SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan Polri mendukung program ketahanan pangan yang digagas di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka. Jenderal Sigit mengatakan Polri telah melakukan berbagai inovasi guna mendukung program ini, apa saja inovasinya?
Jenderal Sigit mengatakan salah satu inovasi Polri yakni pemanfaatan bibit unggul hibrida P27 dan pupuk tekno MIGO Presisi Bhayangkara. Kedua hal ini bisa meningkatkan hasil panen.
"Guna mendukung program ketahanan pangan, beberapa waktu yang lalu kami telah melakukan berbagai inovasi, salah satunya pemanfaatan bibit unggul Hibrida P27 dan pupuk Tekno MIGO Presisi Bhayangkara guna meningkatkan hasil panen dari 4 ton/hektar menjadi 9 sampai dengan 14 ton/hektar," kata Jenderal Sigit dalam paparannya di Penanaman Jagung Serentak Kuartal IV, Tangerang, Banten, Rabu (8/10/2025).
Sebelumnya, anggota Komisi III DPR Soedeson, mengingatkan upaya reformasi kepolisian yang tetap berada di bawah kendali Presiden. "Presiden merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan. Karena itu, upaya reformasi kepolisian harus tetap berada di bawah kendali Presiden, " kata Soedeson, kemarin.
Saat itu pemerintah telah merampungkan penyusunan Komite Reformasi Kepolisian. Presiden Prabowo Subianto direncanakan akan melantik Komite Reformasi Kepolisian pekan depan.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan dan melantik Komisi Reformasi Kepolisian.
Komisi Reformasi Kepolisian akan berisi sekitar sembilan orang dari berbagai latar belakang, mulai dari mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) dan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD.
Kapolri Bentuk Tim
Tim Transformasi Reformasi internal yang dibentuk oleh Polri harus bersinergi dan tidak tumpang tindih dengan komite reformasi yang nantinya dibentuk Presiden.
Dia juga mengatakan ratusan bintara khusus pertanian telah direkrut. Mereka diharapkan bisa mengoptimalkan pengolahan dan hasil produksi.
"Termasuk merekrut 333 orang bintara kompetensi khusus pertanian untuk mengoptimalkan pengolahan dan hasil produksi," katanya.
Selain itu, Jenderal Sigit mengungkapkan saat ini Polri bekerjasama dengan berbagai universitas, salah satunya Universitas Sriwijaya untuk mengolah tanaman eceng gondok menjadi pupuk organik. Dia mengungkapkan pupuk ini memiliki kandungan unsur hara yang sangat baik, serta bernilai ekonomis tinggi, dengan biaya produksi untuk 1 hektar lahan sebesar Rp773.000, atau 86% lebih hemat dibandingkan penggunaan pupuk kimia yang mencapai Rp5,9 juta per hektar.
Inovasi selanjutnya adalah program Poliran atau polisi Peduli Pengangguran Polda Banten. Dalam program ini, sampah organik seperti sisa sayuran dan buah, daun kering, hingga limbah dapur agar menghasilkan eco-enzyme maupun pupuk kompos.
"Selain itu, kami juga melakukan pembudidayaan kelinci di Provinsi Bangka Belitung, dimana kotoran kelinci tersebut kami manfaatkan sebagai pupuk organik," ungkapnya. n ag/erc/rmc
Editor : Moch Ilham