Pendapatan Negara Tembus Rp19,49 Triliun
SURABAYAPAGI, Surabaya - Provinsi Jawa Timur mengawali tahun 2025 dengan pertumbuhan ekonomi yang positif. Di mana, pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya aktivitas produksi dan mobilitas masyarakat.
Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Provinsi Jawa Timur, Dudung Rudi Hendratna, melalui Rapat Pleno ALCo APBN KiTa Regional Jatim hingga 31 Januari 2025, menyampaikan bahwa perekonomian Jawa Timur tumbuh sebesar 5,03 persen (yoy).
Dari sisi permintaan, Dudung mengungkapkan bahwa Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) menjadi pendorong utama, sedangkan dari sisi penawaran, Industri Pengolahan tetap menjadi sektor unggulan.
"Hingga saat ini, Jawa Timur masih mempertahankan posisinya sebagai penopang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa sebesar 25,23 persen dan nasional 14,39 persen," ujar Dudung, pada Kamis, 27 Februari 2025.
Salah satu kabar baik lainnya, pria yang saat ini juga menjabat sebagai Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJLN) Jawa Timur ini menyebutkan bahwa inflasi di Bumi Majapahit ini dapat terkendali dengan baik.
"Untuk tingkat inflasi Januari 2025 sebesar 1,06 persen (yoy). Meskipun terdapat kenaikan harga pada komoditas daging ayam ras, minyak goreng, dan cabai rawit, secara umum harga-harga tetap stabil," sambungnya.
Sementara itu, Nilai Tukar Nelayan (NTN) meningkat 1,20 persen yang mencerminkan membaiknya kesejahteraan nelayan.
"Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya harga komoditas perikanan seperti udang, belut, dan nila dari perairan umum, serta ikan layang, kembung, dan cumi-cumi dari perairan laut," ungkapnya.
Di sektor perdagangan luar negeri, ekspor Jawa Timur pada Desember 2024 mencapai USD 2,10 miliar, sedangkan impor mencapai USD 2,77 miliar.
"Meskipun neraca perdagangan masih mengalami defisit, namun peningkatan ekspor menunjukkan daya saing produk Jawa Timur yang terus membaik," tuturnya.
Di samping itu, untuk realisasi APBN, hingga Januari 2025, Pendapatan Negara di Jawa Timur mencapai Rp19,49 triliun (6,86 persen dari target APBN 2025).
"Penerimaan perpajakan menyumbang Rp19,05 triliun, dengan kontribusi terbesar dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) Non Migas," papar Dudung.
Sedangkan untuk penerimaan dari Bea dan Cukai mengalami pertumbuhan 10,62 persen (yoy), dengan realisasi Rp11,99 triliun.
"Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penerimaan cukai, bea masuk, dan bea keluar. Menariknya, penerimaan Bea Keluar tumbuh hingga 537 persen (yoy) dengan realisasi sebesar Rp68,12 miliar, dikarenakan meningkatnya ekspor produk turunan CPO," ungkap Dudung.
Di sisi belanja, realisasi belanja negara mencapai Rp12,16 triliun (9,72 persen dari pagu APBN Jawa Timur).
"Anggaran ini digunakan untuk belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, serta bantuan sosial, yang bertujuan mendukung efisiensi birokrasi, penguatan infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat," jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga terus mendukung pembangunan daerah melalui Transfer Ke Daerah (TKD), yang hingga Januari 2025 telah tersalurkan sebesar Rp10,66 triliun (12,77 persen dari pagu, tumbuh 10,33 persen yoy).
"Kenaikan signifikan terjadi pada Dana Alokasi Umum (DAU) yang naik 21,92 persen (yoy) dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang melonjak 1504,52 persen (yoy)," paparnya.
Sebagian besar Dana Desa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur desa, dengan penerima terbesar berada di Kabupaten Malang, Lamongan, dan Bojonegoro.
Dengan berbagai capaian positif ini, Jawa Timur optimis dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun dan mampu mencapai target 2025 secara optimal.
Dudung pun, berharap Jawa Timur bukan sekedar menjadi pilar utama perekonomian nasional, tetapi juga semakin menunjukkan daya saingnya di kancah internasional.
"Kami akan terus berupaya mengoptimalkan penerimaan, meningkatkan belanja produktif, serta memastikan inflasi tetap terkendali agar daya beli masyarakat tetap kuat," pungkasnya.lni
Editor : Mariana Setiawati