SurabayaPagi, Surabaya - Insiden tenggelamnya perahu nambangan di sungai Kebraon, Surabaya pada Sabtu, (25/3/2023) kemarin meninggalkan duka bagi Ketua Dewan Pakar DPP Partai Gerindra Bambang Harjo Soekartono (BHS).
Bersama Tim BHS Peduli, BHS meninjau lokasi tenggelamnya perahu nambangan yang menimbulkan dua korban luka dan 1 korban meninggal dunia tersebut.
"Saya ikut prihatin dan turut berduka cita yang mendalam karena adanya korban di transportasi perahu tambangan yang biasa menyeberanglan warga dari arah Klaten ke arah Pagesangan," Ujar BHS, Senin (27/3/2023).
BHS menjelaskan atas terjadinya peristiwa ini, pemerintah harusnya turut berperan dalam memberikan regulasi pada warga agar dapat memberikan transportasi yang aman, khususnya moda transportasi air.
"Luangkan waktu dan anggarannya untuk membantu mereka didalam menyiapkan armada yang memiliki standarisasi keselamatan yang cukup," Ujarnya.
Atas terjadinya peristiwa ini, BHS berharap agar penyedia layanan penyeberangan tidak ditindak secara hukum. BHS beranggapan bahwa pemilik perahu tersebut juga merupakan korban.
"Karena pemilik perahu ini juga sudah berkorban secara maksimal. Dimana ia telah menyediakan transportasi dimana tempat yang harusnya sudah dibangun jembatan yang dibutuhkan oleh masyarakat," Ujarnya.
BHS menyebut pemilik perahu yang menyediakan sarana penyeberangan juga tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah dalam hal biaya untuk merawat armadanya.
Tenggelamnya perahu ini juga membuat BHS bersama tim BHS peduli juga berinisiatif memberikan sumbangan berupa 3 alat keselamatan di setiap perahu nambangan yang totalnya mencapai 18 perahu di Kecamatan Karangpilang.
"Ini diharapakan menjadi pemicu untuk pemerintah agar mau membantu masyarakat dan mau hadir di meninjau perahu tambangan ini. Karena meskipun jarak nya pendek keselamatan tetap harus terjamin, karena itu saya mohon pemerintah agar lebih perhatian dengan masalah ini," Katanya.
Tak hanya alat keselamatan, BHS memberikan usulan agar pemerintah memberikan asuransi kepada penumpang dan kendaraan yang menggunakan alat transportasi penyeberangan sungai ini. Sebab sejak beroperasi 40 tahun lalu baru kali ini terjadi kecelakaan perahu tambangan, hal ini disebutnya hampir Zero Accident.
"Harusnya pemerintah juga mengasuransikan, asuransi itu murah," ucapnya.
"Jadi tugas dari Jasa Raharja yang ada di Surabaya hadir, jadi dibawa sama Dinas Perhubungan Provinsi maupun Kota untuk mengcover semua penumpang-penumpang ataupun kendaraan yang ikut tambangan itu," imbuhnya.
Setelah melihat TKP perahu nambangan, Bambang Haryo Soekartono dan relawan BHS peduli serta perwakilan PT. Adiluhung Saranasegara Indonesia takziah ke rumah orang tua Desire untuk memberikan santunan. Byb
Editor : Redaksi