Robohnya Masjid Kami ?

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
HAJI Ali Akbar Navis (1924-2003) yang lahir di Kota Padang Panjang (17 November 1924) dan meninggal di Padang (22 Maret 2003), pada tahun 1956 melalui N.V. Nusantara menyodorkan novel apik Robohnya Surau Kami. Anggaplah November 2017 ini sebagai “sajadah kenang” atas AA Navis yang telah “bersedekah” Robohnya Surau Kami dengan latar teologis yang menyambung wicara Tuhan dengan Haji Saleh. Novel ini terus menarik minat baca khalayak dan saya sendiri menikmatinya pada edisi yang diterbitkan kelompok top pada tahun 1986 di kala kelas dua Madrasah Tsanawiyah di Lamongan. Haji Saleh ditegur Gus Allah karena hanya sibuk “di surau” melalui dialog “renya” dengan meletakkan dasar keseimbangan antara beribadah (sembahyang terus di Surau) dengan beramal (menebar kekayaan dengan bekerja keras) untuk generasi penerus yang mestinya “terurus” secara harta jua. Semoga pembaca rubrik kontemplasi ini sudi meluang waktu membaca kembali novel “tipis” Robohnya Surau Kami. Memang novel karya AA Navis itu hari-hari ini harus kucari lagi dengan penuh kesungguhan sehubungan mencuatnya sepenggal kisah yang sedang “menghebohkan” Surabaya: dirobohkannya Masjid As-Sakinah Balai Pemuda Surabaya. Beragam pihak tersentak dan agenda dadakan diekspresikan oleh warga melalui “doa dan tahlil” bagi jiwa-jiwa yang mati rasa. Ungkapan “jiwa dan perasaan yang telah mati” terpotret sengaja dipilih para pegiat yang menuang cinta-imannya atas Masjid As-Sakinah, kupahami sebagai “genderang perih” yang mengaduk rohani. Masjid As-Sakinah yang menjadi “titik simpul pengembaraan” di Balai Pemuda itu telah menyulam kenang dan membuncah jiwa-jiwa penjelajah peradaban dari seluruh jengkal nusantara. Maka diksi kata “jiwa-jiwa mati” terlontar persis setarikan kenangan pada Novel yang mampu membius pembacanya The Dead Souls tulisan sastrawan besar yang lahir di Ukraina (1809) dan meninggal di Moskow (1852), Nikolai Vasilievich Gogol. Sebuah karya “sapa” yang menukik menghunjam ke lubuk dada dari jiwa-jiwa mati pegawai licik yang ambisius guna memperoleh keuntungan dari manipulasi dan korupsi. Sindiran yang dihantarkan oleh Gogol sangat rapi, humoris tetapi mengundang senyum yang “mengiris hati”. Senyum yang terasa “pahit-getir” dan menenggelamkan “saling menyapa” di antara warga kota. Mengapa warga terkirimi “senyum meremehkan” karena tidak diajak “rembuk perobohan” atas “mahkota tauhidnya”? Apalagi di era good governance yang memberikan ajaran agar “rakyat diajak bicara” dalam setiap pembuatan kebijakan negara seperti diajarkan di kampus-kampus itu. Okelah .... Saya belajar mengerti atas “jiwa-jiwa mati” meski tidak mampu mengarungi luasnya “samudra citra” Kota Pahlawan. Suara para ulama (pemandu jalan kebenaran umat) dan seniman (penjaga kelembutan penggunaan kekuasaan atas warganya) terdengar lirih semata dalam keriuhan Surabaya yang telah memboyong berderet penghargaan nasional dan dunia. Publik acap kali terpesona kota ini yang begitu gempita dalam gemerlap yang memukau. Puja puji disulam bagai “zamrud khatulistiwa” yang membuat siapa saja dapat menunduk penuh khidmat. Kepemimpinan yang sangat “peka” dan lincah memainkan peran, sehingga masyarakat internasional dibuat “tersipu” olehnya. Kami pun membusungkan bangga dan mengerek hormat tinggi-tinggi hingga tak mampu lagi mendongak. Sopo yang tidak terkesima dengan “gemulai” Kota Surabaya? Saya ngudo-roso, semua terlihat berjajar-jajar “terlelap dalam dekapan” yang mengurai mimpi-mimpinya di balik gedung-gedung tinggi. Gedung-gedung yang menyemai imaji bagi kota yang aneh dilihat “Kang Marhain” (warga miskin kota) sendiri. Rumah wakil rakyat Surabaya akan menjulang menjadi “tetenger” kota yang terwartakan diberi “tumbal” Masjid As-Sakinah. Ah itu hanya soal rasa. Ikutilah komentar wakilmu yang terhormat, maka engkau akan memiliki pemahaman bahwa Masjid itu memang boleh “dirobohkan, dibongkar, dihancurkan”, karena akan diganti dengan yang lebih megah. Ayo... sopo yang tidak mau kemegahan, keunikan, keteduhan, “kesholehan” masjid? Ingat ya ... Masjid lho nanti yang akan menjadi sentrum gedung wakil rakyat, bahkan sedemikian rupa keagungannya masjid itu, kelak akan dijaga sepanjang waktu: atap dan teras masjid jangan sampai kehujanan, kepanasan, bahkan kena semilir angin saja tidak diperkenankan untuk menghindari masuk angin massal jamaahnya. Oleh karenanya, masjid yang ada mesti dirobohkan dan kami akan membangun ulang dengan “kelambu” ornamen gedung pencakar. Biarlah rumah wakil rakyat itu “mengayomi, mewadahi” dan sedemikian dekatnya “terintip”: biarlah gedung itu kelihatan “bersetubuh-bersebangunan-bersebadan-bersegedung” dengan tempat ibadah itu. Bangunan masjid yang hendak kami persembahkan adalah tempat dimana “diserahkannya seluruh jiwa-jiwa peribadatan” itu bergumul dalam satu gedung jangkung penyapa kota. Bukankah dengan membuat masjid dalam gedung seperti yang ada di mall-mall Surabaya merupakan wujud “manunggale kinerja”: yo rapat, yo sholat”. Inilah puncak “laku makrifat” para wakil rakyat. Mengagumkan bukan? Maka “kutega-tegakan berucap” jangan salah sangka terlebih dahulu tentang robohnya Masjid As-Sakinah. Begitukah pembaca? Hanya tanya yang bisa kuhaturkan di saat kau yang “berkantor hebat” memang sedang berkuasa, bahkan mungkin juga mengira bahwa kau tidak perlu lagi mendengarkan suara jamaah. Ingatlah bahwa hari-hari ini di November 1945, realisasi semangat Resolusi Jihad (22 Oktober 1945) mempertahankan NKRI yang menjadikan Surabaya Kota Pahlawan, sejatinya bermula dari imam dan jamaah Masjidnya. Perang kemerdekaan bukan digerakkan dari “rumah karaoke” dan pusat perbelanjaan. Kalau kini rumah di mana Bung Tomo dahulu berpidato di tahun 1945 telah luluh-lantak, dan “rumah santri” dirobohkan sebelum “penghuninya” paham serta semuanya terang, benarkah Jasmerah pesan Bung Karno masih boleh diajarkan? ***
Tag :

Berita Terbaru

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Jurnalis Mojokerto Gelar Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang Saat Liput Anak Krakatau

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:46 WIB

SURABAYAPAGI.com, Mojokerto – Keprihatinan mendalam atas belum ditemukannya lima wartawan dan tiga kru ekspedisi Anak Krakatau menggugah solidaritas insan pers …

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Lawan Persiba di Surajaya, Kans Persela Amankan 3 Poin Cukup Terbuka

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

Senin, 14 Sep 2026 16:45 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Skuad Persela Lamongan terus mematangkan persiapan, dan menjaga asa dalam lanjutan laga Penggadaian Championship 2026/2027, saat…

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Unit Reskrim Polsek Kepanjenkidul Polres Blitar Berhasil Bekuk pelaku Curanmor

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:25 WIB

SURABAYAPAGI com, Blitar - Polsek Kepanjenkidul Wilayah Hukum Polres Blitar Kota, berhasil ungkap dan tangkap pelaku pencurian motor jenis Honda ADV warna…

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Lamongan Night Carnival Tanpa Sound Horeg,  Mampu Menghibur  Masyarakat

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:23 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Lamongan Night Carnival (LNC) tahun kedua tanpa sound horeg kembali menyedot animo masyarakat. Bahkan ribuan warga merasa terhibur…

Refleksi Kejadian 5 Wartawan Hilang Kontak, PWI dan IJTI Ingatkan "Tidak ada Berita Seharga Nyawa"

Refleksi Kejadian 5 Wartawan Hilang Kontak, PWI dan IJTI Ingatkan "Tidak ada Berita Seharga Nyawa"

Senin, 14 Sep 2026 15:18 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lamongan - Bertempat di Pendopo Alun-alun Lamongan, pada Senin (14/9/2026) pagi, sejumlah jurnalis yang tergabung di Persatuan Wartawan…

Bendera Hitam Kampung Pancasila, DPRD Surabaya: Harus Ada Indikator yang Objektif

Bendera Hitam Kampung Pancasila, DPRD Surabaya: Harus Ada Indikator yang Objektif

Senin, 14 Sep 2026 15:17 WIB

Senin, 14 Sep 2026 15:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyiapkan langkah tegas untuk mengawal keberhasilan program Kampung Pancasila. Perangkat daerah…