SURABAYAPAGI.com - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan karakter geografis kawasan Selingkar Wilis dan Lereng Lawu membuat pengembangan industri manufaktur berat tidak menjadi pilihan utama.
SURABAYAPAGI - Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan karakter geografis kawasan Selingkar Wilis dan Lereng Lawu membuat pengembangan industri manufaktur berat tidak menjadi pilihan utama. UNTUK itu menurutnya pariwisata, agroforestri, dan ekonomi kreatif justru yang paling logis bagi daerah tersebut.
“Kawasan Selingkar Wilis dan Lereng Lawu tidak cocok digunakan untuk industri besar maupun persawahan sekalipun karena konturnya pegunungan. Pariwisata, Agroforestri, dan Ekraf yang bisa mengungkit potensi ekonomi,” ujar Emil dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/8/2026).
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pemerintah siap mendukung pengembangan potensi ekonomi kreatif di Pawitandirogo, termasuk dari sisi pendanaan, pasar, dan kekayaan intelektual.
“Pawitandirogo ini mempunyai potensi ekraf yang luar biasa, terutama kekayaan budaya sebagai hulu industri. Kemenekraf siap memfasilitasi akses pendanaan, pasar, dan kekayaan intelektual melalui aktivasi Desa Kreatif dan Creative Hub,” ujarnya.
Untuk membangun satu ekosistem ekonomi, masing-masing daerah nantinya memiliki peran yang berbeda. Ngawi diarahkan menjadi Northern Gateway dengan fokus pada agrobisnis, logistik, dan industri pengolahan.
Magetan akan berperan sebagai Specialty Production yang ditopang sektor pariwisata dan hortikultura. Sementara Kota dan Kabupaten Madiun diproyeksikan menjadi Industrial & Service Core, sekaligus menjadi pusat perdagangan, logistik, dan talenta.
Ponorogo akan dikembangkan sebagai basis Agro & Production dengan fokus pada pariwisata budaya, pertanian, dan industri kreatif. Adapun Pacitan akan mengambil peran sebagai Southern Value-Addition dengan mengandalkan pariwisata bahari, perikanan, dan logistik jalur selatan.
Dengan pembagian tersebut, Pawitandirogo tidak diarahkan menjadi kumpulan kawasan industri yang memiliki fungsi seragam. Sebaliknya, enam daerah tersebut akan dihubungkan dalam satu rantai ekonomi dengan spesialisasi masing-masing.
Salah satu infrastruktur yang dipandang penting untuk menghubungkan kawasan tersebut adalah jalur kereta api Madiun-Slahung, Ponorogo. Pemerintah mendorong percepatan reaktivasi jalur tersebut untuk memperkuat konektivitas sekaligus memangkas biaya logistik.
Deputi Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Nazib Faizal mengatakan anggaran untuk reaktivasi jalur tersebut telah disiapkan. “Anggaran untuk reaktivasi jalur ini sudah disiapkan, semoga tidak lama lagi bisa segera dijalankan,” kata Nazib. sb/rko/dna
Editor : Redaksi