Kisah Bhre Pamotan, Raja Majapahit Tersingkat yang Mati Tragis Tenggelam

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Illustrasi. SP/ SBY
Illustrasi. SP/ SBY

i

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Benturan antar kerabat pasca Perang Paregreg (1404-1406 M) mengalami pergolakan yang berkepanjangan. Pertempuran antara Wikrawardhana atau Bhre Mataram (1389-1429) dengan Bhre Wirabumi (1401-1406) menyisakan situasi kekuasaan yang tidak pernah kondusif.

Bahkan Dyah Wijayakumara atau Sri Rajasawarddhana alias Bhre Pamotan (1451 -1453 M) yang menduduki tahta Majapahit berikutnya, mengalami peristiwa tragis yang menyedihkan.

“Tidak sampai dua tahun berkuasa, di tengah konflik perebutan kekuasaan dengan putra-putra Sri Prabu Kertawijaya, Sri Rajasawarddhana hilang ingatan,” demikian dikutip dari buku Atlas Wali Songo (2016), Minggu (30/07/2023).

Dyah Wijayakumara Bhre Pamotan naik tahta setelah menggantikan Sri Prabu Kertawijaya atau Bhre Tumapel (1447-1451) yang mangkat karena terbunuh. Sesuai kitab Pararaton, jenazah Kertawijaya didharmakan di Kertawijayapura.

Bhre Pamotan dinobatkan sebagai Raja Majapahit di Keling-Kahuripan, yakni terletak di pedalaman Daha Kediri. Penobatan Bhre Pamotan dicurigai telah terjadi ketidakberesan di pusat lingkaran kekuasaan Majapahit. 

“Menunjukkan adanya ketidakberesan, mengingat Dyah Wijayakusuma Bhre Pamotan hanya berkedudukan sebagai menantu Sri Prabu Kertawijaya”.

Bhre Pamotan tercatat memerintah Majapahit secara singkat. Entah apa yang terjadi. Tidak sampai dua tahun berkuasa, Bhre Pamotan tiba-tiba mengalami hilang ingatan.

Sebuah peristiwa tragis terjadi di tengah acara yang digelar untuk menghibur raja. Bhre Pamotan yang berada di atas perahu yang mengarungi tengah segara (lautan), mendadak hilang kendali.

“Ia melompat dan mati tenggelam,” begitu dikutip dari Atlas Wali Songo. Peristiwa kematian Raja Majapahit Bhre Pamotan yang mati tenggelam di segara diabadikan ke dalam sebuah nama.

Raja Majapahit itu mendapat nama anumerta Bhre Pamotan Sang Sinagara (Bhre Pamotan yang melempar diri ke segara) dan abu jenazahnya dicandikan di Sepang. 

“Ia meninggalkan empat orang putera dan seorang puteri, yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, Bhre Kretabhumi dan Parameswari Lasem”.

Kitab Pararaton mencatat, sepeninggal Bhre Pamotan, Kerajaan Majapahit selama tiga tahun (1453-1456 M) tidak memiliki raja. Situasi itu berakhir setelah Bhre Wengker pada 1456 M naik tahta. Bhre Wengker memakai gelar Hyang Purwasisesa. Bhre Wengker merupakan putera Sri Prabu Kertawijaya. Hyang Purwawisesa selama memerintah meneruskan kebijakan ayahandanya.

“Yang memberikan kedudukan-kedudukan penting kepada kerabat-kerabatnya yang beragama Islam”. 

Pada masa pemerintahan Hyang Purwawisesa, Raden Patah, saudara lain ibu diangkat menjadi Pecat Tandha di Bintara. Kedudukan Raden Patah di bawah Adipati Demak Lembu Sora. Sementara Raden Kusen, putra Arya Damar diangkat menjadi Pecat Tandha di Terung. Bhattara Katong, saudara lain yang beragama Islam diangkat menjadi raja di Wengker (Ponorogo).

Raden Paku yang merupakan Bhre Wirabumi diangkat menjadi raja muda di Giri dengan gelar Prabu Satmata. Kelak Raden Patah yang mentahbiskan diri sebagai Sultan Demak menggulingkan kekuasaan kerajaan Majapahit.

“Hyang Purwawisesa memerintah selama sepuluh tahun. Ia mangkat pada tahun 1466 Masehi dan didharmakan di Puri,” demikian dikutip dari Atlas Wali Songo. dsy

Berita Terbaru

KAI Daop 7 Madiun Salurkan Bantuan TJSL Rp445 Juta untuk Fasilitasi Pendidikan, Lingkungan dan Sosial

KAI Daop 7 Madiun Salurkan Bantuan TJSL Rp445 Juta untuk Fasilitasi Pendidikan, Lingkungan dan Sosial

Sabtu, 26 Sep 2026 11:28 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 11:28 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun kembali menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial kepada masyarakat,…

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Lewat Bantuan Beasiswa, Pemkab Dorong Anak Tetap Sekolah di Lumajang

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Melalui bantuan pendidikan berupa beasiswa, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)…

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

ULTIMA II Hadir di Surabaya, Perkenalkan Inovasi Teknologi CollaSence™ melalui Beauty Exhibition 

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

Sabtu, 26 Sep 2026 08:23 WIB

SURABAYA PAGI, Surabaya – Memahami kebutuhan kulit menjadi salah satu langkah penting dalam menentukan ritual perawatan yang sesuai kebutuhan. Berangkat dari k…

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Menteri Haji Ungkap Kendala Biaya Haji 2027, Tarif Penerbangan Saudia Airlines Masih Lebih Mahal 

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 22:11 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Menteri Haji Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan mengungkapkan pembahasan biaya penyelenggaraan ibadah haji 2027 masih berlangsung. S…

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

UNS Rebut Gelar Juara Beregu Campus League Badminton 2026 Usai Drama Tiga Set Lawan BINUS

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:11 WIB

SurabayaPagi, Bandung — Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta merebut gelar juara beregu Campus League Badminton 2026 - The Nationals setelah m…

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Beredar Beras Bantuan Pangan Berubah Warna, Bulog Pastikan Tidak ada Beras Oplosan Seperti yang Diisukan

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

Jumat, 25 Sep 2026 21:08 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan – Adanya peredaran beras bantuan pangan yang berubah warna di wilayah Semanding Tuban, langsung ditanggapi oleh Bulog Cabang B…