Tambal 'Cost Overrun' Proyek KCJB Whoosh, KAI Utang Rp 6,98 Triliun ke China dalam Bentuk Modal

author surabayapagi.com

- Pewarta

Rabu, 14 Feb 2024 12:38 WIB

Tambal 'Cost Overrun' Proyek KCJB Whoosh, KAI Utang Rp 6,98 Triliun ke China dalam Bentuk Modal

i

Kereta Cepat Whoosh di Stasiun Halim. Foto: SP/ KCIC

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - China Development Bank (CDB) telah mengucurkan pinjaman senilai Rp 6,98 triliun ke pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI resmi yang telah cair sejak 7 Februari 2024. Hal itu guna menambal pembengkakan biaya (cost overrun) proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh.

"PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menandatangani Perjanjian Fasilitas dengan China Development Bank untuk pembiayaan cost overrun proyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung," sebagaimana dikutip dari dokumen tersebut, Rabu (14/02/2024).

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), pencairan pinjaman China Development Bank (CDB) kepada KAI dibagi dalam dua fasilitas. Pertama adalah fasilitas A yang memiliki nilai US$230.995.000 atau sekitar Rp3,60 triliun. 

Sementara itu, fasilitas B tercatat mencapai US$217.080.000 atau setara dengan Rp3,38 triliun. Jika diakumulasikan, total pinjaman yang diterima KAI dari CDB mencapai sekitar Rp9,98 triliun. 

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo memaparkan bahwa pihak Indonesia dan China telah menandatangani kesepakatan pemberian pinjaman. Dia menuturkan pinjaman tersebut nantinya akan dikucurkan dari CDB kepada KAI dalam bentuk suntikan modal.

Meski demikian, Tiko tidak merinci secara detail besaran pinjaman yang akan dikucurkan ke PT KAI tersebut. Sebagai informasi, PT KAI merupakan pemegang saham terbesar dalam konsorsium BUMN Indonesia yang membangun proyek Kereta Cepat. 

Sebagai informasi, pencairan pinjaman tersebut langsung diteruskan ke PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) per 7 Februari 2024. PT PSBI sendiri terdiri dari PT KAI, PT Wijaya Karya (Persero) atau WIKA, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara VIII.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi menjelaskan pembayaran cost overrun Kereta Cepat akan dibagi sesuai porsi kepemilikan saham yakni konsorsium Indonesia sebesar 60% dan konsorsium China 40%. jk-02/dsy

Editor : Desy Ayu

BERITA TERBARU