Situs Makam Kuno, Penyebar Agama Islam di Banyuwangi

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Makam Buyut Sayu Atikah di Bukit Giri
Makam Buyut Sayu Atikah di Bukit Giri

i

SURABAYAPAGI.COM, Banyuwangi - Sebagai sebuah pemukiman kuno Banyuwangi memiliki banyak jejak peninggalan sejarah, baik sejarah kerajaan maupun jejak-jejak sejarah tentang penyebaran dan masuknya Islam ke wilayah kabupaten yang dahulu dikenal dengan nama Blambangan. Dari sekian banyak situs sejarah yang ditemukan, terdapat beberapa situs makam kuno tokoh-tokoh penyebar Islam di wilayah ini, yakni Situs Makam ‘Buyut Sayu Atikah’ dan Situs Makam Kyai Saleh.

Salah satu makam kuno yang diperkirakan dibangun pada abad XV adalah Makam ‘Buyut Sayu Atikah’ yang terletak di sisi sebelah barat Kota Banyuwangi, tepatnya di wilayah Kelurahan Giri, Kecamatan Giri. Makam kuno yang berada di atas sebuah bukit kecil yang oleh warga sekitar disebut ‘Puthuk Giri’ atau Bukit Giri itu baru ditemukan sekitar tahun 1920-an. Lokasinya juga tidak jauh dari jalur jalan raya. Namun untuk mencapai makam kuno tersebut hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki melewati jalan setapak atau menggunakan sepeda motor. Meski demikian, tidak sedikit orang yang sengaja datang berkunjung ke makam tersebut, baik yang mengaku hanya ziarah atau untuk alasan lain seperti; tirakat, dan sebagainya. Mereka bahkan banyak yang menginap di lokasi makam.

Mengutip buku “Mengenal Sejarah dan Kebudayaan Banyuwangi” yang ditulis Drs Suhalik, seorang Raja Blambangan bernama Prabu Menak Sembuyu mempunyai seorang cucu bernama Putri Sekardadu. Cucu sang raja ini kemudian masuk Islam dan berganti nama menjadi ‘Sayu Atikah’ setelah dinikahkan dengan Maulana Ishak atau yang juga dikenal dengan nama Syekh Wali Lanang, setelah Maulana Ishak berhasil menyembuhkan cucu sang Raja itu dari penyakitnya. Maulana Ishak sendiri berasal dari Samudera Pasai. Dia datang ke Blambangan (cikal bakal Banyuwangi) pada abad 15 karena mendapat perintah dari Raja Pasai untuk meng-islamkan Blambangan yang kala itu masih Hindu. 

Menurut cerita sejarah, oleh Raja Blambangan kala itu Maulana Ishak diperbolehkan menyebarkan Islam tetapi terbatas hanya kepada masyarakat biasa di luar istana. Namun, Maulana Ishak kemudian dianggap melanggar karena juga menyebarkan ajaran Islam di kalangan pejabat istana. Karena itu, Maulana Ishak kemudian diusir dari Blambangan. Dan anak yang dikandung istrinya yakni Putri Sekardadu atau Sayu Aikah, harus dilarung ke laut. 

Alkisah, Bayi yang dilarung itu ditemukan oleh seorang nahkoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada seorang saudagar perempuan bernama; Nyai Ageng Pinatih dari Gresik. Bayi itu diberi nama; Raden Muhammad Ainul Yakin alias Raden Paku, yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri, salah satu dari ‘Wali Songo’ penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

Tidak terlalu jauh dari lokasi makam Buyut Sayu Atikah, juga terdapat sebuah makam kuno tokoh penyebar Islam di Banyuwangi, yakni Makam Kyai Saleh yang berada di Jalan Riau, Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Menurut catatan juru kunci, makam kuno Kyai Saleh ini pernah diziarahi oleh KH Ma’ruf Amin (Wakil Presiden saat ini) saat berkunjung ke Banyuwangi pada 31 Oktober 2018. Saat itu, muncul pertanyaan dari seorang wartawan tentang siapa sebenarnya Kyai Saleh ini. Kala itu KH Ma’ruf Amin menjawab singkat, “Kyai Saleh Lateng ini adalah salah satu Pendiri NU,” ungkapnya.

Dalam kiprahnya sebagai salah satu pendiri organisasi Islam terbesar ini, Kyai Saleh pernah ditunjuk oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah untuk menjadi anggota Muassis-Mukhtasar (formatur) pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama. Kyai yang ahli dalam Kitab Alfiyah’ ini juga tercatat sebagai salah satu tokoh dibalik berdirinya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).

Kyai Saleh adalah seorang ulama sakti keturunan raja-raja Palembang, Sumatera. Namanya memang tidak sepopuler nama ulama-ulama lain, mungkin karena Kyai Sholeh tidak memiliki pesantren yang eksis hingga saat ini. Meskipun hanya ‘Kyai Surau’, namun nama beliau cukup disegani oleh ulama-ulama yang memiliki pesantren-pesantren besar di Jawa dan Madura. 

Kyai surau ini disegani ulama karena menjadi salah satu tokoh kunci pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang seorang kemerdekaan Indonesia. Kyai Saleh lahir di Kampung Mandar, Kota Banyuwangi pada hari Ahad, 6 Ramadhan 1278 H atau 7 Maret 1862 M dengan nama Kiagus Muhammad Saleh. Ayah beliau bernama Kiagus Abdul Hadi dan Ibunya bernama Aisyah berasal dari Kelurahan Panderejo Banyuwangi. 

Pada usia 15 tahun Kyai Saleh mulai mengembara ilmu di beberapa Ponpes diantaranya di Kyai Mas Ahmad, Kebon Dalem, Surabaya. Tak lama kemudian beliau meneruskan mondok ke Kyai Kholil di Bangkalan Madura. Bahkan untuk menambah khasanah keilmuannya, Kyai Saleh juga pernah belajar ke Bali, yakni kepada Tuan Guru Muhammad Said di Jembrana, Bali. Selepas menuntut ilmu di Bali, beliau kemudian meneruskan belajar ke Tanah Suci Mekkah dan tinggal selama enam tahun disana. 

Sekitar tahun 1900 M atau setelah berusia sekitar umur 38 tahun, Kyai Saleh kembali pulang ke kampung halamannya di Lateng, Banyuwangi. Di kampung inilah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk menyebarkan Islam Ahlus Sunnah Waljamaah hingga ke seluruh penjuru Banyuwangi. bud/adv

Berita Terbaru

Syarat Tambahan Rekening Minimal 30?lam Perwal Dinilai Membuka Terjadinya Monopoli Proyek

Syarat Tambahan Rekening Minimal 30?lam Perwal Dinilai Membuka Terjadinya Monopoli Proyek

Minggu, 09 Agu 2026 11:18 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 11:18 WIB

‎‎SURABAYAPAGI.COM, Madiun - Peraturan Walikota (Perwal) Madiun Nomor 53 Tahun 2021 tentang tambahan persyaratan dokumen pemilihan pekerjaan jasa konstruksi mel…

Mobil di Blitar Hangus Terbakar Akibat Konsleting Listrik, Kerugian Capai Rp200 Juta Lebih

Mobil di Blitar Hangus Terbakar Akibat Konsleting Listrik, Kerugian Capai Rp200 Juta Lebih

Minggu, 09 Agu 2026 10:54 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:54 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kebakaran terjadi lagi, kali ini menimpa rumah milik Imam Badri 63 warga desa Kelurahan/Kec.Srengat, saat korban memansi mesin…

Semarakan HUT RI ke-81, Kantor Imigrasi Blitar hadirkan Layanan Paspor Program Pasporia

Semarakan HUT RI ke-81, Kantor Imigrasi Blitar hadirkan Layanan Paspor Program Pasporia

Minggu, 09 Agu 2026 10:53 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:53 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kantor Imigrasi Blitar menghadirkan layanan paspor akhir pekan melalui program Pasporia sebagai bagian dari semarak peringatan Hari…

Dampingi Kunjungan Cak Imin di Gresik, Kapolres Ramadhan Nasution Titip Pesan Penting untuk Pelajar

Dampingi Kunjungan Cak Imin di Gresik, Kapolres Ramadhan Nasution Titip Pesan Penting untuk Pelajar

Minggu, 09 Agu 2026 10:52 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:52 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution mendampingi kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI Abdul M…

PT Smelting Buka Suara soal Dentuman Keras di Smelter: Material Suhu Tinggi Bertemu Air

PT Smelting Buka Suara soal Dentuman Keras di Smelter: Material Suhu Tinggi Bertemu Air

Minggu, 09 Agu 2026 10:50 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:50 WIB

SURABAYAPAGI.com, Gresik – Manajemen PT Smelting akhirnya memberikan penjelasan resmi terkait suara dentuman keras yang menggemparkan warga di sekitar kawasan i…

l Nino Kuat Ancam Jatim, Fraksi PDIP DPRD Minta Pemprov Tinggalkan Pola Dropping Air

l Nino Kuat Ancam Jatim, Fraksi PDIP DPRD Minta Pemprov Tinggalkan Pola Dropping Air

Minggu, 09 Agu 2026 10:49 WIB

Minggu, 09 Agu 2026 10:49 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ancaman El Nino kuat yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026 menjadi ujian serius bagi tata kelola sumber …