Magersari Jadi Kawasan Estetik, Camat Setiyo Budi Suasananya Makin Eksentrik

Reporter : Dwi Agus Susanti
Wakil Wali Kota Mojokerto Rachman Sidharta Arisandi saat mengjadiri Kampung kuliner tempo dulu di Lingkungan Magersari Gang 1, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. SP/ DWI

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto - Gebrakan warga Lingkungan Magersari Gang 1, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, menghadirkan konsep kampung kuliner bernuansa tempo dulu diapresiasi Camat Setiyo Budi Utomo, SE, MM. 

Menurut Camat Magersari tersebut, upaya menciptakan destinasi kuliner sekaligus ruang pelestarian budaya khas Kota Mojokerto dapat mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi yang membangkitkan perekonomian warga. 

Baca juga: Dorong Perluasan Pasar, Pemkab Jajaki Peluang Kerja Sama Pengembangan UMKM

Momen ini menyajikan 50 pilihan kuliner tradisional seperti ketan sambal, nasi jagung, jamu kunyit asam, putu, getok, gempo hingga es potong. 

Pengunjung juga dapat merasakan suasana tradisional melalui berbagai aktivitas budaya. Komunitas sepeda ontel turut memeriahkan acara, sementara permainan rakyat yang mulai jarang ditemui di tengah perkembangan zaman kembali dihadirkan sebagai hiburan bagi masyarakat.

"Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi wadah pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), tetapi juga menjadi upaya menjaga budaya lokal, " kata Camat Setiyo Budi Utomo. 

Baca juga: BRI Talun Komitmen Perkuat Pemberdayaan UMKM Lewat Produk, Layanan dan Pendampingan Relevan Pelaku Usaha

Nuansa di kampung ini terasa istimewa karena estetik. "Konsep kampung kuliner tempo dulu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sebuah identitas khas,” ungkapnya.

Penguatan karakter kampung tidak cukup hanya melalui produk makanan, tetapi juga perlu didukung aktivitas budaya yang menjadi ciri khas. Salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat adalah belajar mencanting batik secara gratis.

Produk batik lokal, termasuk batik ecoprint, juga dipamerkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan karya masyarakat. Kehadiran aktivitas membatik tersebut menjadi salah satu elemen yang memperkuat konsep kampung sebagai ruang pelestarian budaya.

Baca juga: Lewat Megpreneur 2026, Pemkab Lamongan Perkuat Daya Saing Pelaku UMKM

“Kalau memang ini sudah jadi semacam branding, ciri khas, kita mungkin bisa lebih memperkuat karakternya. Baik karakter tentang makanan, dan saya harap memang tidak hanya makanan. Permainan-permainan tradisional dan sebagainya mungkin yang bisa kita kuatkan. Ini yang memang perlu kita terus lestarikan,” ujarnya.

Menurutnya, permainan tradisional juga dapat menjadi alternatif aktivitas bagi anak-anak agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu menggunakan Handphone (HP). Selain menjaga warisan budaya, permainan rakyat dinilai memiliki manfaat dalam membangun interaksi sosial di lingkungan masyarakat. dwi

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru