Tom Lembong Warning Luhut: Jangan Banyak Omong!

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 11 Feb 2024 21:11 WIB

Tom Lembong Warning Luhut: Jangan Banyak Omong!

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Tom Lembong, Mantan Menteri Perdagangan dan Kepala BKPM Pemerintahan Jokowi, minta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tidak banyak omong soal nikel.

Thomas Trikasih Lembong, yang kini co-Captain Tim Nasional Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar mereaksi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengenai penurunan harga nikel dunia hingga 50% sejak 3 Januari 2023.

Baca Juga: Jubir Luhut Bereaksi, Bosnya Dituding Jenderal Mencla-mencle

Pria yang akrab disapa Tom Lembong ini mewanti-wanti Luhut agar hati-hati dalam berucap.

"Hati-hati berbicara terlalu dini ya," pesan Tom Lembong ditemui usai diskusi "Pemuda Harsa: Bangga Bicara" di On3 Senayan, GBK, Jakarta, Jumat (9/2/2024) malam.

Sampai Minggu (11/2/2024) pernyataan Tom Lembong yang sudah dibaca lebih dari 162 ribu kali.

 

Pernyataan Luhut

Sebelumnya, Luhut Binsar Panjaitan, Menko Marves mengaku tak masalah apabila tambang dunia tutup buntut penurunan harga nikel saat ini.

"Ya biar aja tambang dunia tutup, asal kita enggak ikut-ikutan," kata Luhut di Kantor Kemenko Marves, Jakarta Pusat, Rabu (7/2/2024).

Luhut mengatakan pandangan bahwa Indonesia menjadi penyebab penurunan harga nikel adalah tidak benar. Dia pun menekankan pentingnya mengidentifikasi tren secara jangka panjang untuk memahami fenomena tersebut.

 

Luhut Dipesan Jaga Bicara

Tom Lembong menilai, penurunan harga nikel masih akan terus berlanjut, dan ada kemungkinan harga nikel terus melemah sampai tahun depan, atau bahkan mungkin dua tahun berikutnya. "Jadi jangan kita merayakan terlalu cepat, terlalu dini," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mewanti-wanti Luhut agar menjaga bicara, mengingat kondisi ini masih awalan. Menurutnya, kondisi ini akan berimbas ke industri smelter manapun, termasuk mengancam tambang nikel di Indonesia.

Baca Juga: Menteri Kabinet Jokowi, Klaim Urus Investasi dengan Cara Hantu!

"Hati-hati berbicara terlalu dini karena ini kisahnya belum selesai, masih ada beberapa tahun lagi di mana harga nikel akan turun terus melemah dengan konsekuensi bagi industri smelter maupun tambang nikel di Indonesia," tuturnya.

 

Penyesalan Tom Lembong

Di samping itu,  Tom Lembong mengaku menyesal pernah menjadi bagian dari pemerintahan sebelumnya. Dalam hal ini, ia menyesal karena kala itu strategi yang dijalankannya dalam membenahi ekonomi Indonesia tidak sepenuhnya berhasil.

Tom Lembong sendiri punya rekam jejak sebagai menteri di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, tepatnya di Kabinet Kerja 2014-2019. Ia pernah menduduki posisi Menteri Perdagangan (Mendag) dari 12 Agustus 2015 hingga 27 Juli 2016 dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sejak 27 Juli 2016 hingga 23 Oktober 2019.

"Semakin mendalami data-data ekonomi, saya ini benar-benar sedih banget. Sedih banget, prihatin banget. Dan saya punya rasa sesal, nyesal yang lumayan besar karena saya pernah menjadi bagian dari pemerintah," kata Tom Lembong, dalam diskusi tersebut.

 

Baca Juga: Cak Imin dan Tom Lembong Tantang Balik Luhut dan Bahlil: Positif Bagi Publik, Kita Adu Data

Strategi Kita Banyak Gagal

"Termasuk di saat-saat kita menjalankan strategi yang menurut data yang saya lihat, rada-rada tidak berhasil. Kalau mau lebih keras lagi, ya banyak gagal," sambungnya.

Menurutnya, salah satu bentuk kegagalan yang dimaksud ialah Pemerintah RI tidak dapat mengatasi kondisi di mana dalam 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah di Indonesia tidak mengalami perkembangan signifikan. Ia pun memaparkan data tentang penjualan sepeda motor.

Tom Lembong mengatakan, pada 2013 lalu terjadi puncak penjualan sepeda motor hingga tembus 7,9 juta unit terjual. Namun dari tahun ke tahun, angka itu mengalami penurunan, apalagi karena terbentur pandemi. Akan tetapi hingga saat ini penjualan motor hanya di kisaran 5 juta unit per tahun.

"Sepuluh tahun terakhir ini kelas menengah kita tidak berkembang. Minimum paling baik itu stagnan, tidak bertambah dan ada potensi cukup besar bahwa kelas menengah kita lalu menciut karena sekali lagi, bagi saya indikator yang paling tepat itu ya jumlah sepeda motor," ujarnya.

Bentuk grafik yang tak jauh berbeda juga terlihat dari pertumbuhan pembelian mobil dan barang elektronik, di mana jumlahnya terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan, jumlah kelas menengah terus terhimpit. Menurutnya, kondisi ini bisa terjadi karena ketimpangan. n jk/erc/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU