SURABAYAPAGI.com - Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina akan diselenggarakan pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 02.00 WIB akan datang. Laga puncak perebutan gelar juara dunia ini akan digelar di Stadion New York New Jersey, Amerika.
Pengamat sepak bola, katakan final Piala Dunia 2026 tak hanya menyajikan duel dua juara besar dunia, tetapi juga akan mencatat sejarah baru.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, FIFA akan menggelar pertunjukan resmi pada jeda pertandingan (half-time show). Pertunjukan itu akan dikurasi oleh Chris Martin, vokalis Coldplay.
Sejumlah musisi dunia seperti Madonna, Shakira, Justin Bieber, Burna Boy, BTS, Gustavo Dudamel, dan PS22 Chorus dijadwalkan tampil. Sebelum kick-off, FIFA juga akan menggelar upacara penutupan yang dimulai sekitar 90 menit sebelum pertandingan.
Generasi Emas Spanyol
Pengamat sepak bola Eropa Umar Satrio Prakoso, mencatat sejak tahun 2010, generasi emas Spanyol meraih kejayaan Piala Dunia FIFA, identitas La Roja terkait erat dengan satu posisi yaitu gelandang tengah.
Praktis gaya permainan tim spanyol didominasi oleh filosofi penguasaan bola yang kuat, operan pendek akurat (sering disebut tiki-taka), dan dominasi lini tengah. Namun, di era modern, pelatih Luis de la Fuente mengadaptasinya menjadi sepak bola yang lebih cair, cepat, dan pragmatis dalam transisi menyerang.
Spanyol sangat mengutamakan kontrol permainan dengan persentase penguasaan bola yang tinggi. Mereka mengalirkan bola dari kaki ke kaki secara perlahan namun progresif untuk membongkar pertahanan lawan.
Di bawah kepelatihan Luis de la Fuente, Spanyol tidak hanya sekadar mengandalkan umpan-umpan pendek tanpa arah. Mereka memadukan penguasaan bola dengan serangan balik yang lebih cepat dan eksplosif, terutama dengan memanfaatkan pemain sayap yang cepat. Apalagi, gelandang Spanyol dikenal memiliki visi yang luar biasa, kemampuan membaca permainan, dan teknik tinggi untuk melepaskan umpan kunci.
Dan di bawah komando Lionel Scaloni, gaya permainan Timnas Argentina sangat cair, mengkombinasikan pertahanan rapat (seperti formasi 5-3-2 atau 4-4-2), fleksibilitas taktik untuk mendominasi penguasaan bola, serta penggunaan formasi box midfield di lini tengah. Fokus utamanya adalah menciptakan keunggulan jumlah pemain dan memaksimalkan peran magis Lionel Messi di lini serang.
Bek-bek Solid
Scaloni membangun tim yang sangat tangguh dalam bertahan. Lini belakang diisi oleh bek-bek solid seperti Cristian Romero dan Lisandro Martínez, sementara Emiliano Martínez tampil sebagai dinding tepercaya di bawah mistar gawang. Dan ketika membangun serangan, Argentina sering menerapkan formasi gelandang kotak (box midfield) dengan turunnya pemain seperti Alexis Mac Allister untuk membantu sirkulasi bola.
Ini memungkinkan bek tengah leluasa mengalirkan bola ke depan. Pergerakan gelandang seperti Rodrigo De Paul dan Enzo Fernández dirancang untuk memecah konsentrasi lawan. Dengan menarik pemain lawan dari posisinya, ruang terbuka di lini pertahanan lawan dapat dieksploitasi dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh Messi.
Argentina Balikkan keadaan
Sementara Timnas Argentina, kata Umar yang memastikan tiket ke final setelah bangkit mengalahkan Inggris 2-1 pada semifinal di Atlanta. Sempat tertinggal akibat gol Anthony Gordon pada menit ke-55, juara bertahan itu membalikkan keadaan lewat gol Enzo Fernandez pada menit ke-85 dan sundulan Lautaro Martinez pada menit ke-90+2.
Lionel Messi kembali menjadi pembeda. Kapten Argentina tersebut menyumbang dua assist, masing-masing untuk Fernandez dan Martinez, sehingga membawa La Albiceleste melaju ke final Piala Dunia untuk kedua edisi secara beruntun.
La Roja tampil dominan sepanjang pertandingan semifinal di Arlington, Texas. Mikel Oyarzabal membuka keunggulan sebelum Pedro Porro memastikan kemenangan tim asuhan Luis de la Fuente. Hasil itu mengantarkan Spanyol kembali ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak menjuarai turnamen pada edisi 2010. nespn/ssp/usp
Editor : Redaksi