SURABAYAPAGI.com Blitar - Harga telur di Blitar selama 3 bulan terakhir mengalami kenaikan harga, bahkan kini cenderung naik menyentuh angka 31 ribu rupiah per kilogram. Hal tersebut membuat para pedagang ikut bingung, padahal biasanya hanya berkisar 24 hingga 28 ribu rupiah per kilogram.
Kondisi itu pun berimbas pada penurunan omzet penjualan telur ayam di tingkat pedagang. Menurut pedagang, penjualan telur ayam saat ini turun hingga 50 persen lebih, jika dibandingkan saat harga normal lalu.
Menurut salah satu pedagang di pasar Templek Kota Blitar, Miasih, jika saat harga telur ayam normal para pedagang biasanya bisa menjual 80 kilogram, namun kini disaat harga menyentuh 31 ribu rupiah, penjualan telur hanya mencapai 30 kilogram saja.
“Ya jelas menurun mas, pembeli memilih untuk mengurangi jumlah pembeliannya disaat harga mahal seperti ini,” tutupnya, Selasa (25/07/2023).
Usut punya usut, ternyata kenaikan harga telur di Blitar disebabkan karena berkurangnya populasi ayam petelur di Blitar. Populasi ayam petelur di Blitar sendiri terus berkurang jumlahnya sejak 3 tahun terakhir.
Sejak pandemi Covid-19, memang banyak peternak ayam petelur yang gulung tikar akibat telur nya tidak bisa dijual keluar kota akibat adanya pembatasan aktivitas kegiatan yang diterapkan oleh Pemerintah.
Jumlah peternak ayam petelur pun berkurang drastis dari yang awalnya berjumlah 4 ribu orang, saat pandemi lalu tinggal 2 ribu peternak saja yang bisa bertahan. Pandemi Covid-19 benar-benar menghancurkan harga pasaran telur dari Blitar.
Ketua Koperasi Peternak Telur Blitar, Sukarman mengatakan, mereka yang gulung tikar pun enggan untuk terjun kembali ke dunia peternakan ayam petelur. Dampaknya kini ketersediaan telur dari peternak juga berkurang. Disaat banyak permintaan yang datang justru ketersediaan telur tidak melimpah seperti dua tahun lalu, akibatnya harganya pun jadi terkerek naik.
“Ya karena populasi ini juga banyak yang afkir terus petani kita itu juga belum semuanya ke peternak ayam petelur lagi karena pandemi itu benar-benar dampaknya luar biasa sekali dari yang awalnya 4000 peternak ketika pandemi itu berkurang hingga 50%,” katanya. dsy
Editor : Desy Ayu