Budaya Unik Lotus Feet di China yang Dianggap Cantik

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Budaya Lotus feet atau bound feet adalah sebuah kondisi telapak kaki yang dimodifikasi. SP
Budaya Lotus feet atau bound feet adalah sebuah kondisi telapak kaki yang dimodifikasi. SP

i

SURABAYAPAGI.com, China - Lotus feet atau bound feet adalah sebuah kondisi telapak kaki yang dimodifikasi. Hasilnya terlihat unik saat memakai sepatu, tapi terlihat menakutkan saat telapak kaki itu kelihatan.

Di China pada zaman dahulu, kebiasaan ini dianggap mempercantik wanita. Mungkin hampir sama dengan memakai high heels di zaman modern.

Tradisi mengikat kaki untuk mendapatkan bentuk kaki yang indah merupakan salah satu ciri khas perempuan bangsawan di China sejak ribuan tahun lalu. Sepatu untuk lotus feet juga cantik dan banyak ragamnya.

Di China zaman dahulu, para wanita bangsawan sangat bangga memiliki kaki seperti ini. Sepatu untuk kaki ini juga memiliki hiasan yang indah-indah seperti sutra, benang emas, mutiara, dan lain-lain. Kaum lelaki pun sangat suka memilih wanita yang memiliki lotus feet.

Salah satu cerita sejarah yang terkenal mengenai lotus feet adalah kisah mengenai penari istana dari Dinasti Shang. Konon, sang penari cantik itu memiliki kaki yang kecil dan cenderung berbentuk runcing, sehingga gerakan tarinya menjadi sangat indah.

Kaisar Dinasti Shang menyukai tarian sang penari dan terus memuji kakinya. Kaisar merasa, kaki mungil itu mirip bunga lotus, sehingga kemudian kaki mungil menjadi tren di kalangan bangsawan perempuan China dan dikenal sebagai lotus feet.

Lebih dari 1.000 tahun lamanya tradisi lotus feet diwariskan turun-temurun kepada para anak cucu bangsawan China. Biasanya, gadis-gadis dari kalangan bangsawan akan dibentuk kakinya sejak mereka bayi atau setidaknya masih berusia di bawah 10 tahun.

Tetapi, rupanya tidak hanya perempuan dari kalangan bangsawan saja yang tertarik ingin memiliki kaki indah serupa bunga lotus ini, teman-teman. Tren lotus feet kemudian juga menjadi terkenal di kalangan rakyat biasa di China.

Meski tidak semua perempuan dari kalangan biasa membentuk kakinya menjadi lotus feet, karena mereka bekerja di ladang, sawah, dan sebagainya.

Pada masa itu, banyak dibuat sepatu-sepatu yang bermotif indah berukuran kecil. Itu berarti, masyarakat China sangat menyukai tren lotus feet, sehingga rata-rata sepatu bagus yang dijual hanya memiliki ukuran kecil.

Meski demikian, ternyata proses pembuatan kaki menjadi sebuah lotus feet sangat menyakitkan. Para anak perempuan itu harus merendam kakinya dalam rendaman air rempah, kemudian ada proses pematahan jari-jari kaki hingga bisa dilipat ke belakang.

Pada zaman dinasti Qing, kaisarnya yang bijaksana yang bernama Kang Xi sempat melarang lotus feet yang sudah berlangsung ratusan tahun ini. Tetapi berhubung ia adalah kaisar dari ‘suku’ lain, peringatan ini tidak begitu diindahkan oleh wanita-wanita suku Han (suku mayoritas).

Oleh sebab itu, pelarangan ini tidak berhasil karena masyarakat di zaman itu sangat menyukainya dan merupakan lambang kecantikan dan prestise. Di zaman modern, masih ada beberapa wanita tua di China yang masih memiliki kaki ini. Hal ini terjadi karena mereka sempat menjalani proses ini sebelum pelarangan terjadi. Dsy14

Berita Terbaru

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang bersih dan t…

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

SURABAYA PAGI, Malang - BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan fitur antrean online pada Layanan Tanpa Kontak Fisik atau Lapak Asik mulai 1 April 2026 guna …

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Kawasan yang b…

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya mulai menyidangkan perkara dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa T…

PKL Alun-alun Madiun Tolak Relokasi, Tempat Baru Dinilai Merugikan Pedagang 

PKL Alun-alun Madiun Tolak Relokasi, Tempat Baru Dinilai Merugikan Pedagang 

Kamis, 02 Apr 2026 14:01 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 14:01 WIB

SURABAYAPAGI.com, Kota Madiun - Pedagang kaki lima (PKL) di kawasan alun-alun Kota Madiun menolak relokasi yang direncanakan Pemkot Madiun. Alasannya tempat…

Lem Rajawali Lakukan Transformasi Brand 2026, Luncurkan Produk Baru dan Perkuat Ekspansi Pasar

Lem Rajawali Lakukan Transformasi Brand 2026, Luncurkan Produk Baru dan Perkuat Ekspansi Pasar

Kamis, 02 Apr 2026 13:57 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 13:57 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Lem Rajawali, brand milik Mikatasa Group, resmi melakukan transformasi brand secara menyeluruh pada 2026 sebagai upaya memperkuat p…