Mitos 3 Cerita Pesugihan Paling Terkenal di Jawa Timur, Ada Ritual Zina Sampai Doa di Pohon Keramat

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Misteri pesugihan Gunung Kawi yang bisa kaya 7 keturunan. SP/ SBY
Misteri pesugihan Gunung Kawi yang bisa kaya 7 keturunan. SP/ SBY

i

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Ritual pesugihan di Jawa kerap berkaitan dengan keberadaan tokoh legenda maupun historis. Tokoh-tokoh tersebut dianggap sebagai orang suci. Pesugihan adalah sebuah ilmu yang mengikat seseorang dengan makhluk halus, untuk mendapatkan imbalan kekayaan atau penglaris berupa jimat dan sejenisnya. 

Oleh karena itu, cara mendapatkan pesugihan biasanya dilakukan dengan ziarah ke makam tokoh tersebut. Ziarah juga dilakukan pada hari dan cara tertentu. Sementara itu, ada tiga cerita pesugihan paling terkenal di Jawa Timur.

Dikutip dari jurnal berjudul Cerita-cerita Pesugihan di Jawa Pola Kekerabatan Sastra dan Paradoks Teks-Konteks karya Mashuri, ada tiga cerita pesugihan yang beredar di wilayah paling timur Pulau Jawa, Rabu (11/10/2023).

Cerita pesugihan itu mulai dari pesugihan Gunung Kawi di Malang hingga pesugihan Roro Kembang Sore dan makam Ngujang di Tulungagung. Berikut penjelasan selengkapnya tentang cerita pesugihan di Jawa Timur.

  • Gunung Kawi

Gunung Kawi terletak di Kabupaten Malang. Gunung ini dikenal sebagai gunung mistis karena digunakan sebagai tempat ritual pesugihan. Beberapa peziarah datang ke Gunung Kawi untuk ritual atau ngalab berkah dengan beragam tujuan sesuai keyakinan masing-masing.

Cerita pesugihan yang beredar berkaitan dengan sosok Eyang Djoego (Kanjeng Kyai Zakaria II) dan R.M. Iman Soedjono. Kedua tokoh ini dikenal sebagai sosok yang memiliki kekuatan magis mampu menyembuhkan penyakit dan suka berbagi.

Dalam jurnal berjudul Mistisisme Islam-Jawa dalam Ritual Haul RM. Iman Soedjono di Pasarean Gunung Kawi karya Dwi Sulistyorini, makam Eyang Djoego dan Iman Soedjono terletak di lereng Gunung Kawi.

Selain digunakan sebagai tempat ritual pesugihan, masyarakat setempat juga ada yang menggelar kirab sesaji. Ritual dilakukan dengan cara mengenakan pakaian adat Jawa berwarna hitam tanpa alas kaki, dan membawa sesaji sebagai persembahan.

Masyarakat juga membawa bunga dan dupa sebagai media berdoa, membaca mantra untuk membuka pintu pendapa. Kemudian berjalan dengan posisi jongkok ketika mendekat ke makam. Ada pertunjukan campursari diiringi gamelan asli, juga pembacaan doa-doa dengan tahlil dan sholawat nabi oleh peserta kirab.

Tak hanya itu, area makam memiliki pohon dewandaru yang dianggap sebagai pohon keramat yang ditanam Eyang Djoego dan Eyang R Iman Soedjono. Keberadaan pohon dewandaru terdapat dalam cerita pewayangan.

Dewandaru digambarkan sebagai pohon sakti dan keramat yang tumbuh di kayangan. Seorang raja yang mempunyai pohon ini akan menjadi raja agung karena kerajaannya akan berkembang menjadi sebuah negeri yang makmur.

  • Roro Kembang Sore

Roro Kembang Sore merupakan cerita pesugihan yang beredar di wilayah Gunung Bolo, Tulungagung. Cerita ini terbagi ke dalam dua versi, yaitu cinta terlarang Roro Kembang Sore dengan Pangeran Lembu Peteng, dan Roro Kembang Sore dengan Joko Budeg.

Dalam jurnal berjudul Menimbang Spiritualitas dan Seksualitas: Simbolik Efisiensi dalam Praktik Pesugihan Kembang Sore di Tulungagung karya Nadya Afdholy & Ghanesya Hari Murti, tujuan ritual pesugihan oleh para ziarah sebagai jalan penghubung untuk mencapai keinginan terutama kekayaan.

Kisah cinta tak sampai yang dialami Roro Kembang Sore terhadap Pangeran Lumbu Peteng, Adipati Kalang, dan Joko Budheg adalah penyebab utama yang menjadikan makam Roro Kembang Sore menjadi lokasi keramat.

Ritual pesugihan Roro Kembang Sore cukup identik dengan ritual zina yang dilakukan orang-orang yang mencari kekayaan. Salah satu syarat pengadaan ritual ini adalah tidak adanya rasa berdosa.

Ritual diawali dengan para perempuan penjaja tubuh berdatangan dengan sendirinya. Setelah melakukan ritual ini, seseorang akan merasa percaya diri untuk memperoleh kekayaan.

Syarat lain yang harus dilakukan pelaku pesugihan adalah menyembelih kambing di makam Roro Kembang Sore pada hari Jumat Pon. Syarat ini dimaknai sebagai bentuk upeti yang membawa kepatuhan terhadap Roro Kembang Sore.

  • Makam Ngujang

Makam Ngujang terletak di Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Masyarakat percaya terhadap kemunculan kera-kera yang tidak diketahui asal-usulnya.

Sehingga makam Ngujang juga dikenal dengan nama kethekan dalam bahasa Jawa yang artinya kera. Keberadaan kera itulah yang membuat makam ini dijadikan tempat berburu pesugihan oleh sebagian masyarakat.

Mengutip jurnal berjudul Ritualitas dan Pemaknaan Pesugihan Situs Makam Ngujang di Kabupaten Tulungagung karya Devi Valen Chrismu, terdapat legenda yang beredar di masyarakat setempat, di mana suatu hari ada dua santri laki-laki dan perempuan yang sengaja membolos dari kegiatan pengajian.

Mereka bermain di sekitar makam yang pada saat itu dibangun sebuah pondok dan ditumbuhi pohon-pohon besar. Seorang kiai keluar dari pondok tersebut mengutuk kedua santri tersebut menjadi kera . Konon, kera yang sering dijumpai di sekitar makam itu merupakan keturunan dari dua santri itu.

Berdasarkan cerita tersebut, ritual yang dilakukan di makam Ngujang berkaitan dengan pesugihan kera. Pelaku pesugihan datang meminta bantuan kepada jin kera untuk mendapatkan rezeki atau kekayaan berlimpah. Mereka bersekutu dan melakukan perjanjian dengan jin.

Ritual ini diawali dengan membawa sesajen, melakukan meditasi atau bertapa di punden tersebut. Kemudian para pelaku hanya tinggal menunggu datangnya kekayaan dan menaati perjanjian dengan jin tersebut. sb-04/dsy

Berita Terbaru

Tim Tipikor Enam Jam di Kantor PDAM Kota Madiun, Klarifikasi Laporan Meter Air

Tim Tipikor Enam Jam di Kantor PDAM Kota Madiun, Klarifikasi Laporan Meter Air

Jumat, 04 Sep 2026 22:30 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 22:30 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Madiun – Tim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satreskrim Polres Madiun Kota mendatangi kantor PDAM Tirta Taman Sari Kota Madiun, Jumat (…

Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Ponorogo Perkuat Komitmen 3M Untuk Pekerja

Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Ponorogo Perkuat Komitmen 3M Untuk Pekerja

Jumat, 04 Sep 2026 18:26 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 18:26 WIB

SURABAYA PAGI, Ponorogo— Suasana berbeda terlihat di Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Ponorogo, Jumat (4/9/2026). Puluhan peserta yang datang untuk m…

Dorong Transformasi Layanan Lewat AI, PLN UID Jatim Kantongi Empat Penghargaan

Dorong Transformasi Layanan Lewat AI, PLN UID Jatim Kantongi Empat Penghargaan

Jumat, 04 Sep 2026 17:56 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 17:56 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Timur meraih empat penghargaan dalam ajang Surabaya Marketing Week 2026. Capaian t…

KAI Daop 7 Madiun Tunjukkan Tren Positif, Sepanjang Agustus 2026 Stasiun Blitar Melayani 140.340 Pelanggan

KAI Daop 7 Madiun Tunjukkan Tren Positif, Sepanjang Agustus 2026 Stasiun Blitar Melayani 140.340 Pelanggan

Jumat, 04 Sep 2026 17:22 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 17:22 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Kinerja core business PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 7 Madiun, angkutan penumpang terus menunjukkan tren positif. Selama…

Tingkatkan Daya Saing Produk, Anggota DPR RI Dorong UMKM Surabaya Ber-SNI

Tingkatkan Daya Saing Produk, Anggota DPR RI Dorong UMKM Surabaya Ber-SNI

Jumat, 04 Sep 2026 16:12 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 16:12 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Badan Standardisasi Nasional (BSN) mendorong percepatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) di kalangan pelaku usaha mikro, k…

Giat Jumat Berkah, Polres Blitar Hadirkan Beragam Layanan Gratis dan Dialog Kamtibmas untuk Masyarakat

Giat Jumat Berkah, Polres Blitar Hadirkan Beragam Layanan Gratis dan Dialog Kamtibmas untuk Masyarakat

Jumat, 04 Sep 2026 13:42 WIB

Jumat, 04 Sep 2026 13:42 WIB

SURABAYAPAGI.com, Blitar - Polres Blitar terus tingkatkan pelayanan kepada masyarakat melalui kegiatan Jumat Berkah, kalini di gelar di halaman Masjid Baitu…