SURABAYAPAGI.com, Batu - Sebagai upaya menekan risiko penularan, mengingat kontak erat memiliki kemungkinan lebih tinggi terpapar bakteri Tuberkulosis (TBC), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mendorong penguatan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC aktif. Melalui TPT, risiko berkembangnya infeksi menjadi penyakit TBC diharapkan dapat ditekan.
"Kontak erat sering ketemu pasien TBC aktif, risiko tertularnya kan tinggi. Dengan Terapi Pencegahan Tuberkulosis ini, kontak erat pun memiliki kekebalan tidak tertular," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Aditya Prasaja, Selasa (27/10/2026).
Selain pencegahan, dr. Aditya juga menyoroti risiko resistensi obat akibat ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan TBC. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika pasien menghentikan pengobatan sebelum menyelesaikan regimen yang telah ditentukan. Selain itu, bagi pasien yang awalnya menjalani pengobatan dengan regimen obat sensitif atau standar (SO), tetapi kemudian putus pengobatan, berisiko mengalami resistensi bakteri.
Bakteri yang tidak sepenuhnya mati dapat berkembang dengan kemampuan bertahan terhadap obat yang sebelumnya diberikan. Dr. Aditya mengibaratkan kondisi tersebut seperti penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan hingga memicu kekebalan bakteri terhadap obat. Karena itu, kepatuhan menjalani pengobatan menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanganan TBC.
Menurutnya, kasus resistensi obat memiliki penanganan yang beragam bergantung pada kondisi klinis pasien. Sehingga, Dinkes Kota Batu terus mendorong masyarakat, khususnya kontak erat pasien TBC, untuk mengikuti pemeriksaan dan terapi pencegahan sesuai anjuran. Kepatuhan menjalani pengobatan hingga tuntas juga menjadi bagian penting dalam mencegah munculnya resistensi obat TBC.
"Jenis regimen dan lama pengobatan perlu disesuaikan berdasarkan hasil pemeriksaan serta evaluasi tenaga kesehatan," terang dr. Aditya. bt-01/dsy
Editor : Redaksi