Akumulasi Utang Indonesia Rp 12 Ribu Triliun, Itu Berbahaya

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Imron Mawardi
Imron Mawardi

i

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Muhammad Said Didu, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, 2005-2010 menganalogikan, utang Indonesia seperti halnya seorang ayah yang memberikan rumah mewah kepada anaknya, namun rumah tersebut diperoleh dari hasil utang. Singkatnya, anak tersebut dikemudian hari berkewajiban untuk membayar utang rumah mewah pemberian ayahnya tersebut. Pasalnya, jumlah utang Indonesia, pada akhir tahun 2020 mencapai angka Rp12.240,32 triliun.

“50 persen lebih pendapatan negara dipakai untuk membayar utang. Itu kemampuan membayar kita sangat rendah,” tutur Muhammad Said Didu di kanal YouTube MSD yang diunggah Senin, (5/4/2021).

Said Didu kemudian menjelaskan, kondisi yang dialami Indonesia biasanya dialami oleh negara dengan tax rasionya rendah, biasanya negara yang korupsinya tinggi. “Itu terjadi kongkalikong antara pembayar pajak, penerima negara, dan penguasa,” kata Muhammad Said Didu.

Tak heran, dari catatan rasio utang Indonesia terhadap PDB Indonesia yang mencapai 38,68%, mendapat kritikan dari pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair), Dr. Imron Mawardi, SP., M.Si.

Menurut Imron, ukuran perhitungan utang yang harus digunakan oleh pemerintah dalam hal ini menteri keuangan adalah kemampuan negara membayar utang tersebut. Kemampuan negara membayar utang dilihat dari rasio pendapatan pajak selama 1 tahun. "Di Indonesia, tax ratio kita itu hanya 10%, bahkan di bawah 10 persen. Yang artinya apa, ketika ratio hutang kita terhadap PDB 30%, itu sudah setara dengan 3 tahun pendapatan pajak," kata Imron kepada Surabaya Pagi, Selasa (06/04/2021).

Bila membandingkan dengan negara-negara di Eropa, memang rasio hutang terhadap PDB mereka cukup tinggi diangka 40%. Namun kata Imron, rasio pajak atau pendapatan negara mereka dalam setahun mencapai 40% pula. "Artinya hutang negara-negara di Eropa itu setara dengan 1 tahun saja. Meskipun hutangnya lebih tinggi dari pada Indonesia," katanya

Oleh karenanya, Imron menghimbau agar pemerintah jangan menggunakan ukuran rasio hutang dibanding PDB, melainkan menggunakan perhitungan rasio pajak. "Karena itu pemerintah, menteri keuangan jangan hanya melihat ratio hutang terhadap PDB tetapi lihatlah pada kemampuan bayar pemerintah yaitu dari tax ratio. Jadi kalau menurut saya, utang Indonesia saat ini sudah cukup besar. Harus hati-hati," tegasnya

 

Utang Boleh, Asal Produktif

Kendati menyebut utang Indonesia sangat beresiko, Imron tidak mempersoalkan pembangunan suatu negara dari uang hasil utangan.

Menurutnya, utang diperbolehkan asalkan ditujukan untuk memajukan perekonomian yanng berdampak pada pendapatan pajak negara.

"Boleh (utang). Sebetulnya utang itu baik, asalkan utang itu digunakan untuk sesuatu yang produktif, yang bisa menghasilkan," katanya.

Saat dikonfirmasi, dengan menganalogikan sebuah rumah mewah yang dibelikan ayahnya, namun digunakan untuk anaknya, Imron menilai analogi yang tepat. Namun, menurutnya, hal itu bisa menjadi tindakan produktif, karena memiliki dampak ekonomi yang panjang.

"Utang yang digunakan untuk membangun itu, harapan setelah membangun infrastruktur ekonomi kita tumbuh. Lalu kalau ekonominya tumbuh, pajaknya naik. Tapi perlu diingat, pertumbuhan ekonomi setelah infrastruktur ini kan panjang. Oleh karenanya pemerintah harus bijak dalam kebijakan utang," ucapnya

 

Membebani APBN dan Generasi Berikutnya

Persoalan utang negara sebetulnya pada kemampuan negara membayar utang. Anggaran negara dalam membayar utang selalu diambil dari APBN.

Menurut Imron, dengan adanya utang yang tinggi maka anggaran APBN yang sebelumnya dimanfaatkan untuk pembangunan akhirnya terpotong akibat harus membayar utang.

"Misalnya APBN kita Rp 2.100 triliun. Kalau 500 triliun harus dipakai bayar hutang, jadi kan tinggal 1600 triliun. Belum digunakan untuk kebutuhan rutin, gaji PNS, TNI, Polri. Nanti anggaran pembangunan akan tinggal sedikit maka hasilnya juga akan menghambat pembangunan," katanya

Selain membebani APBN, utang yang cukup tinggi juga akan membebani generasi berikutnya, karena harus ikut membayar utang negara melalui beban pajak. "Memang hutang yang tadi itu digunakan untuk membangun, itu kan membebani generasi berikutnya karena ikut membayar. Jadi sekali lagi pemerintah harus bijak dalam kebijakan hutang ini sehingga tidak membebani generasi berikutnya nanti," ucapnya

Dari angka 1 hingga 5, resiko utang Indonesia menurut Imron berada diangka 3. Dengan catatan, angka 1 masih dalam kondisi aman, angka 2 sedikit beresiko, angka 3 beresiko, angka 4 sangat beresiko dan 5 gagal bayar.

"Saya kasih angka 3. Jadi pemerintah sudah harus waspada. Kenapa? Karena kalau butuh 3 tahun pendapatan pajak, itu berarti bisa diasumsikan negara gak berjalan. Artinya itu sudah beresiko karena hutang itu sudah setara dengan pendapatan pajak selama 3 tahun tadi," tegasnya. sem/cr2/rmc

Berita Terbaru

SPDP Tak Diterima Sebelum Pemeriksaan, Dua Eks Direktur BPR Madiun Gugat Penetapan Tersangka

SPDP Tak Diterima Sebelum Pemeriksaan, Dua Eks Direktur BPR Madiun Gugat Penetapan Tersangka

Jumat, 28 Agu 2026 19:21 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 19:21 WIB

‎SURABAYAPAGI.com, Madiun – Dua mantan Direktur Perumda BPR Bank Daerah Kota Madiun, Sugeng Mukti Wibowo (SMW) dan Ahmadu Malik Dana Logistia (AD), mem…

‎Mentirakati Indonesia, Mahasiswa Madiun Kenang Setahun Tragedi Agustus

‎Mentirakati Indonesia, Mahasiswa Madiun Kenang Setahun Tragedi Agustus

Jumat, 28 Agu 2026 18:36 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 18:36 WIB

‎SURABAYAPAGI.com, Madiun – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Madiun menggelar aksi simbolis bertajuk “Mentirakati …

Wilbex 2026, Hadirkan Pasar Produk Ibu dan Anak di Surabaya

Wilbex 2026, Hadirkan Pasar Produk Ibu dan Anak di Surabaya

Jumat, 28 Agu 2026 17:22 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 17:22 WIB

SurabayaPagi, Surabaya — Pameran kebutuhan ibu, bayi, dan anak, Willow Baby Expo (Wilbex) kembali digelar di Surabaya. Memasuki penyelenggaraan 2026, Wilbex V…

Nenek di Blitar Tercebur ke Sumur Bekas Pembuangan Sampah

Nenek di Blitar Tercebur ke Sumur Bekas Pembuangan Sampah

Jumat, 28 Agu 2026 16:41 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 16:41 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Nenek Suwarti berusia 70 tahun warga Kel. Beru, Kec. Wlingi, Kab. Blitar, tadi jelang Sholat Jumat, 28 Agustus 2026, sekitar pukul…

Luncurkan Majelis Pemberdayaan Indonesia, Cak Imin Dorong Pesantren Jadi Kekuatan Ekonomi

Luncurkan Majelis Pemberdayaan Indonesia, Cak Imin Dorong Pesantren Jadi Kekuatan Ekonomi

Jumat, 28 Agu 2026 16:35 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 16:35 WIB

SurabayaPagi, Jombang - Majelis Pemberdayaan Indonesia resmi digaungkan sebagai langkah strategis memperkuat pemberdayaan masyarakat dan mengatasi persoalan…

Dugaan Pesta Miras Pelajar di Gresik Jadi Alarm Keras, KBPPPA: Jangan Hanya Menghukum Anak

Dugaan Pesta Miras Pelajar di Gresik Jadi Alarm Keras, KBPPPA: Jangan Hanya Menghukum Anak

Jumat, 28 Agu 2026 15:31 WIB

Jumat, 28 Agu 2026 15:31 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – Dugaan pesta minuman keras (miras) yang melibatkan sejumlah pelajar SMP di Kabupaten Gresik menjadi alarm serius bagi dunia p…