SurabayaPagi, Surabaya - Meski situasi ekonomi nasional belum sepenuhnya kondusif, pelaku industri konstruksi, arsitektur, dan desain interior tetap menunjukkan optimisme.
Salah satu wujudnya adalah kehadiran IndoBuildTech Expo Surabaya 2025 pada 17–21 September di Grand City Convex. Pameran ini diharapkan menjadi momentum penting bagi pelaku bisnis untuk bangkit, memperkuat jejaring, dan menemukan peluang baru.
General Manager PT Debindo Global Expo, Alfin Irsal, menyebut pameran ini sebagai “motor penggerak percepatan pemulihan ekonomi.” ”Kami mempertemukan pemilik brand, arsitek, desainer interior, kontraktor, developer, hingga konsumen,” kata dia di Surabaya, Rabu (10/9).
”Selama lima hari, pengunjung dapat mengakses lebih dari 100 brand terkemuka di lahan seluas 4.000 m² dan berinteraksi langsung dengan pemegang produk inovatif dari dalam maupun luar negeri,” lanjut dia lagi.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jatim, Ar. Fafan Tri Afandy, menyebutkan kalau optimisme atas pertumbuhan dalam dunia infrastruktur di Indonesia itu terus hidup.
”Belanja infrastruktur kita nomor dua di ASEAN. Bahkan kami sudah bikin ”pagar betis” untuk arsitek-arsitek dari luar negeri yang hendak membuka pasar di Indonesia. Memang sudah ada yang membuka jasa mereka tetapi pasar itu masih sangat besar,” sambung Fafan.
Ditambahkan dia, situasi memang belum ideal. ”Tetapi, tidak akan lama. Manusia selalu bertumbuh. Di Jatim saja ada 41 juta penduduk. Dan, idealnya, dibutuhkan minimal 2.700 arsitek. Namun, saat ini hanya ada 600 arsitek,” ujarnya.
Dan, peran arsitek sangat penting dalam membangun kota yang berkelanjutan.
”Melalui pameran ini, arsitek dapat memperoleh akses langsung terhadap berbagai material inovatif, teknologi terkini, dan solusi desain yang mendukung lahirnya karya arsitektur berkelanjutan,” ujarnya.
Senada, Wakil Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jatim, Andi Baso Mappaturi, menilai pameran ini bukan hanya ajang pamer produk, tetapi juga pusat inspirasi tren desain global.
”Dulu trend itu ternyata dibikin dari Eropa. Tetapi sekarang, seiring perkembangan zaman, masyarakat menjadi lebih fleksibel untuk menentukan apa yang mereka inginkan,” ulas Andi.
IndoBuildTech 2025, papar Andi menjadi salah satu barometer dalam menunjang trend-trend tersebut. Salah satunya seperti yang dibawa Lamitak. Spesialis laminasi bertekanan tinggi asal Singapura itu akan membawa koleksi terbaru mereka.
”Koleksi kami mengutamakan estetika, keberlanjutan, dan daya tahan,” ujar Office Manager Lamitak Surabaya, Jenni Tjandradjaja. ”Pameran ini juga sebagai sarana penting memperluas pasar dan memperkuat hubungan dengan para profesional maupun pemilik proyek,” sambung dia.
Selama berlangsung pameran, IndoBuildTech Surabaya juga menggelar serangkaian kegiatan Product Workshop dari para exhibitor. Ada juga kegiatan parallel pameran lain yang dilaksanakan oleh mitra-mitra asosiasi pendukung IndoBuildTech.
Antara lain dari Asosiasi Perusahaan Pracetak dan Prategang Indonesia - AP3I yang akan mengagendakan kegiatan Seminar Nasional Industri Konstruksi Yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan.
Sementara itu, Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI) Jawa Timur juga menggelar kegiatan Open Talk Green Legacy dengan fokus bahasan Peran Arsitek Lanskap dalam Merencakan dan Mengelola RTH sebagai Investasi Lintas Generasi.
Tidak kalah menarik, Indonesia Construction & Architecture Network (ICAN) akan menyelenggarakan seminar dengan topik pembahasan Teknologi Material Baja Lapis (Coated Steel) dan Kaitannya dengan Konstruksi dan Aplikasi pada Bangunan Infrastruktur & Institusi: Pasar, Sekolah, Rumah Sakit & Stadion.
Selama pameran berlangsung juga digelar kegiatan National Architecture Installation Festival (NAIFEST) dan IndoBuildTech Concept Exhibition (INCEPTION) yang mengangkat interkoneksi dunia arsitektur dengan kemajuan sektor konstruksi ditampilkan secara visual 2 dan 3-dimensi. Byb
Editor : Redaksi