maka saya terima kasih kepada Pak Presiden, insya allah di SRT 2 Surabaya ini akan muncul wali kota, menjadi gubernur, mungkin juga muncul presiden dari sekolah rakyat ini,” ucapnya, Kamis (06/08/2026).
Baca juga: Penataan Aset Daerah, Pemkot Surabaya Bongkar Bangunan Eks Kompleks Pasar Kedurus
Lanjut dia, kemandirian anak-anak di sekolah ini sudah terbentuk sejak usia dini. Diketahui, sekolah yang terletak di kawasan Kecamatan Bulak, Kota Surabaya itu saat ini menampung sebanyak 368 siswa. Sedangkan siswa yang baru masuk adanya sebanyak 270, terdiri dari SD, SMP, dan SMA.
Baca juga: Pemkot Luncurkan Lomba Pisang Danor, Kurangi Timbulan Sampah ke TPA
Cak Eri menambahkan, pelajar yang masuk ke dalam SRT adalah anak-anak yang berasal dari keluarga miskin ekstrem atau masuk kategori Desil 1 dan 2. Dan melalui sekolah ini, ia berharap, ingin membanggakan orang tua sekaligus memutus rantai kemiskinan keluarganya. “Jadi memang untuk anak-anak yang miskin ekstrem atau miskin di Desil 1 atau 2. Jadi semuanya diterima di sini. Mau jadi orang sukses, membanggakan orang tua dan memutus rantai kemiskinan keluarga,” pungkasnya. sb-05/dsy
Editor : Redaksi