Ketidaktahuan Ilmiahnya, Penanganan Covid-19 di Indonesia Serba Salah

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Siti Fadilah Supari

Mantan Menteri Kesehatan
Siti Fadilah Supari Mantan Menteri Kesehatan

i

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saya mempertanyakan penyebab lonjakan kasus kematian akibat Covid-19 di Indonesia.

Pertanyaan ini karena saya heran sejauh ini vaksinasi sudah berjalan, tapi orang masih terpapar covid-19.

Padahal sebelumnya, pemerintah telah menyatakan vaksinasi bisa mengurangi gejala jika seseorang terinfeksi Covid-19.

Namun, nyatanya vaksin tidak mencegah seseorang tertular Covid-19.

Padahal sebelum vaksinasi dimulai itu morbiditas (kasus positif) dan mortalitas (kematian) ada berapa? Setelah vaksinasi dimulai sampai kira-kira 10 juta orang divaksin, morbiditas dan mortalitas seperti apa?, lho kok malah meningkat?" Pertanyaannya sanggupkah Sistem Kesehatan Mengatasinya.

Saya nyatakan pemerintah seharusnya tidak menggunakan perkiraan sebagai landasan pengambilan kebijakan dalam penanganan pandemi Covid-19.

karena menurut saya seluruh kebijakan yang diambil harus melalui proses penelitian ilmiah, termasuk soal lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini.

Karena itu, ketidaktahuan pada substansi ilmiah membuat penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia serba salah.

Jangan kira-kira rakyat tidak disiplin, kira-kira pada keluyuran, jangan kira-kira. Kita harus cari betul, kematian sebelum divaksin dan kematian setelah vaksinasi berjalan.

Maka pentingnya penelitian berbasis ilmiah di dalam melawan narasi pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO.

Saya ingatkan saat menganalisis perbedaan sikap Indonesia dengan China melawan keputusan WHO tentang pandemi flu burung dan COVID-19.

Seorang ahli jantung pernah bertanya saya melawan dengan ilmu. Saya melawan substansi

Karena itu saya perlu bercerita Indonesia pernah menolak keputusan WHO terkait terjadinya pandemi flu burung yang episentrumnya di Kabupaten Karo, Sumatra Utara.

WHO, saat itu, malah sudah membuat isu terjadi penularan flu burung antarmanusia di Indonesia yang diawali dari unggas.

Sebagai alumnus Universitas Gadjah Mada saya kemudian mengecek dan meneliti langsung ke lapangan atas isu dar WHO.

Menurut saya hasil penelitian justru menyatakan tidak ada reseptor yang bisa menghubungkan penyakit flu burung dari unggas ke manusia. Begitu juga tidak adanya reseptor antarmanusia menulari flu burung.

Bahkan ada temuan saintifik, maka mereka (WHO, red) mundur teratur.

Namun, saya tidak melihat perlawanan dari sisi saintifik guna melawan keputusan WHO tentang pandemi COVID-19 di China.

Bahkan saya cermati China tampak tidak berdaya melawan keputusan pandemi, sehingga penularan COVID-19 menjalar ke negara lain hingga Indonesia.

Episentrumnya di Wuhan, China, kendali di mereka (WHO, red), karena WHO diizinkan mengatakan itu pandemic di Wuhan.

Adanya dukungan pemerintah di dunia juga kuat pada saat Indonesia melawan keputusan WHO tentang pandemi flu burung. Di sisi lain, saya tidak melihat negara dunia bersatu melawan penetapan pandemi COVID-19 yang episentrumnya di Wuhan, China.

Bahkan waktu itu dunia berpihak ke kita. Menkes di seluruh dunia, hampir 80 persen ada di belakang Indonesia. (Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, diskusi virtual yang disiarkan Partai Gelora di YouTube, Jumat 2 Juli 2021)

Berita Terbaru

MUI Lamongan Sambangi PCNU, Bahas Tawuran Perguruan Silat hingga Peredaran Miras

MUI Lamongan Sambangi PCNU, Bahas Tawuran Perguruan Silat hingga Peredaran Miras

Sabtu, 17 Okt 2026 19:54 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:54 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan  – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lamongan melakukan silaturahmi dan audiensi dengan Pengurus Cabang Na…

Industri Perhiasan Bidik Tren 2027, Desain Ringan dan Batu Permata Buatan Jadi Alternatif

Industri Perhiasan Bidik Tren 2027, Desain Ringan dan Batu Permata Buatan Jadi Alternatif

Sabtu, 17 Okt 2026 19:51 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:51 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Industri perhiasan bersiap menghadapi perubahan tren pada 2027. Desain berukuran besar dengan bobot lebih ringan, pilihan warna yang s…

Favehotel Sidoarjo Hadirkan Family Room Akomodasi Spesial Untuk Tamu berkeluarga

Favehotel Sidoarjo Hadirkan Family Room Akomodasi Spesial Untuk Tamu berkeluarga

Sabtu, 17 Okt 2026 19:15 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 19:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Favehotel Sidoarjo selalu berinovasi untuk memberikan pengalaman menginap yang menarik dan menyenangkan bagi para tamu …

Polres Blitar Kota Ungkap Pelaku Pembuang Bayi Perempuan Terbungkus Plastik, Pelaku Berstatus Mahasiswi

Polres Blitar Kota Ungkap Pelaku Pembuang Bayi Perempuan Terbungkus Plastik, Pelaku Berstatus Mahasiswi

Sabtu, 17 Okt 2026 13:25 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 13:25 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Tak kurang waktu dari 24 Jam, Unit PPA Sat.Reskrim Polres Blitar Kota bersama dengan Polsek Srengat berhasil mengungkap pelaku…

Sambangi Media Center Mojokerto, AKBP Herdiawan Pamitan Mutasi ke Polda Jatim

Sambangi Media Center Mojokerto, AKBP Herdiawan Pamitan Mutasi ke Polda Jatim

Sabtu, 17 Okt 2026 12:27 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 12:27 WIB

  SURABAYA PAGI.com, Mojokerto, – Mantan Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Herdiawan Arifianto, S.H., S.I.K., M.H., berpamitan kepada wartawan yang tergabung da…

Penjaga Parkir di Surabaya Terima Bantuan Bedah Rumah, Nur Fadillah: Terima Kasih Pak Prabowo

Penjaga Parkir di Surabaya Terima Bantuan Bedah Rumah, Nur Fadillah: Terima Kasih Pak Prabowo

Sabtu, 17 Okt 2026 11:47 WIB

Sabtu, 17 Okt 2026 11:47 WIB

SurabayaPagi, Surabaya — Harapan Nur Fadillah untuk memiliki rumah yang layak huni mulai menemukan titik terang. Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai p…