SURABAYA PAGI, Ponorogo-Fenomena sungai menghitam dan penumpukan sampah plastik masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Ponorogo.
Merespons hal tersebut, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Komunitas Peduli Sungai (KPS) Tonatan melakukan aksi nyata dengan di kawasan Dam Tambak Kemangi, Jalan Ir. Juanda, Kota Ponorogo, Kamis (14/05/2026).
Aksi yang dilakukan pada pagi hari ini melibatkan sekitar delapan orang relawan yang berasal dari gabungan pemuda pecinta sungai dan komunitas pemulung setempat. Sejak pukul 06.30 hingga 09.00 pagi, mereka berjibaku mengevakuasi sampah yang tertahan di aliran sungai.
Uniknya, komunitas ini menggunakan teknologi sederhana namun efektif untuk menghalau sampah, yakni barikade yang terbuat dari ban bekas.
"Kita memang membuat barikade ban, itu semua murni dari swadaya kita sendiri, uang kita sendiri, dan memanfaatkan barang bekas," ujar Bendahara KPS Tonatan, Catur Priambodo.
Catur menjelaskan bahwa ban-ban tersebut dimodifikasi sedemikian rupa agar tetap mengapung di permukaan air. "Isinya itu galon bekas. Di dalamnya ada galon bekas biar mengambang," tambahnya.
Meski aksi bersih-bersih ini sudah rutin dilakukan selama hampir dua tahun terakhir, volume sampah yang masuk ke sungai tetap tinggi. Catur menyayangkan rendahnya kesadaran masyarakat sekitar dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Menurutnya, tumpukan sampah yang dievakuasi hari ini terkumpul hanya dalam waktu kurang dari dua minggu.
"Angka kesadaran untuk membuang sampah di tempatnya itu masih rendah. Itu belum ada dua minggu sudah luar biasa sampahnya," ungkap Catur.
Ia juga menekankan bahwa aksi ini murni merupakan kepedulian lingkungan dan tidak terkait langsung dengan viralnya kondisi sungai yang menghitam beberapa waktu lalu. Fokus utama KPS adalah menjaga ekosistem sungai agar tetap sehat.
"Jangan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai. Karena kan nanti efeknya banyak, selain banjir juga ekosistem di sungai itu kasihan. Ikan-ikan yang harusnya bisa hidup sehat akhirnya banyak yang mati gara-gara sampah," jelasnya.
Seluruh operasional kegiatan ini, mulai dari pengadaan alat hingga pengangkutan sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Jalan Anggrek, dilakukan secara mandiri oleh komunitas. Catur berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan nyata, minimal dalam bentuk bantuan tenaga lapangan.
"Harapannya pemerintah sendiri untuk sedikit membuka mata terhadap kebersihan lingkungan. Kita kan ini murni tanpa ada campur tangan dari pemerintah. Syukur-syukur ada bantuan tenaga untuk membersihkan sungai itu," tutup Catur.
Aksi ini diharapkan dapat menjadi pemantik bagi masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap keberlangsungan alam, selaras dengan program perlindungan lingkungan yang tengah digalakkan secara nasional.roh
Editor : Redaksi