Terlibat Dugaan Suap Meikarta, Fitra Djaja Diamankan KPK

author surabayapagi.com

- Pewarta

Selasa, 16 Okt 2018 20:51 WIB

Terlibat Dugaan Suap Meikarta, Fitra Djaja Diamankan KPK

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Penangkapan Bupati Bekasi, Neneng Hassanah Yasin oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) atas kasus dugaan suap proyek Meikarta menyeret 9 orang tersangka. Diantaranya adalah Konsultan Lippo Group yang bernama Fitra Djaja Purnama. Lantas seperti apa sebenarnya Fitra Djaja Purnama dimata warga sekitar? Siapakah Fitra sebenarnya? Aktivis? LSM? Ataukah politisi. Berikut penulusuran Surabaya Pagi di kediaman Fitra Djaja Purnama usai diamankan KPK. Dari pantauan Surabaya Pagi, rumah Fitra yang berada di perumahan Kris Kencana, Jalan Kencanasari I, Surabaya, nampak sepi. Hanya beberapa kerabat yang berada di dalam rumah. Terlihat, para kerabat itu pun berkumpul seperti mendiskusikan sesuatu. Ketika wartawan Surabaya Pagi hendak mengambil gambar didepan rumahnya, salah seorang tukang kebun Fitra, Sarwi menanyakan maksud kedatangan wartawan tersebut. "Ada perlu apa pak, kok foto-foto," tanya Sarwi. Ditanya kebenaran rumah tersebut adalah milik Fitra, Sarwi tak membantah, namun ia mengatakan jika Fitra tidak ada dirumah. "Benar pak, tapi bapak tidak ada dirumah," jelas Sarwi, sambil meninggalkan wartawan, Selasa (16/10/2018) siang. Sementara itu, Narto, tetangga Fitra mengatakan tidak begitu mengenal pria yang pernah mencalonkan walikota pada tahun 2010-2015 itu. Namun, ia hanya mengenalnya sebagai seorang partai. Ia pernah bertemu dan mengobrol pas ketika perayaan 17 Agustus 2018 lalu. "Saya tak begitu kenal mas, orangnya cuman sering menyapa. Setahu saya orang partai, tapi saya ndak tau partai apa. Coba tanya pak RT mas, mungkin tahu," kata Narto. Surabaya Pagi pun menuju rumah Nurdiyan, Ketua RT08 RW06 yang tak bersampingan dengan rumah Narto. Kepada wartawan, Nurdiyan mengatakan jika Fitra sering menyapa kepada warga terutama kepadanya. Terakhir kali, Nurdiyan bertemu Fitra ketika ia mengurus izin kantor yang terletak disebelah rumahnya tersebut. "Pada saat itu, saya tanya pembangunan kantor, Pak Fitra bilang kalau buat kantor jual beli tanah. Karena saya RT, pak Fitra meminta izin saya. Kalau sore biasanya sering banyak ornag datang dan pergi mas," kata Nurdiyan. Banyaknya orang yang datang, Nurdian mengira jika selain bisnis jual beli tanah, Fitra juga seorang aktivis dan LSM. Ia menilai, banyak orang yang datang biasanya mengadakan diskusi. Ditanya terkait apakah Fitra orang partai, Nurdiyan mengatakan tidak tahu. "Saya tidak tahu mas, saya pikir malah orang LSM. Tadi saya sempat tanya tukang kebunnya Sarwi, katanya pak Fitra terkena masalah. Sarwi banyak tau mas, karena sudah bekerja lama disana," kata Nurdiyan. Masih kata Nurdiyan, Fitra tinggal di tempat tersebut sejak tahun 2012 lalu. Jika Idul Adha, Fitra sering berkuban Sapi, sering kali memyapa warga sekitar, namun jarang bergaul ataupun mengobrol. "Seringkali berkurban Sapi mas, warga sini jarang yang tau mas, karena orangnya juga ndak pernah kumpul warga, kumpul aja kalaupas perayaan 17 Agustusan," tambah Nurdiyan. Terpisah, Surabaya Pagi menuju tempat Fitra yang berada di Menanggal I no 46 Surabaya. Dari pantauan dilapangan, rumah terssbut digunakan untuk kantor Media dan LSM. Toni, warga sekitar mengatakan, rumah tersebut disebut sebagai kantor Sekertariat bersama. Terkadang digunakan untuk perkumpulan wartawan kadang orang-orang LSM. "Yang saya tau itu banyak orang LSM, kadang wartawan disana juga kumpul, itukan kantor seketariat bersama mas. Untuk LSM nya saya tidak tau mas," kata Toni. Dari pandangan Toni, ia menilai jika Fitra adalah orang yang baik. Itu terbukti, pada waktu Fitra mencalonkan walikota, suara yang didapatkan di Menanggal, Fitra menang telak. Namun ia tak menyangka jika Fitra terseret kasus Korupsi hingga di amankan KPK. "Saya ndak nyangka mas, padahal orangnya baik. Waktu pemilihan walikota, suara disini menang telak. Kadang kesininya malam mas, ke kontrakan itu," tutup Toni. Dalam kasus dugaan suap proyek Meikarta, KPK menetapkan 9 orang tersangka diantaranyaa tersangka diduga pemberi adalah Billy Sindoro (Direktur Operasional Lippo Group), Taryadi (konsultan Lippo Group), Fitra Djaja Purnama (konsultan Lippo Group), Henry Jasmen (pegawai Lippo Group) Sedangkan tersangka pihak diduga penerima adalah Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Bekasi Jamaludin, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Pemkab Bekasi Sahat MBJ Najor, Dewi Tisnawati (Kepala Dinas DPMPTSP Kabupaten Bekasi), dan Neneng Rahmi (Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUPR Kabupaten Bekasi). Para pejabat pemkab Bekasi yang ditetapkan sebagai tersangka diduga menerima total Rp 7 miliar dari pihak pemberi. Duit itu merupakan bagian dari commitment fee fase pertama Rp 13 miliar. jmi

Editor : Redaksi

Tag :

BERITA TERBARU