SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Harga minyak dunia turun drastis hingga titik terendah sejak Juli 2023. Turunnya harga minyak tersebut juga disebabkan adanya perang Israel-Hamas dapat meletus menjadi konflik regional yang lebih luas.
Penurunan harga minyak dunia terjadi setelah Tiongkok melaporkan data ekonomi yang beragam. Impor minyak mentah Beijing meningkat berdasarkan volume dan nilai pada bulan Oktober, namun ekspor negara tersebut secara keseluruhan turun lebih besar dari perkiraan, yang mengindikasikan melambatnya permintaan global.
Diketahui, harga minyak West Texas Intermediate turun USD 3,45, atau 4,3%, menjadi USD 77,37 per barel. Sementara harga minyak Brent turun USD 3,57, atau 4,2% menjadi USD 81,61. Ini menjadi level harga terendah sejak Juli 2023.
Penurunan harga minyak dunia terjadi setelah Tiongkok melaporkan data ekonomi yang beragam. Impor minyak mentah Beijing meningkat berdasarkan volume dan nilai pada bulan Oktober, namun ekspor negara tersebut secara keseluruhan turun lebih besar dari perkiraan, yang mengindikasikan melambatnya permintaan global.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari pada hari Selasa menurunkan ekspektasi bahwa bank sentral AS mungkin menurunkan suku bunga.
“Kita harus menurunkan inflasi kembali ke 2�lam jangka waktu yang wajar. Pada akhirnya, perekonomian akan memberi tahu kita berapa banyak yang dibutuhkan untuk mencapainya, dan saya tidak tahu,” kata Kashkari.
Data dari Tiongkok mengimbangi dampak pengurangan produksi minyak oleh Arab Saudi dan Rusia, yang mengangkat harga minyak pada awal pekan ini. Riyadh dan Moskow mengkonfirmasi pada hari Minggu bahwa mereka akan mempertahankan pengurangan tersebut setidaknya sampai akhir tahun ini.
Sementara itu, Arab Saudi mengkonfirmasi akan melanjutkan pengurangan pasokan sukarela tambahan sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada bulan Desember untuk mempertahankan produksi minyak sekitar 9 juta barel per hari.
Rusia juga mengumumkan akan melanjutkan pemotongan sukarela tambahan sebesar 300.000 barel per hari dari ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi hingga akhir Desember.
“Pengumuman ini menunjukkan bahwa Saudi mengambil alih kendali dalam upaya memperketat pasar dan menaikkan harga,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital LLC di New York, Rabu (08/11/2023).
Pemotongan tersebut dapat diperpanjang hingga kuartal pertama tahun 2024 karena permintaan minyak yang melemah secara musiman di awal setiap tahun.
Disisi lain, melemahnya dolar juga membantu harga minyak. Indeks dolar turun ke level 104,84, terlemah sejak 20 September. Melemahnya dolar meningkatkan permintaan pembelian minyak mentah oleh pemegang mata uang asing. jk-03/dsy
Editor : Desy Ayu