SURABAYA PAGI, Jakarta- Gnosis Chain bersiap melakukan perubahan besar setelah komunitasnya mendukung arah transisi dari blockchain Layer 1 (L1) mandiri menuju Gnosis Ethereum Economic Zone (EEZ). Melalui GIP-153, jaringan ini diarahkan menjadi rollup yang melakukan settlement secara langsung ke Ethereum, dengan tahap awal ditargetkan sekitar akhir 2026 hingga awal 2027.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perubahan besar di industri blockchain tidak selalu berkaitan dengan harga mata uang kripto. Di balik pergerakan pasar, jaringan blockchain juga terus mengevaluasi keamanan, likuiditas, biaya operasional, dan kemampuan teknologinya agar tetap relevan.
Baca juga: Mengenal Tokenized Stocks, Penyatuan Saham dan Crypto
Keputusan Gnosis Chain menarik karena jaringan ini telah beroperasi sebagai L1 selama bertahun-tahun dengan validator dan sistem keamanannya sendiri. Nantinya, Gnosis justru akan memanfaatkan Ethereum sebagai lapisan settlement sekaligus fondasi keamanan jaringan.
Perubahan ini juga membawa sejumlah istilah teknis seperti Layer 1, Layer 2, rollup, dan settlement. Materi di academy crypto dapat membantu memahami konsep-konsep dasar tersebut, sementara kasus Gnosis Chain menjadi contoh nyata bagaimana arsitektur sebuah blockchain dapat berubah mengikuti kebutuhan ekosistem.
Apa Itu Gnosis Chain?
Gnosis Chain adalah blockchain yang kompatibel dengan Ethereum Virtual Machine (EVM) dan selama ini beroperasi sebagai Layer 1 independen. Artinya, jaringan memiliki validator sendiri untuk memproses dan memverifikasi transaksi tanpa bergantung pada Ethereum untuk mencapai konsensus.
Jaringan ini menggunakan xDAI sebagai token gas, sehingga pengguna dapat menjalankan transaksi dan berinteraksi dengan berbagai aplikasi terdesentralisasi di dalam ekosistemnya.
Model tersebut memberikan Gnosis Chain kemandirian. Namun, kemandirian juga berarti jaringan harus menyediakan keamanan, likuiditas, validator, dan infrastruktur ekonominya sendiri.
Persoalan inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan Gnosis Chain mengevaluasi kembali model Layer 1 yang telah digunakannya.
Kenapa Gnosis Chain Memilih Meninggalkan Layer 1?
Proposal GIP-153 secara terbuka menyebut bahwa model Gnosis Chain sebagai standalone L1 tidak lagi memberikan diferensiasi yang cukup kuat.
Gnosis menilai Ethereum sudah memiliki keunggulan besar dalam hal credible neutrality, keamanan, dan likuiditas. Bagi blockchain yang lebih kecil, menawarkan karakteristik serupa dengan tingkat keamanan dan likuiditas lebih rendah membuat alasan bagi pengembang maupun pengguna untuk berpindah jaringan menjadi semakin terbatas.
Masalah tersebut juga menyentuh sisi ekonomi jaringan. GIP-153 menyebut biaya transaksi yang dihasilkan jaringan belum cukup untuk menutup kebutuhan operasional dan subsidi yang diperlukan dalam mempertahankan model sebelumnya.
Karena itu, transisi menuju EEZ bukan sekadar perubahan label dari Layer 1 menjadi Layer 2. Gnosis ingin mengubah fondasi keamanan dan ekonomi jaringan dengan memanfaatkan Ethereum secara lebih langsung.
Strategi tersebut juga diharapkan mengurangi fragmentasi likuiditas. Selama ini, blockchain dan berbagai Layer 2 dapat memiliki likuiditas serta jembatan masing-masing, sehingga aset dan aplikasi tersebar di banyak lingkungan berbeda.
Bagaimana Gnosis Chain Akan Terhubung dengan Ethereum?
Gnosis Chain direncanakan bertransformasi menjadi ZK-proven Ethereum Economic Zone rollup yang melakukan settlement ke Ethereum.
Sederhananya, Gnosis tetap dapat memproses aktivitas pada jaringannya, tetapi hasil akhirnya akan dibuktikan dan diselesaikan melalui Ethereum. Dengan pendekatan tersebut, Gnosis tidak lagi harus sepenuhnya mengandalkan sistem keamanan L1 miliknya sendiri.
Rencana GIP-153 menyebut Gnosis EEZ akan menghasilkan blok sekitar setiap dua detik dan membuktikan kondisi jaringannya pada setiap blok Ethereum. Implementasi awal direncanakan menggunakan mekanisme pembuktian sementara sebelum berkembang menuju real-time zero-knowledge proving seiring penyempurnaan EEZ.
Hal yang menarik, perubahan tersebut bukan berarti pengguna harus berpindah ke blockchain baru.
Menurut proposal, alamat, saldo, dan kondisi smart contract tetap dipertahankan, sementara xDAI tetap digunakan untuk membayar biaya transaksi. Dengan kata lain, perubahan terbesar terjadi pada infrastruktur di balik jaringan.
Apa Dampaknya bagi Validator dan Pengguna Gnosis Chain?
Salah satu perubahan terbesar akan dirasakan oleh validator.
Ketika Gnosis Chain masih menjadi L1, validator independen berperan dalam menjaga konsensus dan keamanan jaringan. Setelah transisi menuju EEZ, validator set Gnosis Chain saat ini direncanakan dihentikan karena fungsi settlement security akan beralih ke validator Ethereum.
Baca juga: CryptowhaleX Resmi Diluncurkan, Dorong Literasi dan Ekosistem Crypto Indonesia
Sekitar 350.000 GNO yang saat ini digunakan untuk staking, atau sekitar 27�ri suplai beredar menurut GIP-153, juga direncanakan kembali terbuka setelah perubahan tersebut.
Bagi pengguna biasa, dampaknya dirancang jauh lebih kecil. Gnosis menyatakan pengguna dan aplikasi tetap dapat mempertahankan alamat, saldo, serta kondisi kontraknya sehingga tidak diperlukan migrasi massal ke jaringan baru.
Target tahap awal atau genesis Gnosis EEZ berada di sekitar Desember 2026 hingga Januari 2027. Sementara itu, spesifikasi EEZ yang lebih lengkap, termasuk real-time ZK proving dan kemampuan komposabilitas yang lebih luas, ditargetkan berkembang sepanjang 2027.
Kenapa Perubahan Gnosis Chain Penting bagi Industri Blockchain?
Kasus Gnosis Chain memberikan gambaran bahwa menjadi blockchain Layer 1 independen tidak selalu menjadi tujuan akhir sebuah jaringan.
Menjalankan L1 memberikan kemandirian, tetapi jaringan juga harus membangun keamanan, menarik validator, menyediakan likuiditas, mempertahankan pengembang, dan menciptakan aktivitas ekonomi yang cukup untuk menopang infrastrukturnya.
Sebaliknya, menjadi rollup yang melakukan settlement ke Ethereum berarti sebagian fungsi tersebut dapat memanfaatkan infrastruktur Ethereum. Konsekuensinya, tingkat kemandirian jaringan juga berubah.
Pilihan Gnosis bahkan sempat memunculkan perdebatan di komunitas. Sejumlah anggota mempertanyakan hilangnya validator independen dan berkurangnya kedaulatan Gnosis sebagai L1, sementara pendukung proposal melihat akses terhadap keamanan dan likuiditas Ethereum sebagai pilihan yang lebih berkelanjutan.
Artinya, tidak ada satu arsitektur blockchain yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk setiap jaringan. Keamanan, biaya, likuiditas, desentralisasi, dan keberlanjutan ekonomi harus dipertimbangkan bersama.
Kesimpulan
Keputusan Gnosis Chain meninggalkan model Layer 1 mandiri menunjukkan perubahan strategi yang cukup fundamental. Melalui Gnosis EEZ, jaringan akan bergerak menuju model rollup yang melakukan settlement ke Ethereum dan memanfaatkan keamanan serta likuiditas ekosistem tersebut secara lebih langsung.
Perubahan ini juga menjadi contoh bagaimana jaringan blockchain dapat mengubah arsitekturnya ketika model lama dinilai tidak lagi memberikan diferensiasi dan keberlanjutan ekonomi yang memadai. Jika rencana berjalan sesuai target, akhir 2026 hingga awal 2027 akan menjadi awal fase baru Gnosis Chain, sementara pengembangan EEZ akan terus berlanjut sepanjang 2027.
Baca juga: 7 Metode Dapatkan Passive Income dari Crypto
FAQ
Apa itu Gnosis Chain?
Gnosis Chain adalah blockchain kompatibel EVM yang selama ini beroperasi sebagai Layer 1 independen. Jaringan ini menggunakan xDAI sebagai token untuk membayar biaya transaksi.
Apakah Gnosis Chain akan berhenti menjadi Layer 1?
GIP-153 mengarahkan Gnosis Chain untuk bertransisi dari standalone Layer 1 menjadi Gnosis EEZ, yaitu rollup yang melakukan settlement ke Ethereum. Tahap awal transisi ditargetkan sekitar Desember 2026 hingga Januari 2027.
Kenapa Gnosis Chain memilih Ethereum?
Gnosis ingin memanfaatkan keamanan dan likuiditas Ethereum secara lebih langsung sekaligus mengurangi beban ekonomi dari menjalankan sistem keamanan L1 secara independen. Fragmentasi likuiditas dan kurangnya diferensiasi sebagai L1 juga menjadi bagian dari alasan perubahan tersebut.
Apa itu Ethereum Economic Zone atau EEZ?
Ethereum Economic Zone adalah kerangka untuk membangun rollup yang terhubung dan selaras secara ekonomi dengan Ethereum. Gnosis EEZ merupakan implementasi Gnosis dalam kerangka tersebut dan dirancang untuk melakukan settlement langsung ke Ethereum.
Apakah pengguna harus memindahkan aset setelah Gnosis Chain berubah?
Menurut GIP-153, transisi tersebut bukan peluncuran blockchain baru dan tidak dirancang membutuhkan migrasi massal. Alamat, saldo, serta kondisi smart contract pengguna akan tetap dipertahankan, sementara xDAI tetap digunakan sebagai token gas.rko
Editor : Redaksi