RI Jadi Pusat Nikel Global, Australia Siap-siap Tawarkan Kerja Sama ESG

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 28 Jan 2024 10:57 WIB

RI Jadi Pusat Nikel Global, Australia Siap-siap Tawarkan Kerja Sama ESG

i

Bentuk nikel dalam bentuk produksi. SP/ JKT

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Negara Republik Indonesia (RI) yang dikenal sebagai pusat nikel global setelah investasi miliaran dolar di pabrik-pabrik yang efisien yang diuntungkan oleh tenaga kerja yang murah, listrik yang murah, dan bahan mentah yang mudah didapat, membuat Australia membuka potensi kerjasama terkait ESG.

Hal itu diketahui melalui, Asisten Menteri Perdagangan dan Manufaktur Australia, Tim Ayres kembali menegaskan adanya potensi kerjasama dengan Indonesia untuk membangun kemampuan seputar standar-standar Environmental, Social, and Governance (ESG) di tengah maraknya industri nikel Tanah Air. 

Baca Juga: Bahlil Pamer Nilai Investasi di Tahun 2023, Masih Didominasi Smelter Nikel

Negaranya sangat tertarik untuk mendorong standar lingkungan dan tata kelola hilirisasi mineral dengan Indonesia. Adapun, kerjasama ESG menjadi persyaratan Australia bagi produsen nikel di negaranya untuk memudahkan memasuki pasar di seluruh dunia.  

“[ESG] akan menjadi fitur yang sangat kuat bagi masa depan pasar nikel, dan Australia terlibat di tingkat bilateral untuk mendukung pekerjaan itu” terangnya di kediaman Duta Besar Australia di Jakarta, Minggu (28/01/2024).

Baca Juga: Hilirisasi Nikel itu Makmurkan Segelintir Orang

Hal ini yang membuat pemerintah Indonesia berkepentingan untuk meningkatkan standar ESG untuk meningkatkan nilai. Standar ini juga diminta oleh pasar di seluruh dunia. Pasalnya, ESG mengedepankan konsep kegiatan pembangunan, investasi, atau bisnis yang berkelanjutan dengan tiga faktor yaitu yaitu environmental (lingkungan), social (sosial), dan governance (tata kelola). 

“Hal itulah yang akan diminta oleh pelanggan di seluruh dunia dalam hal ekspor, dan apakah kita benar-benar ingin menambah nilai ekonomi tambahan. Hal ini berarti siap dan mampu memenuhi persyaratan keberlanjutan,” terang Ayres, Minggu (28/01/2024).

Baca Juga: Menhub Berpendapat Indonesia Mulai dipandang Dunia karena Nikel

Mengutip US Geological Survey (USGS), Mineral Commodity Summaries, Januari 2023, bahwa terdapat 5 Negara dengan Produksi Nikel Terbesar pada 2022, diantaranya Indonesia (1.600.000 produksi nikel), Filipina (330.000 produksi nikel), Rusia (220.000 produksi nikel), Kaledonia Baru (190.000 produksi nikel) dan Australia 160.000 (produksi nikel).

Membanjirnya pasokan baru dari Indonesia dalam dua tahun terakhir juga telah melampaui permintaan dikala pasar logam berada di bawah tekanan akibat perekonomian global yang lesu. Pertumbuhan permintaan yang lebih lemah dari sektor kendaraan listrik juga menjadi hambatan. jk-04/dsy

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU