Penanganan Sampah Belum Maksimal, DLH Jember Minta Maaf

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember.
Kantor Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember.

i

SURABAYAPAGI.COM, Jember - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur meminta maaf lantaran belum bisa menangani persoalan sampah secara maksimal. Menurut Kepala DLH Jember Sugiarto, penanganan sampah membutuhkan partisipasi masyarakat dan investasi pihak ketiga.

“Saya mohon maaf kepada masyarakat Jember, apabila sampai saat ini permasalahan sampah hanya sebatas menjadi perbincangan kita. Artinya belum terselesaikan. Kalau sudah terselesaikan saya yakin tidak akan ada perbincangan lagi,” kata Sugiarto, Selasa (21/2/2023).

Jumlah timbunan sampah yang ditangani Pemerintah Kabupaten Jember pada 2021 mengalami peningkatan, yakni 34,5 persen dari 462,95 ribu ton jumlah sampah atau setara dengan 159.71 ribu ton. Sementara pada 2020 timbunan sampah yang dapat ditangani 11,8 persen dari 447.24 ribu ton sampah atau 52.75 ribu ton. Saat ini, Sugiarto memperkirakan, produksi sampah di Kabupaten Jember, Jawa Timur mencapai 1.200 ton per hari.

Ada dua jenis sampah yang harus ditangani, yakni organik dan anorganik. Potensi sampah anorganik untuk dibuat refuse derived fuel (RDF) cukup besar. RDF berasal dari sampah yang mudah terbakar dan memiliki nilai kalor tinggi, seperti plastik, kertas, kain, dan karet atau kulit.

“PT Imasco (pabrik semen di Puger) setiap hari membutuhkan 250 ton bahan bakar. Selama ini masih pakai batu bara. Batu bara ini bisa kita substitusi dengan RDF,” tuturnya.

“Cuma masalahnya, nilai investasi RDF lumayan fantastis. Penghitungan kami bersama teman-teman dan Imasco, kalau kita bisa memproduksi 100 ton per hari, maka dibutuhkan Rp 92-95 miliar. Kami berupaya mencari pihak ketiga sebagai investor untuk membantu penanganan sampah di Jember,” imbuhnya.

Selain sampah anorganik, penanganan sampah organik juga membutuhkan perhatian serius. Ketua Tim Lingkungan Universitas Jember Tri Ratnasari menuturkan, timbunan sampah organik secara nasional adalah 38,4 juta ton per tahun atau sekitar 60 persen dari populasi di Indonesia.

Sumber terbanyak secara nasional berasal dari rumah tangga, yakni sekitar 48 persen, dan pasar tradisional sekitar 24 persen. Komponen pemumbang terbesar adalah sampah makanan. Rata-rata setiap orang di Indonesia membuang 300 kilogram makanan ke tempat sampah setiap tahun. Ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua terbesar dalam hal pembuangan sampah makanan setelah Arab Saudi.

Setiap hari DLH Jember hanya bisa mengangkut 360 ton sampah organik dan anorganik. Maka dari itu, DLH akan membeli empat unit mesin pemilah sampah di tahun ini.

“Jumlah sampah kita besar. Kalau kita memilah secara manual, tidak mampu. Mesin tersebut selain memilah sampah organik dan anorganik, juga bisa menjadi mesin pembubur. Sebelum sampah organik ini kembali ke alam, kita buat siklus dulu untuk menghasilkan uang. Itu akan kita lakukan,” terangnya.

Menurutnya, sampah organik ini bisa menjadi bahan baku untuk pabrik pupuk organik yang akan didirikan pemerintah daerah.

“Kami siap bahan bakunya. Mau yang berbentuk kasgot dari magot atau pun hasil pemilahan mesin pemilah kita. Kita siap mau berapa ratus ton, karena kita ada 360 ton sampah (yang diangkut setiap hari),” tuturnya.

DLH sebenarnya bisa mengangkut sampah 248 desa dan kelurahan di Jember. Namun Sugiarto ingin masalah sampah diselesaikan di hulu dengan partisipasi masyarakat. Di sejumlah lokasi, partisipasi masyarakat mulai terlihat.

Saat ini masyarakat di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, memproduksi magot di Baratan sebanyak 17 ton per bulan. Sementara itu, selama tiga bulan terakhir ini, masyarakat mulai memproduksi magot di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di Kecamatan Pakusari. Sebanyak 46 ton magot diproduksi setiap bulan di Pakusari.

“Dari sana, koperasi (yang mengelola) bisa menghasilkan omzet Rp 276 juta per bulan. Artinya, sampah organik kita sebelum kembali ke alam masih bisa menghasilkan rupiah,” ucapnya.

Dengan besarnya potensi tersebut, Sugiarto juga berharap ada bank sampah di setiap desa dan kelurahan yang mengelola sampah tersebut.

“Komunitas (di masyarakat) kita harapkan bersama bank sampah di tiap desa dan kelurahan berkolaborasi untuk menghidupkan ekonomi di sana,” ujarnya.

“Kalau di setiap desa ada bank sampah, maka yang dikelola hanya sedikit. Mungkin cuma sekitar 20 ton tidak sampai. Dengan jumlah itu, pengelolaan secara manual bisa dilakukan. Kita bisa menghidupkan ekonomi di desa tersebut. Penganggarannya bisa melalui dana desa,” imbuhnya.

Sementara untuk menghidupkan komunitas peduli sampah, Sugiarto berharap perbankan mau membantu akses permodalan.

“Masalah utamanya di pendanaan, infrastruktur, dana sarana prasarana. Bagaimana pun mereka tetap butuh alat angkut. Selama ini pihak ketiga yang bekerja sama dengan komunitas adalah Perum Pegadaian,” pungkasnya. jbr

Berita Terbaru

Takmir Masjid di Bayubang Lamongan Ajukan Pemindahan Gardu Trafo, PLN Patok Rp 80 Juta Menjadi Viral

Takmir Masjid di Bayubang Lamongan Ajukan Pemindahan Gardu Trafo, PLN Patok Rp 80 Juta Menjadi Viral

Kamis, 02 Apr 2026 20:15 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 20:15 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Takmir Masjid At-Taqwa di Desa Bayubang Kecamatan Solokuro Lamongan Jawa Timur, dibuat murka oleh pelayanan PLN, lantaran…

Dampak Efesiensi, Pemkab Lamongan Pangkas Perjalanan Dinas Sampai 50 Persen

Dampak Efesiensi, Pemkab Lamongan Pangkas Perjalanan Dinas Sampai 50 Persen

Kamis, 02 Apr 2026 20:08 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 20:08 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan - Sebagai langkah kongkrit dalam komitmen menjalankan instruksi Pemerintah Pusat untuk efesiensi energi, Pemkab Lamongan telah…

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Tekankan Transparansi dan Akuntabilitas Pembangunan Infrastruktur, KSPI PT PLN Kunjungi GITET Surabaya Selatan

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 18:47 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam menjalankan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang bersih dan t…

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Permudah Pengajuan Klaim, BPjS Ketenagakerjaan Hadirkan Fitur Layanan 'Lapak Asik'

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 17:15 WIB

SURABAYA PAGI, Malang - BPJS Ketenagakerjaan menghadirkan fitur antrean online pada Layanan Tanpa Kontak Fisik atau Lapak Asik mulai 1 April 2026 guna …

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Reklamasi Diduga Tanpa Kepastian Izin di Pesisir Gresik, Nelayan Kehilangan Ruang Hidup

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:37 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Dugaan pencaplokan wilayah laut kembali mencuat di pesisir Desa Manyarejo, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik. Kawasan yang b…

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Sidang Perdana Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Ponpes Al Ibrohimi Gresik Digelar di Pengadilan Tipikor Surabaya

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

Kamis, 02 Apr 2026 15:34 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik — Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya mulai menyidangkan perkara dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Provinsi Jawa T…