SURABAYA PAGI, Lamongan - Meski Lamongan sebagai daerah yang memenuhi target sensun penduduk (SP) online, sebesar 106,86 persen, namun Lamongan tak mengendorkan sensus tata muka yang akan dimulai 1 September 2020, dan pembukaan sensus tatap muka ini resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa secara virtual Senin, (31/8/2020).
Mengawali kegiatan itu, Kabupaten Lamongan sendiri penyematan atribut pada petugas sensus penduduk oleh Bupati Fadeli menjadi petanda dimulainya sensus offline yang akan dilaksanakan pada 1-14 September 2020 mendatang.
Hal ini dibuktikan dengan keberhasilan Kabupaten Lamongan dalam melampaui target SP Online yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat. Pemerintah Pusat menargetkan sekitar 18 juta keluarga di Indonesia akan berpartisipasi mensukseskan pelaksanaan SP Online 2020.
Kabupaten Lamongan berhasil menjadi satu-satunya kabupaten di Jawa Timur yang mampu mencapai bahkan melampaui target, dengan persentase keluarga clean terhadap target sebesar 106,86 persen.
Data jumlah clean sensus penduduk 2020 online di Kabupaten Lamongan yakni, dari 349.280 jumlah estimasi KK, terdapat 127.237 jumlah keluarga respon, dan tercatat 121.405 jumlah keluarga clean.
Adapun kecamatan yang tercatat memiliki antusiasme tertinggi yakni Kecamatan Lamongan, dengan besar jumlah keluarga clean sebesar 12.023 dari jumlah estimasi KK 18.971 (63,38 persen). “Saya mengucapkan terimakasih atas antusiasme masyarakat Lamongan dalam mensukseskan pelaksanaan SP Online 2020. Melalui partisipasi ini, mari kita bersama-sama bangun Indonesia dengan satu data kependudukan,” ujar Bupati Fadeli.
Sementara itu untuk mendukung terlaksannya SP 2020 di Kabupaten Lamongan, BPS Lamongan mengerahkannya 1.054 petugas sensus yang terdiri dari 38 orang petugas Task Force (TF), 68 orang petugas koordinator sensus kecamatan (KOSAKA) dan 948 orang petugas sensus (SP) diharapkan kedepannya tidak muncul jumlah penduduk yang berbeda-beda serta percepatan administrasi khususnya di Kabupaten Lamongan.
SP 2020 kali ini menggunakan metode kombinasi, yakni menggunakan data registrasi yang relevan dengan sensus, yang kemudian dilengkapi dengan sampel survei.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam kesempatan membuka kick off sensus online menyebutkan, di Jawa Timur sensus secara online baru 6 juta penduduk dari total 40,9 Juta penduduk Jawa Timur, jadi masih ada sekitar 34,12 juta yang belum.
Sehingga pada sensus offline ini harus kita maksimalkan, sesuai tujuan SP 2020 yakni menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk menuju satu data kependudukan Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Khofifah, pemutakhiran data tidak hanya akan merubah status keadministrasian, namun juga dapat memaksimalkan distribusi bansos yang telah disediakan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah agar tepat sasaran.
“SP 2020 merupakan momentum yang sangat tepat untuk kita semua dalam pemutakhiran data. Dari data yang valid dan terupdate itu dapat memaksimalkan distribusi bansos yang telah disediakan pemerintah pusat, provinsi, maupun daerah tepat sasaran,” tambahnya.jir
Editor : Redaksi