SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Batik lesoeng khas Ponorogo yang terletak di Jalan Jaksa Agung, Kelurahan Mangkujayan, saat ini masih tetap eksis dan digemari para pembeli hingga tembus pasar Singapura dan Turki.
Pemilik batik lesoeng Ponorogo, Hery Purnamawati pun yakin eksistensi rumah batik khas Ponorogo masih memiliki pangsa pasar dan penggemar, sehingga bisa mengembalikan kejayaan kerajinan batik yang pernah bersinar di era 1970-an.
"Batik tulis Ponorogo masih memiliki tempat di hati konsumen, baik lokal maupun mancanegara. Ini terbukti dengan saya kirim ke Singapura dan Turki," ungkap Hery Purnamawati, Selasa (08/10/2024).
Lebih lanjut, Christine menerangkan cara membuat batik tulis secara singkat. Mulai dengan perajin yang membatik lengkap dengan canting dan cairan malam yang panas. Setelah sebelumnya digambar motif batik khas Ponorogo.
Kemudian setelah selesai, kain mori berukuran 1,5 x 3 meter itu akan melalui tahap pewarnaan dasar dan diproses menggunakan alat pengepres kain. Setelah itu, kain akan dicuci untuk menghilangkan sisa malam sebelum akhirnya dikeringkan.
"Setiap hari saya berproduksi. Dulu saya pegang sendiri. Sekarang ya ada pekerja," kata Christine.
Sedangkan untuk proses penyelesaian satu motif batik berukuran 1,5 x 3 meter memakan waktu antara satu hingga dua bulan, tergantung pada kerumitan motif yang memerlukan ketelitian tinggi.
"Saat mendirikan ini (Batik Lesoeng), saya hanya ingin melestarikan motif batik Ponorogo kuno yang semakin hilang di pasaran," tambahnya.
Sebagai informasi, batik lesoeng sendiri merupakan komoditas andalan karena keunikan dan kekhasan masing-masing lembar demi lembar kain. Ini karena produksinya masih dikerjakan dengan dari tangan perajin batik.
Christine menjual harga batik tulis ini bervariasi, mulai dari Rp 100 ribu hingga mencapai Rp 15 juta per lembar, tergantung pada tingkat kerumitan motif dan ukuran kain.
"Harapannya batik Ponorogo kembali berjaya, Pemerintah Kabupaten Ponorogo harus sering turun tangan untuk mengembalikan kejayaan batik Ponorogo," pungkas Christine. pn-01/dsy
Editor : Desy Ayu