SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pabrikan otomotif asal China tengah gencar melakukan ekspansi untuk pengembangan jaringan bisnis di berbagai belahan dunia. Bahkan kali ini, China telah membangun hubungan kuat dengan Turki yang memiliki fasilitas produksi kendaraan yang dipasok ke pasar Eropa.
Dikutip dari Fleet Europe pada Kamis (06/06/2024), Turki menjadi negara yang potensial untuk pembangunan pabrik kendaraan listrik China, karena lokasinya bisa menghubungkan pasar Asia dan Eropa. Negara transkontinental itu juga punya perjanjian serikat pabean dengan Uni Eropa.
Selain itu, penjualan BEV di Turki juga laris manis dan menyumbang 7,5 persen dari seluruh penjualan mobil baru pada tahun 2023. Angka tersebut diperkirakan melonjak sekitar 30,4 persen pada tahun 2032.
Sadar akan potensi merek asing masuk, maka untuk melindungi TOGG mobil listrik buatan Turki, negara tersebut akan memberlakukan bea masuk tambahan sebesar 40 persen untuk kendaraan listrik yang dibuat di China.
Lebih lanjut, Menteri Perindustrian dan Teknologi Turki, Fatih Kacir mengungkap, jika saat ini pemerintah Turki tidak hanya berdiskusi dengan BYD dan Chery, tapi juga dengan SAIC dan Great Wall Motor.
“Kami ingin menyelesaikan pembicaraan secepat mungkin. Kami telah menempuh perjalanan jauh dengan keduanya,” ujarnya, Kamis (06/06/2024).
Bahkan, kini Direktur Pelaksana BYD Eropa Michael Su mengatakan, perusahaannya tertarik dengan pabrik Eropa kedua untuk mendukung pabrik yang sedang dibangun di Hongaria.
Pabrik BYD di Hongaria bisa memproduksi 200 ribu kendaraan setiap tahunnya. Tapi, jumlah tersebut masih kurang apabila BYD ingin jadi pemimpin produsen mobil listrik di tahun 2030. jk-05/dsy
Editor : Desy Ayu