SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Dalam ajaran Kristen saya mendapat pengetahuan praktik yang setara dengan tirakat. Ini, sering disebut sebagai asketisme, disiplin rohani, atau puasa. Ini bertujuan mendekatkan diri pada Tuhan, melatih pengendalian diri, dan penyucian hati. Praktik ini fokus pada kerendahan hati dan ketulusan, bukan untuk kesaktian atau sekadar mengurangi makan.
Asketisme adalah paham, ajaran, atau gaya hidup yang menekankan pada disiplin diri yang ketat, penyangkalan diri, dan pantang terhadap kesenangan duniawi serta harta materi. Praktik ini umumnya bertujuan untuk mencapai tingkat spiritualitas yang lebih tinggi, penyucian diri, atau hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa
Secara etimologi, kata asketisme Berasal dari bahasa Yunani askeō yang berarti "berlatih" atau "melatih".
Ditemukan dalam berbagai tradisi, seperti pertarakan dalam Kristen.
Contoh dari asketisme pelepasan harta benda duniawi . Puasa, yang dapat mencakup pantang dari semua atau jenis makanan dan minuman tertentu, biasanya dalam jangka waktu tertentu dan bukan tanpa batas waktu. Pengasingan, seringkali dikombinasikan dengan meditasi atau doa.
Asketisme dapat berbentuk alami hidup sangat sederhana. Tapi umumnya lebih mengarah pada latihan rohani.
Asketisme bukan sekadar menghindari dunia, melainkan latihan mental dan spiritual untuk mengendalikan hawa nafsu.
Salah satu strategi yang kita gunakan untuk mengetahui apakah kita diperbudak adalah penyangkalan diri—disebut asketisme.
Yesus berkata, “ Barangsiapa ingin mengikut Aku, hendaklah ia menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku ” (Lukas 9:23).
Dengan kata lain, kita tidak boleh menganggap semua asketisme sebagai hal yang buruk.
Apakah Yesus menjalani kehidupan asketis?
Yesus, sebagai teladan bagi asketisme dalam beberapa hal, misalnya, hidup tanpa tempat tinggal (bdk. cita-cita asketisme tentang pengembaraan, pengasingan, dan pindah ke wilayah asing). Yesus juga mengajarkan bahwa penyangkalan diri dapat melibatkan selibat, tetapi sebagai karisma, bukan atas kemauan sendiri (Mat. 19:11,12).
Yesus bukanlah seorang pertapa . Ia makan, minum, merayakan, dan menjalani hidup sepenuhnya. Tetapi Ia juga kudus! Ia tidak melakukan sesuatu secara berlebihan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, Paulus berbicara tentang penyangkalan diri atau asketisme . Paulus sebelumnya telah memperingatkan jemaat di Kolose tentang filsafat yang menyesatkan, legalisme, dan mistisisme. Sekarang ia mengalihkan perhatiannya kepada mereka yang mempraktikkan asketisme untuk menjadi lebih rohani. Berusaha mendapatkan persetujuan Tuhan dengan cara ini adalah sia-sia.
Setiap orang Kristen sejati, tentu saja, terlibat dalam disiplin diri moral. Ia harus melakukannya, karena kehidupan dalam Kristus yang ditanamkan dalam jiwanya akan terwujud. Tetapi orang Kristen pada umumnya bukanlah seorang pertapa .
Bahaya pertama yang mungkin ditimbulkan oleh asketisme adalah berlebihan. Berpuasa dalam jangka waktu lama, misalnya, dapat menyebabkan kesombongan dan kebanggaan atas pencapaian sendiri, dan akhirnya menjadi kontraproduktif . (Maria Sari)
Editor : Moch Ilham